“Telaga Rano malam itu tampak tenang. Angin dari pesisir Desa Sasur berembus pelan, membawa bau laut dan suara percakapan yang ditahan setengah lirih. Di bawah layar putih sederhana yang dipasang menghadap kampung, warga Wayoli dan Sahu duduk bersisian menonton sebuah film tentang tanah yang perlahan hilang dari pemiliknya sendiri“
Di pesisir Desa Sasur, ketika cahaya senja jatuh pelan di permukaan Telaga Rano, laut tidak hanya membawa bunyi ombak. Ia juga membawa orang-orang yang datang dengan tikar lipat, termos kopi, dan rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya tenang.
Di halaman kampung yang disulap sederhana menjadi ruang pertunjukan, layar putih berdiri di antara percakapan yang belum selesai. Malam itu, Sasur tidak sekadar menjadi lokasi pemutaran film dokumenter. Ia berubah menjadi semacam ruang rapat terbuka. Tempat warga Suku Wayoli dan Suku Sahu menimbang ulang masa depan tanah yang mereka pijak.
Acara itu diberi nama Diskusi “Barang Panas di Telaga Rano” dan nonton bareng film dokumenter Pig Party (Pesta Babi) karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Di atas kertas, ini hanya forum diskusi dan pemutaran film. Namun di bawahnya, ada sesuatu yang lebih tegang, yakni kegelisahan tentang proyek geothermal yang perlahan masuk ke wilayah hutan adat Halmahera Barat.
Ratusan warga tercatat hadir malam itu. Mereka duduk bersisian tanpa sekat formal. Tidak ada podium yang tinggi, tidak ada jarak antara pembicara dan pendengar. Yang ada hanya layar, suara film, dan cerita yang terasa terlalu dekat untuk disebut fiksi.
Lima anak muda dan satu ruang yang dibuka
Di balik forum itu, ada lima nama yang bergerak hampir tanpa sorotan. Mereka antara lain, President Laef, Andrew, Brigit, Shanen, dan Felix. Mereka bukan bagian dari struktur formal pemerintahan, juga bukan tokoh adat yang biasa tampil di forum-forum besar. Tetapi justru dari ruang yang tidak resmi itulah diskusi ini lahir.
President Laef menjadi salah satu penggerak yang paling konsisten. Ia tidak banyak bicara, tetapi cara ia membaca situasi membuat isu geothermal tidak berhenti sebagai wacana teknis.
Andrew bergerak di jalur yang berbeda, dari rumah ke rumah. Ia memastikan warga datang, bukan sebagai penonton pasif, tetapi sebagai bagian dari percakapan yang harus mereka miliki sendiri. Bagi Andrew, yang penting bukan siapa yang paling benar, melainkan siapa yang masih punya ruang untuk didengar.
Brigit membawa dimensi lain, perempuan. Ia menempatkan diri di garis depan pengorganisasian forum. Dalam pandangannya, pembicaraan tentang hutan tidak bisa dilepaskan dari perempuan yang sehari-hari menjaga air, pangan, dan kehidupan keluarga di kampung.
Shanen lebih reflektif. Ia mengurai bahasa pembangunan yang sering terdengar netral, tetapi dalam praktiknya bisa menjadi alat yang menggeser ruang hidup masyarakat adat. “Barang Panas” baginya bukan sekadar proyek energi, melainkan pertarungan tafsir tentang masa depan tanah.
Felix menjadi penghubung yang menjaga semuanya tetap berjalan yakni dari teknis pemutaran film hingga ritme diskusi yang kadang melebar ke mana-mana. Ia memastikan forum itu tetap hidup, tidak sekadar formalitas.
Namun di atas semua itu, ada dua nama yang membuat malam di Sasur mungkin terjadi. Siapa lagi kalau bukan Agnes Kuadang dan Dwi Salatu. Dua perempuan adat Wayoli ini membuka rumah dan kampung mereka sebagai ruang pertemuan.
Di tengah meningkatnya sensitivitas isu geothermal, keputusan itu bukan hal kecil. Tetapi bagi mereka, ruang bicara masyarakat adat tidak boleh ditutup oleh rasa takut.
“Tanah ini bukan hanya hutan biasa. Ini tempat hidup kami,” ujar seorang warga dalam diskusi malam itu.
Film dari Papua, cermin dari Halmahera
Ketika Pig Party mulai diputar, suasana kampung mendadak berubah. Suara obrolan meredup. Di layar, cerita dari Papua mengalir, tentang masyarakat adat yang berhadapan dengan proyek besar negara, tentang kapal yang membawa alat berat, tentang kehadiran aparat, dan tentang perubahan lanskap yang datang tanpa banyak persetujuan.
Cerita tentang hutan yang berubah menjadi perkebunan industri, tanah adat yang dipasangi papan bertuliskan “Harta milik TNI”, hingga gerakan perlawanan Palang Merah masyarakat adat Papua, memantul kuat di wajah-wajah warga yang menonton malam itu.
Adegan-adegan itu tidak terasa jauh. Kisah Yasinta Moiwend dari Merauke, yang menyaksikan eskavator dan militer masuk ke kampungnya, seperti memantulkan bayangan yang sama di Telaga Rano.
Warga Sasur menonton dalam diam. Beberapa menunduk, beberapa saling pandang. Film itu tidak sedang menceritakan masa lalu orang lain. Ia seperti membuka kemungkinan masa depan mereka sendiri.
Di layar, hutan berubah menjadi perkebunan industri. Di luar layar, di Halmahera Barat, hutan adat juga sedang dipetakan dalam bahasa baru. Ya, investasi, energi, transisi.
Di antara keduanya, batas antara cerita dan kenyataan menjadi kabur.
Bagi masyarakat Sasur, film itu seperti cermin masa depan yang sedang mengetuk pintu mereka.
Di balik tenangnya Telaga Rano, masyarakat adat Suku Sahu dan Wayoli kini menghadapi kegelisahan yang sama: apakah pembangunan akan datang dengan penghormatan, atau justru mengambil ruang hidup mereka atas nama investasi dan transisi energi.
Diskusi “Barang Panas di Telaga Rano” akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum biasa. Ia berubah menjadi ruang kesadaran kolektif bahwa pembangunan tidak boleh berdiri di atas hilangnya identitas, hutan, dan hak masyarakat adat.
Geothermal dan pertanyaan yang belum selesai
Di Telaga Rano, kata “geothermal” tidak lagi terdengar seperti istilah teknis dari dokumen kebijakan. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih konkret, kemungkinan masuknya alat berat, perubahan lanskap hutan, dan pergeseran cara hidup masyarakat adat.
Diskusi malam itu tidak menawarkan jawaban final. Ia justru membuka lebih banyak pertanyaan, siapa yang berhak menentukan masa depan tanah adat? Apa arti pembangunan jika ia datang dengan mengubah ruang hidup yang sudah dijaga turun-temurun?
Bagi sebagian warga, pembangunan adalah janji. Namun bagi yang lain, ia adalah sesuatu yang harus diawasi dengan hati-hati.
Malam yang belum selesai
Ketika layar akhirnya dimatikan, forum resmi sudah berakhir. Tetapi percakapan tidak ikut selesai. Di sudut-sudut kampung, warga masih berbicara pelan tentang tanah, tentang hutan, tentang Telaga Rano yang airnya tetap tenang, seolah tidak sedang menyimpan kegelisahan manusia di sekitarnya.
Malam semakin larut, tetapi Sasur tidak benar-benar sunyi.
Sebab bagi masyarakat Wayoli dan Sahu, ancaman tidak selalu datang dengan suara keras. Ia bisa datang perlahan, dibungkus bahasa pembangunan, lalu masuk diam-diam ke ruang hidup yang selama ini mereka anggap pasti.
Dan malam itu, di bawah layar putih sederhana, mereka belajar satu hal bahwa cerita tentang hutan bukan hanya tentang masa lalu yang dijaga, tetapi juga tentang masa depan yang masih diperebutkan. (*)
Tiklas Pileser Babua (Penulis)
Redaksi Haliyora