Sopir Truk di Morotai Ancam Aksi Besar Jika Harga Dexlite Tak Turun

Daruba, Maluku Utara – Puluhan sopir dump truk yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat (DPC Organda) Pulau Morotai menggelar aksi damai di pusat Kota Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Senin (11/5/2026).

Aksi dilakukan dengan konvoi kendaraan di sejumlah ruas jalan utama kota. Para sopir memprotes tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite serta kelangkaan solar subsidi yang disebut telah berlangsung selama tiga tahun terakhir.

Usai konvoi, massa melanjutkan aksi dengan menggelar hearing bersama DPRD dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menekan biaya operasional angkutan umum yang terus meningkat akibat kenaikan harga BBM.

Ketua DPC Organda Pulau Morotai, Arsil Nyong, mengatakan harga Dexlite saat ini mencapai Rp 26.700 per liter, naik signifikan dibanding sebelumnya sekitar Rp 14.500 per liter.

Menurut dia, lonjakan harga tersebut membuat para sopir angkutan umum kesulitan memperoleh keuntungan karena pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional kendaraan.

“Kami meminta adanya penyatuan harga BBM. Kalau harga tetap Rp 26.700 per liter, maka sopir hanya merugi,” kata Arsil kepada wartawan, Senin.

Selain mempersoalkan harga Dexlite, Organda juga mendesak pemerintah daerah dan DPRD agar memfasilitasi penyampaian rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terkait kuota solar subsidi di Pulau Morotai.

Arsil menyebut solar subsidi sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas kendaraan angkutan umum yang setiap hari melayani masyarakat.

Ia juga menyampaikan ultimatum kepada pemerintah daerah dan DPRD. Jika tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti dalam tujuh hari, Organda mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan skala lebih besar melibatkan pengurus tingkat kabupaten hingga provinsi.

“Aksi berikut akan lebih besar jika tuntutan kami tidak diakomodir dalam tujuh hari,” ujar dia.

Organda berharap distribusi solar subsidi di Pulau Morotai dapat segera dipulihkan setelah mengalami kelangkaan selama tiga tahun terakhir.

Selain itu, mereka meminta pemerintah daerah memberikan subsidi untuk BBM Dexlite apabila harga tetap tinggi agar layanan transportasi masyarakat tidak terganggu. (RF/Red)

Duel Saat Pesta Miras di Halut Berujung Maut, Satu Pria Tewas Ditikam

Tobelo, Maluku Utara – Pesta minuman keras (miras) di Desa Leleoto, Kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), berakhir tragis. Seorang pria berinisial YP tewas setelah ditikam rekannya sendiri berinisial EM.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada Minggu (10/5/2026). Pelaku kini telah diamankan aparat Polsek Tobelo Selatan untuk menjalani pemeriksaan.

Kapolsek Tobelo Selatan IPTU Deny Salaka mengatakan, pelaku ditangkap tak lama setelah kejadian usai polisi menerima laporan masyarakat terkait lokasi persembunyiannya.

“Anggota langsung bergerak ke lokasi dan berhasil mengamankan pelaku yang bersembunyi di sebuah rumah kosong,” kata Deny, Minggu.

Saat ditangkap, pelaku disebut bersembunyi di balik tumpukan seng bekas. Polisi juga masih memburu barang bukti berupa senjata tajam yang diduga dipakai menikam korban.

Pelabuhan Ahmad Yani Ternate Bukukan 15.543 TEUs, Distribusi Tol Laut Jadi Faktor

Ternate, Maluku Utara – Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Maluku Utara, pada triwulan I tahun 2026 mencapai 15.543 twenty-foot equivalent units (TEUs). Realisasi tersebut setara 96 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar 16.180 TEUs.

Terminal Head TPK Ternate, Anwar Pae, mengatakan capaian arus peti kemas pada awal tahun ini memang belum memenuhi target perusahaan yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Aktivitas bongkar muat peti kemas di triwulan I tahun 2026 ini kami hanya mencapai 96 persen dari RKAP. RKAP kami itu seharusnya 16.180 TEUs, tapi kami hanya mencapai 15.543 TEUs. Itu target triwulan I dan capaiannya,” kata Anwar saat diwawancarai di Kantor Pelindo Ternate, Senin (11/5/2026).

Meski belum mencapai target, Anwar menyebut realisasi arus peti kemas pada triwulan I tahun 2026 tetap menunjukkan tren pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tapi jika dibandingkan dengan triwulan I 2025, maka di triwulan I tahun 2026 kami ada kenaikan sekitar 4 persen,” ujar Anwar.

Kelangkaan Solar Picu Demo Sopir Truk di Sofifi, Wagub Malut Akui Distribusi Bermasalah

Sofifi, Maluku Utara – Ratusan sopir truk yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Lintas Halmahera (ASLH), DPD Organda Sofifi, dan Kerukunan Sopir Lintas (KSL) Maluku Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur dan DPRD Maluku Utara, Senin (11/5/2026). Mereka memprotes kelangkaan solar yang dinilai mengganggu aktivitas transportasi dan distribusi barang di wilayah Halmahera.

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, menemui massa aksi dan melakukan hearing di depan Kantor DPRD Maluku Utara. Dalam pertemuan itu, Sarbin mengaku terus berkoordinasi dengan pihak Pertamina terkait distribusi bahan bakar minyak di daerah tersebut.

“Kalau ada yang menyampaikan ada oknum yang melakukan penimbunan, tolong disampaikan secara tertulis,” kata Sarbin di hadapan massa aksi.

Ia menegaskan, dugaan penimbunan BBM merupakan persoalan serius karena berdampak langsung terhadap hak masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, siap menindaklanjuti laporan apabila disertai data dan bukti yang jelas.

Menurut Sarbin, persoalan minyak dan kelangkaan BBM bukan masalah baru, baik di Indonesia maupun di Maluku Utara. Ia mengatakan pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam menentukan kebijakan harga BBM karena hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Ada dua hal yang disampaikan tadi, terkait kenaikan harga dan dugaan oknum. Itu yang akan kami bahas bersama Pertamina hari ini,” ujarnya.

Kejati Malut Gandeng BSI Perkuat Penanganan Hukum Perdata dan TUN

Ternate, Maluku Utara – Kejaksaan Tinggi Maluku Utara (Malut) bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait penanganan masalah hukum bidang perdata dan tata usaha negara serta pelayanan perbankan, Senin (11/5/2026).

Penandatanganan kerja sama itu berlangsung di Gamalama Ballroom Hotel Dafam Ternate dan dihadiri jajaran Kejati Maluku Utara serta pihak BSI Regional Office Makassar.

Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, Sufari, mengatakan kejaksaan tidak hanya memiliki fungsi penindakan pidana, tetapi juga kewenangan di bidang perdata dan tata usaha negara sebagaimana diatur dalam Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2024 tentang Kejaksaan.

“Dalam ketentuan tersebut ditegaskan bahwa di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan dengan surat kuasa khusus dapat bertindak di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara maupun pemerintah,” kata Sufari.

Ia menjelaskan, tugas dan fungsi bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) juga diatur dalam Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Pelayanan Hukum dan Tindakan Hukum Lain.

Menurut dia, melalui kewenangan tersebut, Jaksa Pengacara Negara dapat memberikan bantuan hukum, pertimbangan hukum, pelayanan hukum, penegakan hukum hingga tindakan hukum lain kepada negara, lembaga pemerintah, maupun badan usaha tertentu, termasuk lembaga keuangan seperti BSI.

Sufari mengatakan, kerja sama itu bertujuan mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi para pihak di bidang perdata dan tata usaha negara sekaligus meningkatkan koordinasi dan efektivitas pelaksanaan tugas masing-masing.

Ia menambahkan, sinergi dengan lembaga perbankan diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan keuangan negara serta mencegah terjadinya persoalan hukum.

“Kalau ada hal-hal yang mengganggu pengelolaan uang negara, tentu diharapkan dapat segera dilaporkan. Kami ingin membangun sinergitas yang baik agar tidak mengganggu pelaksanaan keuangan negara melalui BSI,” ujarnya.

Ratusan Sopir Truk Geruduk DPRD Malut, Protes Kelangkaan Solar Subsidi Sejak 2024

Sofifi, Maluku Utara – Ratusan sopir truk yang tergabung dalam Asosiasi Supir Lintas Halmahera (ASLH), DPA Organda Sofifi, dan Kerukunan Sopir Lintas (KSL) Maluku Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Maluku Utara, Senin (11/5/2026). Mereka memprotes kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi yang dinilai telah berlangsung lama dan merugikan masyarakat, khususnya pelaku transportasi angkutan.

Massa aksi datang menggunakan sejumlah truk sambil membawa spanduk bertuliskan, “Subsidi untuk rakyat, bukan untuk pejabat.” Dalam aksi tersebut, demonstran juga membakar ban bekas di depan gerbang DPRD Maluku Utara dan sempat mendorong pagar sebelum akhirnya masuk ke halaman kantor dewan dengan pengawalan aparat keamanan.

Koordinator lapangan aksi, Lutfi, menilai pemerintah daerah dan DPRD Maluku Utara belum serius menangani persoalan distribusi solar subsidi yang terus terjadi di wilayah itu.

“Ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku Utara harus bertanggung jawab atas kelangkaan solar yang sudah terjadi sangat lama,” kata Lutfi saat berorasi dari atas mobil komando.

Para sopir mendesak pemerintah daerah bersama DPRD segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan BBM subsidi. Mereka mengaku kesulitan memperoleh solar dengan harga resmi subsidi sebesar Rp 6.800 per liter karena harga di tingkat pengecer melonjak hingga Rp 18 ribu per liter.

Sofifi Halmahera Metropolitan: Jejak Visi dan Janji Politik yang Terlupakan

Bacarita berlangsung di Resto Pondok Katu, Kalumpang, Ternate, ditemani Kapita Waykiyowon Muzakir Dodaraga yang akrab disapa Jek, mantan anggota DPRD Kota Ternate dua periode. Di meja sederhana itu, percakapan tentang Maluku Utara mengalir ditemani ikan bakar tude. Tude adalah ikan kecil yang lincah, bergerak cepat menelusuri laut dan pulau. 

Ia seperti metafora Maluku Utara: kecil dalam ukuran, tetapi hidup dalam mobilitas antarpulau; sederhana di meja makan, tetapi menyimpan cerita besar tentang laut, pangan, rakyat, dan gugus kepulauan yang kita kenal sebagai Kie Raha, dan secara nasional sering disebut sebagai bagian dari Nusantara.

Bacarita santai itu mengantar saya pada catatan pendek tentang Maluku Utara. Saya memilih menulisnya secara terbuka di ruang publik, bukan menyimpannya sebagai bahan komunikasi tertutup untuk konsumsi elite kekuasaan.

Bila tulisan ini dibutuhkan Bung Semuel Samson dalam kerja sebagai staf khusus gubernur, maka biarlah ia sekaligus menjadi bahan bacarita publik. Urusan pembangunan Maluku Utara bukan urusan bisik-bisik kekuasaan. Ia harus menjadi percakapan terbuka yang dapat diuji, dibantah, dikoreksi, dan diperkaya oleh siapa saja yang peduli pada masa depan daerah ini.

Nyaris dua tahun kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda Laos, kita menemukan dua bentuk pertumbuhan yang sama-sama tinggi, tetapi sama-sama menyimpan pertanyaan. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh hilirisasi nikel. Pertumbuhan ini memperbesar angka ekonomi daerah, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan warga Maluku Utara. Bahkan ada kesan kuat bahwa hilirisasi lebih memperkaya jejaring industri global, terutama kekuatan modal dan pasar luar, sementara masyarakat lokal masih berhadapan dengan ketimpangan, tekanan harga, hilangnya aset, dan keterbatasan akses kerja bermutu. 

Kedua, pertumbuhan media sosial gubernur yang memperkaya popularitas politik, tetapi belum otomatis menjawab ketimpangan pembangunan. Musik TikTok bisa membuat wajah kekuasaan tampak dekat, tetapi data BPS dan realitas pulau kecil tetap menagih jawaban yang lebih serius.

Dua isu ini menjadi pintu masuk percakapan yang diantarkan Bung Semuel Samson: bagaimana mencari ulang jejak visi yang tertinggal dari janji politik; bagaimana menemukan kembali arah pembangunan yang nyaris tenggelam di antara statistik pertumbuhan, seremoni pemerintahan, dan gegap gempita media sosial. 

Maluku Utara tidak cukup dikelola dengan citra. Daerah ini memerlukan arah. Citra bisa viral satu malam, tetapi ketimpangan bisa tinggal puluhan tahun. Di situlah gagasan Sofifi Halmahera Metropolitan perlu ditarik kembali ke ruang publik.

Gagasan Sofifi Halmahera Metropolitan lahir dari hasil mawi, semacam pembacaan dan perkiraan atas dinamika pembangunan Maluku Utara. Provinsi ini pernah meraih dua predikat penting: pertumbuhan ekonomi tertinggi dan indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Keduanya muncul pada masa kepemimpinan Abdul Gani Kasuba. 

Dalam pengertian politik pembangunan, Abdul Gani Kasuba mencatat dua branding kepemimpinan: sebagai bapak pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dan sebagai bapak kebahagiaan tertinggi. Tentu branding semacam ini dapat diperdebatkan. Namun dalam politik, persepsi publik sering menjadi mata uang yang tidak kalah kuat dibanding dokumen perencanaan.

Dari situ muncul pertanyaan berikutnya: bila Thaib Armayin dikenang melalui gagasan Dari Desa Membangun Maluku Utara dan figur Bapak Perdamaian, lalu Abdul Gani Kasuba dikenang melalui pertumbuhan ekonomi dan indeks kebahagiaan, maka kepemimpinan berikutnya harus meninggalkan legacy apa? 

Pertanyaan ini penting karena pembangunan daerah tidak boleh hanya berjalan sebagai kelanjutan administratif dari satu periode ke periode berikutnya. Setiap kepemimpinan harus meninggalkan jejak, bukan sekadar foto baliho yang pudar setelah hujan politik selesai.

Data, fakta, dan fenomena menjadi bahan bacarita berhari-hari, bahkan hingga menjelang subuh. Percakapan itu mencoba mencari titik temu antara ambisi kuasa politik melalui Pilkada dan janji politik sebagai komoditas branding yang dijual kepada pasar elektoral. Pasar elektoral Maluku Utara bukan pasar biasa. Ia tersebar di 69 pulau berpenghuni, dengan populasi sekitar 1,3 juta jiwa, dalam ruang administrasi provinsi yang dipisahkan oleh laut, sejarah, etnis, agama, dan pengalaman pembangunan yang tidak sama.

Dalam Pilkada 2024, Benny Laos dan Sarbin Sehe menawarkan komoditas politik yang berbeda dari banyak diskursus tentang Sofifi. Sebagian kompetitor menjadikan Daerah Otonomi Baru sebagai bahan jualan politik. Ada pula yang mengemas Sofifi sebagai Kawasan Khusus, seolah menjadi produk baru yang dilempar ke pasar elektoral. 

Kedua gagasan itu bertumpu pada regulasi dan kewenangan pusat. Artinya, daerah dapat mendorong, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Jakarta. Di sinilah Benny-Sarbin mencoba mengambil jalur berbeda: bukan sekadar memperdebatkan status Sofifi, tetapi membangun imajinasi tentang fungsi Sofifi sebagai pusat masa depan Maluku Utara.

Benny-Sarbin membaca jejak kepemimpinan masa lalu. Thaib Armayin membangun narasi dari desa dan perdamaian. Abdul Gani Kasuba meninggalkan narasi pertumbuhan ekonomi dan kebahagiaan. Maka kepemimpinan berikutnya perlu memiliki legacy yang lebih menyatukan: menjadikan Sofifi sebagai pusat peradaban baru Kie Raha. Gagasan ini tidak lahir hanya dari keinginan membangun kota. Ia lahir dari kebutuhan untuk merangkai ulang Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan yang pernah mengalami keretakan sosial akibat konflik 1999, lalu memasuki era hilirisasi dengan ketimpangan baru.

Benny-Sarbin mengajak masyarakat membayangkan kembali Kie Raha sebagai rumah bersama. Konflik 1999 meninggalkan luka sosial yang panjang. Ia tidak hanya meninggalkan cerita tentang kekerasan, tetapi juga mengubah pola interaksi dan permukiman. 

Dalam beberapa tempat, masyarakat cenderung hidup dalam ruang yang lebih homogen berdasarkan agama, etnis, atau asal-usul sosial. Pola kampung agama dan kampung subetnis tidak selalu tampak sebagai konflik terbuka, tetapi dapat menyimpan jarak sosial. Jarak itu berbahaya bila tidak diatasi dengan desain perjumpaan yang sehat.

Di sinilah simbol Bapak Perdamaian akan abadi bila perdamaian tidak berhenti sebagai memori politik, tetapi diterjemahkan ke dalam struktur sosial yang terus mempertemukan basudara Kie Raha. Perdamaian tidak cukup dijaga dengan slogan. Perdamaian harus dibangun melalui sekolah yang mempertemukan anak-anak dari latar berbeda, permukiman yang tidak tersegregasi, pasar yang hidup lintas komunitas, ruang publik yang aman, dan kota yang memberi pengalaman hidup bersama. Keberagaman bukan beban.

Dalam banyak studi pembangunan, masyarakat yang plural, bila dikelola dengan institusi yang baik, justru dapat menjadi sumber kreativitas, inovasi, dan percepatan pembangunan.

Sofifi dapat menjadi ruang itu. Ia dapat dirancang sebagai kota keberagaman Kie Raha: kota yang mengatasi pola pemukiman berbasis agama dan subetnis melalui satu kampung besar keberagaman. Sofifi harus menjadi tempat orang Ternate, Tidore, Halmahera, Morotai, Bacan, Sula, Taliabu, Makian, Kayoa, Obi, Patani, Weda, Maba, Tobelo, Galela, Gane, dan seluruh gugus pulau merasa memiliki rumah bersama. Bukan kota milik satu kelompok. Bukan pula kota kantor yang hanya hidup saat jam birokrasi. Sofifi harus menjadi pusat peradaban Kie Raha.

Benny-Sarbin juga tidak sekadar membaca data statistik yang mengumbar pertumbuhan tinggi dan indeks kebahagiaan. Mereka mencoba mencerna fenomena pembangunan dalam ruang publik yang nyata. Hilirisasi memang membuat Maluku Utara seolah melompat besar dari daerah agraris menjadi daerah industri. Di atas kertas, perubahan itu tampak seperti kisah sukses. Industri pengolahan tumbuh, pertambangan bergerak, produk domestik regional bruto naik, dan provinsi tampak menjadi bintang baru dalam ekonomi nasional. Tetapi bila dibaca dari kampung dan pulau kecil, muncul ilusi pembangunan yang nyata.

Ilusi itu terjadi karena pertumbuhan ekonomi dibaca berdasarkan administrasi kewilayahan, sementara manfaatnya tidak otomatis bergerak mengikuti sebaran warga. Mesin pertumbuhan ekonomi terpusat di Halmahera, sedangkan masyarakat Maluku Utara tersebar di pulau-pulau. Halmahera memang menjadi pusat industri dan pertambangan, tetapi tidak seluruh warga Maluku Utara tinggal di Halmahera. Dari 69 pulau berpenghuni, hanya beberapa pulau memiliki daya dukung layanan yang relatif kuat. Sebagian besar masyarakat hidup dalam keterpisahan laut, dengan akses logistik mahal, layanan dasar terbatas, dan mobilitas sosial yang sempit.

Dalam bacaan ini, faktor utama mengapa pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan merata oleh basudara Maluku Utara adalah karena struktur wilayahnya terpisah oleh laut. Pertumbuhan boleh saja dicatat sebagai capaian provinsi, tetapi warga mengalaminya melalui posisi geografis yang berbeda-beda. Mereka yang dekat dengan pusat industri dapat memperoleh akses lebih cepat terhadap peluang ekonomi. Mereka yang tinggal di pulau kecil tetap menghadapi biaya transportasi, harga barang, keterbatasan sekolah, layanan kesehatan, dan minimnya lapangan kerja. Statistik provinsi menyatukan angka, tetapi laut memisahkan pengalaman.

Dari sekitar 69 pulau berpenghuni, hanya tujuh pulau yang relatif memiliki kelayakan lebih kuat sebagai pusat layanan dan hunian utama, yaitu Halmahera, Morotai, Ternate, Tidore, Bacan, Sanana, dan Taliabu. Sementara itu, puluhan pulau lainnya menghadapi keterbatasan struktural. Bahkan terdapat sekitar 23 pulau dengan karakter satu desa satu pulau. Kondisi ini membuat pembangunan tidak bisa hanya dijalankan dengan logika membagi proyek secara merata. Merata di atas kertas belum tentu adil di lapangan. 

Kadang negara merasa sudah hadir karena membangun satu fasilitas, padahal fasilitas itu tidak cukup mengubah struktur keterisolasian.

Karena itu, Sofifi Halmahera Metropolitan menjadi gagasan strategis. Sofifi terletak di Halmahera, pulau terbesar yang menjadi pusat mesin pertumbuhan ekonomi baru. Di sekitarnya terdapat kawasan Lelilef di Halmahera Tengah, Maba di Halmahera Timur, dan Gosowong di Halmahera Utara sebagai pusat aktivitas pertambangan dan industri. Ternate tetap menjadi kota jasa dan perdagangan, sedangkan Halmahera Barat memiliki potensi sebagai kawasan pertanian dan pangan. Sofifi berada dalam posisi yang dapat mengikat semuanya: industri, jasa, perdagangan, pertanian, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan permukiman produktif.

Inilah alasan Sofifi disebut episentrum. Ia bukan sekadar titik administratif. Ia adalah pusat getaran yang dapat menggerakkan agenda pembangunan lain. Jika sembilan misi pembangunan Benny-Sarbin ingin diterjemahkan menjadi kebijakan, maka misi itu membutuhkan ruang pelaksanaan yang konkret. Sofifi Halmahera Metropolitan dapat menjadi ruang itu. Dari Sofifi, pemerintah dapat membangun pusat pendidikan vokasi untuk menjawab rendahnya kualitas sumber daya manusia. Dari Sofifi, layanan kesehatan regional dapat diperkuat. Dari Sofifi, logistik dan pangan lokal dapat diatur. Dari Sofifi, mobilitas penduduk usia produktif dari pulau kecil dapat difasilitasi secara sukarela dan manusiawi. Dari Sofifi, keberagaman Kie Raha dapat ditata dalam bentuk permukiman, ruang publik, sekolah, pasar, dan pusat kebudayaan.

Gagasan ini juga menjawab transformasi Maluku Utara dari daerah agraris ke daerah industri. Transformasi tersebut berlangsung cepat, tetapi kesiapan sumber daya manusia masih rendah. Struktur pendidikan penduduk yang masih didominasi lulusan pendidikan dasar dan menengah, terutama SMP, menunjukkan bahwa banyak warga belum siap masuk ke pasar kerja industri yang membutuhkan keterampilan, sertifikasi, disiplin kerja, dan penguasaan teknologi. Bila ini tidak dijawab, maka hilirisasi hanya akan memperbesar ekonomi daerah tanpa memperkuat manusia lokal. Tambang tumbuh di Maluku Utara, tetapi tenaga terampil datang dari luar. Ini bukan industrialisasi yang membebaskan; ini hanya perubahan lanskap ekonomi yang meninggalkan warga sebagai penonton.

Lebih jauh, hilirisasi juga membawa tekanan harga dan risiko hilangnya aset masyarakat. Tanah, kebun, ruang tangkap, akses ekologis, dan sumber penghidupan lama dapat bergeser atau hilang. Warga yang kehilangan aset tidak otomatis menjadi pekerja industri. Banyak yang justru masuk dalam kerentanan baru: kehilangan tanah, kehilangan pekerjaan lama, tetapi belum memiliki keterampilan untuk masuk ke pekerjaan baru. Jika pemerintah tidak hadir dengan desain perlindungan sosial, pelatihan, akses modal, dan tata ruang yang adil, maka hilirisasi dapat menciptakan kelas masyarakat yang tercerabut dari basis hidupnya sendiri.

Di sisi lain, efektivitas belanja pemerintah juga perlu dikritik. Belanja daerah seharusnya menjadi instrumen untuk mengoreksi ketimpangan yang ditinggalkan pasar dan industri. Tetapi bila APBD hanya menjadi rutinitas kegiatan, perjalanan dinas, proyek terpisah, dan belanja yang tidak produktif, maka pemerintah gagal memainkan fungsi redistribusi. 

Dalam konteks Maluku Utara, belanja pemerintah harus diarahkan untuk membangun manusia, memperkuat pangan, menurunkan biaya logistik, memperbaiki layanan pulau kecil, dan menjadikan Sofifi sebagai pusat pelayanan nyata. APBD tidak boleh menjadi mesin administrasi yang sibuk, tetapi tidak mengubah nasib rakyat.

Maka, ketika jejak visi Benny-Sarbin hari ini tampak mulai terlupakan, tulisan ini ingin menariknya kembali ke ruang publik. Bukan untuk romantisme Pilkada. Bukan pula untuk mengkultuskan tokoh. Benny Laos telah pergi dalam duka Taliabu. Duka itu menjadi luka politik dan kemanusiaan bagi banyak orang. Tetapi gagasan yang baik tidak boleh ikut dimakamkan. Sarbin Sehe, para pendukung, pemerintah hari ini, DPRD, akademisi, dan masyarakat sipil perlu membaca ulang substansi dari janji politik tersebut. Bila gagasan Sofifi Halmahera Metropolitan dapat menjawab masalah daerah, maka gagasan itu harus diselamatkan dari lupa.

Politik sering terlalu cepat melupakan janji. Setelah Pilkada selesai, janji sering berubah menjadi arsip. Padahal bagi rakyat, janji politik adalah kontrak moral. Warga yang didatangi di pulau-pulau, yang disapa di desa-desa, yang mendengar mimpi tentang masa depan Maluku Utara, berhak menagih arah. Mereka mungkin tidak membaca dokumen visi-misi secara lengkap, tetapi mereka mengingat harapan yang pernah dinyalakan. Dan harapan, bila terlalu lama diabaikan, bisa berubah menjadi sinisme. Ini berbahaya bagi demokrasi lokal.

Karena itu, Sofifi Halmahera Metropolitan harus ditulis ulang. Ia harus dibaca sebagai jejak visi dan janji politik yang terlupakan, tetapi masih relevan untuk masa depan Maluku Utara. Ia adalah gagasan yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan, hilirisasi dengan sumber daya manusia lokal, pulau kecil dengan pusat layanan, pascakonflik dengan keberagaman, dan ibu kota provinsi dengan peradaban Kie Raha. Ia bukan sekadar proyek kota. Ia adalah desain untuk menyusun ulang rumah bersama.

Pada akhirnya, Maluku Utara tidak boleh puas hanya menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan indeks kebahagiaan yang pernah dibanggakan. Maluku Utara harus bergerak menjadi provinsi yang adil, produktif, terhubung, dan manusiawi. Sofifi Halmahera Metropolitan menawarkan arah itu. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup dimulai dari angka, tetapi harus berakhir pada kehidupan rakyat. Ia mengingatkan bahwa ibu kota provinsi bukan hanya tempat gubernur berkantor, tetapi tempat masa depan dirancang. Ia juga mengingatkan bahwa janji politik yang baik tidak boleh hilang ditelan musik TikTok, statistik BPS, dan kesibukan kekuasaan yang kadang lebih pandai tampil daripada bekerja.

Sofifi adalah ruang yang belum selesai. Halmahera adalah medan konsolidasi. Kie Raha adalah jiwa sosialnya. Metropolitan adalah desain besarnya. Dan janji politik Benny-Sarbin adalah salah satu jejak yang perlu dibaca ulang, bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk menyelamatkan masa depan Maluku Utara. (*)

400 Warga Halbar Nobar Film Pesta Babi, Suarakan Penolakan Proyek Geothermal di Telaga Rano

Jailolo, Maluku Utara – Sekitar 400 warga Kabupaten Halmahera Barat menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dan diskusi geothermal bertajuk “Barang Panas di Telaga Rano” di kawasan Telaga Rano, Desa Sasur, Kecamatan Sahu Timur, Minggu malam (10/5).

Kegiatan itu diikuti masyarakat adat suku Wayoli dan suku Sahu, pemuda, mahasiswa, aktivis lingkungan, jurnalis, sosiolog, komunitas pecinta kopi D’pata, hingga warga dari sejumlah desa di sekitar Telaga Rano. Selain pemutaran film, agenda tersebut juga diisi dengan diskusi terbuka mengenai rencana pengembangan panas bumi di kawasan hutan adat.

Koordinator kegiatan, Tiklas Pileser Babua, mengatakan acara tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus konsolidasi masyarakat adat untuk mempertahankan wilayah hidup mereka dari ancaman investasi panas bumi.

Menurut Tiklas, melalui diskusi dan pemutaran film dokumenter karya Dandhy Laksono, itu masyarakat adat Suku Wayoli di Desa Sasur diharapkan tetap menjaga konsistensi perjuangan menolak aktivitas PT Ormat Geothermal Indonesia di kawasan Telaga Rano.

“Lewat diskusi dan nobar ini kami berharap masyarakat adat tetap menanamkan konsistensi perlawanan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi soal ruang hidup masyarakat adat,” kata Tiklas, kepada redaksi Haliyora.id, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, film dokumenter Pesta Babi menampilkan ketimpangan kepentingan negara terhadap kawasan hutan dan tanah adat di Papua Selatan, yang dinilainya memiliki kemiripan dengan situasi masyarakat adat Wayoli dan Sahu di Halmahera Barat.

Menurut dia, perjuangan masyarakat adat di Papua memiliki garis yang serupa dengan perjuangan masyarakat adat di kawasan Telaga Rano.

“Di Papua Selatan digambarkan bagaimana perlawanan masyarakat adat melalui simbol sasi salib dan unsur leluhur. Itu memiliki kemiripan dengan garis perjuangan masyarakat adat di wilayah Suku Wayoli dan Sahu,” ujarnya.

Curah Hujan Tinggi Picu Tantangan Lingkungan, PT FHT Perkuat Sistem Pengendalian Sedimen di Haltim

Haliyora.idCurah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, memicu tantangan lingkungan di kawasan industri, termasuk area operasional PT FHT. Kondisi cuaca ekstrem itu menyebabkan peningkatan aliran air limpasan serta sedimentasi di sejumlah titik perusahaan.

Sebagai langkah penanganan, PT FHT menerapkan serangkaian metode teknis terintegrasi guna meminimalkan dampak lingkungan sekaligus memperkuat sistem pengendalian sedimen di kawasan operasional perusahaan.

Berdasarkan laporan tindakan yang dirilis perusahaan, terdapat sedikitnya empat pendekatan utama yang kini dijalankan.

Langkah pertama dilakukan melalui stabilisasi lereng di area RKEF Selatan dan Koropon. Pada kawasan tersebut, perusahaan memasang geotekstil seluas 12.600 meter persegi untuk memperkuat struktur tanah sekaligus melindungi permukaan lereng dari erosi akibat tingginya debit air hujan.

“Metode geotekstil lazim digunakan pada proyek infrastruktur berskala besar karena dinilai efektif menekan laju erosi di area terbuka yang rawan longsor dan pengikisan,” kata Andreas Lakafin, pihak PT FHT, Senin (11/5/2026).

Selain itu, PT FHT juga memasang silt curtain di area jetty. Peralatan ini berfungsi sebagai penghalang sementara di perairan untuk memperlambat arus air serta membantu proses pengendapan partikel sedimen sebelum menyebar lebih luas ke wilayah sekitar.

Upaya lain dilakukan melalui penerapan sistem geotube di Muara Sungai Kukuba. Teknologi tersebut menggunakan tabung geotekstil berpori tinggi yang dirancang menyaring partikel sedimen, sementara air dengan kandungan padatan tersuspensi rendah dilepaskan secara bertahap ke lingkungan.

“Penerapan geotube dinilai menjadi solusi jangka menengah dalam mengendalikan sedimentasi yang meningkat akibat tingginya curah hujan di kawasan industri,” ujarnya.

Tidak hanya itu, perusahaan juga melakukan peningkatan kapasitas drainase dan kolam sedimen. Langkah tersebut dilakukan melalui pengerukan endapan lumpur yang selama ini mengurangi daya tampung kolam eksisting.

“PT FHT juga merencanakan penambahan jaringan drainase di sejumlah titik yang dinilai memiliki potensi tinggi terhadap aliran air limpasan saat hujan deras,” tandasnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, perusahaan diharapkan mampu menangani dampak lingkungan akibat cuaca ekstrem sekaligus membangun sistem pengendalian lingkungan yang lebih berkelanjutan di kawasan industri Halmahera Timur. (Riv)

Tiga Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, Operasi SAR Resmi Ditutup

Galela, Maluku Utara – Operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono resmi dihentikan setelah seluruh pendaki yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, mengatakan operasi SAR ditutup pada Minggu, 10 Mei 2026, usai tiga korban berhasil dievakuasi dari kawasan gunung api aktif di Kabupaten Halmahera Utara itu.

“Dengan telah ditemukannya seluruh korban, maka operasi SAR erupsi Gunung Dukono resmi ditutup,” kata Abdul dalam keterangan tertulis.

Tiga korban meninggal terdiri atas seorang pendaki asal Indonesia, Enjel Krisela Pradita, serta dua warga negara Singapura, Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid (27). Jenazah Enjel ditemukan lebih dahulu pada Sabtu, 9 Mei 2026. Sementara dua korban lainnya ditemukan sehari kemudian setelah tim SAR melakukan penyisiran lanjutan di sekitar lokasi erupsi.

Proses evakuasi berlangsung sulit karena kedua korban terakhir tertimbun material vulkanik dengan ketebalan cukup dalam. Aktivitas erupsi yang masih fluktuatif juga memaksa tim gabungan bekerja dengan pengamanan ekstra di tengah ancaman lontaran abu dan material pijar.

Sebanyak 98 personel SAR gabungan diterjunkan dan dibagi dalam empat regu pencarian. Tim terdiri atas Basarnas, BPBD Halmahera Utara, TNI AD, TNI AL, Polairud, Brimob, ERT Gosowong, PMI, serta warga setempat.

Dua pendaki selamat berinisial RS dan JA turut membantu pencarian dengan memberikan informasi mengenai jalur pendakian dan titik terakhir keberadaan para korban sebelum erupsi terjadi.

BNPB kembali menegaskan bahwa aktivitas pendakian di Gunung Dukono sebenarnya telah ditutup sejak 17 April 2026. Pemerintah meminta masyarakat, wisatawan, dan pengelola jasa pendakian mematuhi larangan aktivitas di kawasan rawan bencana guna mencegah jatuhnya korban serupa.

Pemerintah juga memastikan pengawasan di kawasan Gunung Dukono akan diperketat setelah insiden yang menewaskan tiga pendaki tersebut. (RR/Red)

Erupsi Dukono Masih Mengancam, Dua Pendaki Asing Dievakuasi dalam Kondisi Mengenaskan

Galela, Maluku Utara – Kabut tebal abu vulkanik masih menyelimuti lereng Gunung Dukono ketika tim SAR gabungan menembus jalur berbatu menuju titik pencarian. Di tengah dentuman erupsi yang terus berlangsung, dua jenazah akhirnya ditemukan. Kondisinya mengenaskan.

Kedua korban diduga merupakan warga negara asing asal Singapura yang sebelumnya dilaporkan hilang saat erupsi Gunung Dukono menerjang kawasan pendakian pada Jumat (8/5/2026). Jenazah keduanya kemudian dievakuasi menuju RSUD Tobelo untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut.

Kapolres Halmahera Utara, Erlichson Pasaribu, mengatakan proses identifikasi masih dilakukan guna memastikan identitas kedua korban.

“Jenazah sudah dibawa ke rumah sakit di Tobelo. Di sana akan dilakukan proses identifikasi terhadap penemuan mayat tersebut. Dari hasil itu nanti akan diketahui apakah korban sesuai dengan target pencarian, yakni dua warga negara Singapura,” ujar Kapolres.

Ia menjelaskan, proses identifikasi akan disesuaikan dengan fasilitas dan peralatan forensik yang tersedia di Maluku Utara. Jika diperlukan pemeriksaan lanjutan, pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan tim di Makassar.

“Proses identifikasi tergantung alat yang dipakai. Kalau alat tersebut tidak tersedia di Maluku Utara, maka kami akan berkoordinasi dengan pihak di Makassar,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, mengungkapkan kondisi jenazah mengalami kerusakan parah akibat hantaman material vulkanik saat erupsi terjadi.

“Jenazah saat ini masih berada di rumah sakit untuk diperiksa, karena kondisinya sudah tidak utuh lagi. Kemungkinan akan ada tindak lanjut melalui proses forensik untuk memastikan identifikasi korban,” katanya.

Menurut Piet, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara telah berkoordinasi dengan Polres dan Polda Maluku Utara terkait penanganan korban dan proses identifikasi lanjutan. “Kami sudah berkonsultasi dengan Polres dan Polda. Hari ini tim dari Polda juga akan turun, sehingga proses identifikasi sepenuhnya kami serahkan kepada pihak kepolisian,” ujarnya.

Di tengah operasi pencarian, erupsi Gunung Dukono dilaporkan masih terus terjadi. Dentuman dari kawah aktif membuat tim SAR harus beberapa kali menghentikan pergerakan sebelum akhirnya mendekati lokasi korban.

Kepala Kantor Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, menyebut proses evakuasi berlangsung sangat sulit karena material vulkanik terus dimuntahkan dari puncak gunung.

“Alhamdulillah hari ini pencarian membuahkan hasil sesuai prediksi dan keterangan para saksi. Korban diduga tertimpa material batu vulkanik,” ujar salah satu perwakilan Basarnas.

Ia mengatakan, tim SAR gabungan harus menunggu momen aman di tengah erupsi sebelum melakukan evakuasi terhadap para korban. “Evakuasi cukup sulit karena erupsi terus berlangsung, ditambah kondisi korban yang sangat mengenaskan,” pungkasnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kedua jenazah berhasil dibawa ke Posko Utama di Desa Mamuya sekitar pukul 18.30 WIT sebelum diberangkatkan menggunakan ambulans menuju RSUD Tobelo. Kondisi tubuh korban dilaporkan sudah tidak utuh akibat terjangan material vulkanik.

Sebelumnya, sebanyak 20 pendaki terjebak saat erupsi Gunung Dukono terjadi pada Jumat lalu. Dari jumlah tersebut, 17 orang berhasil selamat, sementara tiga lainnya dilaporkan hilang.

Tiga pendaki yang sempat dinyatakan hilang yakni Angel Krisela Pradita, warga Indonesia, serta dua warga negara Singapura bernama Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid (27).

Operasi pencarian mulai membuahkan hasil pada Sabtu (9/5), ketika Angel ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sehari kemudian, tim SAR kembali menemukan dua korban lainnya yang diduga merupakan pendaki asal Singapura. (RR/Red)

Pemkab Taliabu Siapkan Rp 2,4 Miliar untuk Perbaikan Jalan Bobong-Wayo

Bobong, Maluku Utara – Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mulai memproses proyek peningkatan infrastruktur jalan di wilayah Bobong dan Wayo pada tahun anggaran 2026. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,4 miliar untuk pekerjaan tersebut.

Kepala Dinas PUPR Pulau Taliabu Ahmad Tahir Tarauntu, ST mengatakan fokus pembangunan tahun ini diarahkan pada perbaikan dan peningkatan kualitas jalan di pusat ibu kota kabupaten, terutama pada jalur dengan tingkat aktivitas masyarakat yang tinggi.

“Saat ini, tahapan administratif sedang berjalan di Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Sekretariat Daerah,” ujar Ahmad melalui Kepala Dinas Kominfo Pulau Taliabu, Haruna Masuku, Minggu (10/5/2026).

Menurut Ahmad, sejumlah titik yang menjadi prioritas pekerjaan meliputi jalur dari bundaran Wayo menuju pertigaan Desa Talo. Selain itu, ruas jalan di depan Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang mengarah ke Bank BPD juga akan diperbaiki.

PUPR juga memasukkan akses jalan di depan Puskesmas Bobong dalam daftar penanganan tahun ini. “Target kami bulan ini pekerjaan fisik untuk peningkatan dan perbaikan jalan di Bobong dan Wayo sudah bisa mulai dilaksanakan di lapangan,” ujarnya.

Ia mengatakan seluruh dokumen pendukung proyek saat ini masih diproses oleh tim pengadaan. Proses tender, kata dia, tengah berlangsung di Bagian Pengadaan Barang dan Jasa untuk menentukan pelaksana proyek.

Pemerintah daerah optimistis pekerjaan tersebut dapat berjalan sesuai jadwal guna mendukung mobilitas masyarakat di pusat pemerintahan Kabupaten Pulau Taliabu.

Ahmad menambahkan total panjang jalan yang akan ditangani mencapai 900 meter. “Kami berharap peningkatan infrastruktur jalan di kawasan dapat mengurai hambatan transportasi di pusat pemerintahan, mengingat titik-titik yang dikerjakan merupakan jalur padat aktivitas ekonomi dan pelayanan kesehatan bagi warga setempat,” tandasnya. (RHM/Red)

Operasi SAR Pendaki Hilang di Gunung Dukono Diperluas, Tim Sisir Bibir Kawah

Tobelo, Maluku Utara – Operasi pencarian terhadap dua pendaki yang masih hilang akibat insiden erupsi Gunung Dukono, Kabupaten Halmahera Utara, kembali dilanjutkan pada hari ketiga, Minggu (10/5/2026). Sebanyak 150 personel gabungan diterjunkan untuk menyisir area di sekitar kawah gunung aktif tersebut.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan pencarian hari ini difokuskan di sekitar bibir kawah Gunung Dukono, lokasi terakhir para korban diduga terlihat sebelum terdampak erupsi.

“Tim SAR gabungan dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) sesuai rencana operasi SAR yang telah disusun. Area pencarian kurang lebih 1,25 kilometer dari titik terakhir korban terlihat, dengan berpatokan pada lokasi ditemukannya satu korban pada operasi SAR hari kedua,” ujar Iwan, Minggu (10/5/2026).

Ia menjelaskan, kondisi di lapangan masih cukup berbahaya karena aktivitas vulkanik Gunung Dukono belum stabil. Selain hujan abu, material vulkanik juga masih beberapa kali terlontar dari kawah, sehingga keselamatan personel menjadi prioritas utama selama operasi berlangsung.

“Kami tetap mengutamakan faktor keselamatan seluruh tim mengingat kondisi cuaca dan aktivitas gunung yang sewaktu-waktu dapat berubah,” katanya.

Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur gabungan, di antaranya Basarnas, Polres Tobelo, Brimob, BPBD Halmahera Utara, TNI AD, TNI AL, TNI AU, PVMBG, Dinas Kesehatan Halut, Imigrasi Halut, ERT PT NHM, Wanadri, relawan pecinta alam, PMI, serta masyarakat desa sekitar.

Sebelumnya, rombongan pendaki yang berjumlah 20 orang dilaporkan terdampak erupsi saat berada di jalur pendakian menuju kawasan puncak Gunung Dukono. Dari jumlah tersebut, 17 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, satu orang ditemukan meninggal dunia, sementara dua lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

Hingga siang ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan penyisiran di sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi keberadaan korban. (RR/Red)

Kamandanu, Sapi Kurban Juara Kontes Dibeli Prabowo untuk Masjid Raya Ternate, Segini Bobotnya

Ternate, Maluku Utara – Presiden RI Prabowo Subianto membeli seekor sapi kurban berbobot 850 kilogram milik peternak asal Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, untuk disalurkan ke Masjid Raya Al-Munawwar Ternate pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau 2026.

Sapi kurban bernama Kamandanu itu saat ini berada di lokasi penampungan milik Omah Ternak Subaim (OTS) di Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara.

Pemilik Omah Ternak Subaim, Rahmat Sugeng Santoso, mengatakan pihaknya telah menerima konfirmasi dari Sekretariat Negara terkait pembelian sapi tersebut sebagai hewan kurban Presiden.

“Kemungkinan hari Selasa besok tim datang melakukan pengecekan langsung,” kata Rahmat saat ditemui di lokasi penampungan, Minggu (10/5/2026).

Menurut Rahmat, sejak mendapat informasi pemesanan dari pihak Istana, perawatan terhadap sapi dilakukan secara intensif guna memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga hingga hari penyembelihan.

Ia menjelaskan, sapi Kamandanu dimandikan tiga kali sehari dan mendapatkan pakan fermentasi berbahan batang jagung yang disiapkan khusus.

“Dalam sehari minimal makan 50 kilogram pakan. Kami terus memantau kesehatannya karena sudah menjadi perhatian dari pusat dan kondisi sapi saat ini sangat sehat,” ujarnya.

Rahmat menuturkan, sapi tersebut sebelumnya pernah mengikuti dan memenangkan kontes ternak yang digelar Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara di Sofifi pada tahun lalu.

Sejak memenangkan kontes tersebut, pihaknya terus melakukan perawatan hingga akhirnya sapi itu dipilih menjadi hewan kurban Presiden untuk Idul Adha 2026.

Ia juga mengungkapkan, sapi dengan bobot mencapai 850 kilogram itu dibeli dengan harga Rp 87 juta. “Sapi ini nantinya akan diserahkan ke Masjid Raya Al-Munawwar Ternate sesuai penunjukan dari Wali Kota Ternate,” kata Rahmat.

Penyaluran bantuan sapi kurban Presiden menjadi bagian dari program rutin pemerintah setiap perayaan Idul Adha, sekaligus bentuk perhatian kepada masyarakat di daerah. (Riv/Red)

Dukono Meletus Lagi Saat Kei dan Tamin Tinggal Dua Meter dari Korban

Tobelo, Maluku Utara Kabut abu masih menggantung tebal di lereng Gunung Dukono ketika Kei alias Kiril Tatambane (26) dan Tamin alias Rustamin Juanga (21), memutuskan terus naik menuju bibir kawah, Sabtu, 9 Mei 2026. Di tengah dentuman erupsi dan hujan batu vulkanik yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka, dua pemuda asal Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara itu menembus jalur berbahaya demi mencari para pendaki yang dilaporkan hilang.

Operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono memasuki hari kedua sejak sedikitnya 20 pendaki terjebak akibat letusan gunung berapi aktif tersebut pada Jumat, 8 Mei 2026. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, hingga warga sekitar gunung dikerahkan menyisir lereng hingga area dekat kawah.

Dari total 20 pendaki, 17 berhasil selamat. Tiga lainnya dinyatakan hilang, terdiri atas satu warga Indonesia dan dua warga Singapura.

Sabtu (9/5) sore, harapan itu berubah menjadi kabar duka.

Kei dan Tamin menjadi orang pertama yang menemukan salah satu pendaki asal Indonesia yang teridentifikasi bernama Angel. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sekitar kawah Gunung Dukono.

“Dari jarak sekitar 20 meter kami sudah lihat dari bawah. Kami sempat berdebat, entah itu batu atau apa, karena kelihatan putih sekali,” cerita Kei kepada wartawan.

Benda putih itu tampak mencolok di tengah hamparan abu vulkanik. Namun keduanya belum yakin apakah yang mereka lihat hanyalah bongkahan batu atau tubuh manusia yang tertimbun material erupsi.

Rasa penasaran sekaligus naluri penyelamatan membuat mereka tetap mendekat, meski suara letusan terus terdengar dari arah kawah. “Pas sudah sekitar lima meter saya lihat sepatu, kami semakin yakin kalau itu almarhumah Angel,” katanya.

Korban ditemukan sekitar 20 meter di bawah mulut kawah. Tubuhnya tertimbun material vulkanik. “Dia (korban) posisi sekitar 20 meter di bawah mulut kawah. Kepala tertindih batu, jadi yang terlihat hanya baju, kaki dan setengah badan,” ungkap Kei.

Di lokasi itu hanya ada mereka berdua. “Di situ hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain. Kami orang pertama,” katanya.

Situasi berubah mencekam ketika keduanya mencoba mendekati korban. Baru berjarak sekitar dua meter, Gunung Dukono kembali memuntahkan material erupsi.

“Jarak sekitar dua meter, erupsi meledak lagi. Kami langsung lari jauh sekali,” tutur Kei.

Dentuman letusan memaksa mereka mundur menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan itu, sebuah drone pemantau terlihat melintas di atas lokasi pencarian.

“Sekitar 15 meter kami lihat ada drone, jadi kami kasih kode supaya drone lebih mendekat. Tapi kami sudah yakin itu orang,” katanya.

Setelah memastikan keberadaan korban, Kei dan Tamin memanggil tim lain yang berada di bawah gunung untuk membantu evakuasi.

Namun proses evakuasi berlangsung dramatis. Batu vulkanik terus berjatuhan, sementara abu panas beterbangan menutupi pandangan.

“Evakuasi pertama yang kami lakukan saat material gunung beterbangan. Badannya juga sudah tertimbun batu dan abu vulkanik,” ujarnya.

Tak lama kemudian, anggota tim SAR gabungan tiba membawa kantong jenazah. Dalam cuaca ekstrem dan ancaman erupsi susulan, proses evakuasi dilakukan dengan serba terbatas.

“Tiba-tiba ada orang tua-tua (sebutan untuk orang yang berumur lebih tua) naik bersama dua anggota, tapi yang naik cuma satu. Jadi yang pertama masukkan jenazah ke kantong itu kami empat orang,” katanya.

Kei mengaku kondisi korban saat dievakuasi sangat mengenaskan.

“Saat dimasukkan ke kantong, tulang tengkoraknya sudah hancur,” ungkapnya.

Di tengah proses evakuasi itu, masih ada kecemasan lain yang belum terjawab. Kei menyebut terdapat satu tumpukan lain sekitar tiga meter di atas lokasi penemuan korban. Namun tim belum sempat memastikan apakah itu batu atau tubuh korban lain.

“Di atas korban sekitar tiga meter ada tumpukan, tapi kami belum bisa pastikan apakah itu batu atau jenazah. Karena kantong jenazah cuma dua, sementara cuaca ekstrem, batu dan hujan abu masih berterbangan di atas kami,” pungkas Kei.

Hingga Sabtu malam, dua pendaki berkewarganegaraan Singapura masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Minggu, 10 Mei 2026, dengan mempertimbangkan kondisi vulkanik Gunung Dukono yang masih sangat aktif. (*)

Ke Kandang Laskar Mataram, Malut United Bidik 4 Besar Super League

Haliyora.id, Sport – Malut United datang ke markas PSIM Yogyakarta dengan membawa motivasi tinggi sekaligus misi balas dendam setelah takluk dengan skor 0-2 dalam laga pekan ke-4 BRI Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Kie Raha (GKR) Ternate, Sabtu (30/8/2025).

Duel PSIM melawan Malut United akan berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (10/5/2026).

Tim berjuluk Laskar Kie Raha itu tengah berada dalam performa terbaik setelah membukukan dua kemenangan beruntun pada laga terakhir. Kepercayaan diri skuad meningkat drastis usai membantai PSBS Biak dengan skor 7-0 dan menekuk Persis Solo 5-2.

Perwakilan pemain Malut United, Tri Setiawan, memastikan seluruh pemain siap menjalankan strategi tim demi menjaga tren positif tersebut.

“Semua pemain siap menjalankan game plan untuk pertandingan besok. Kami bertekad mempertahankan tren positif,” ujar Tri dalam konferensi pers jelang pertandingan, Sabtu (9/5/2026).

Menurut dia, kemenangan dalam dua laga terakhir menjadi suntikan motivasi besar bagi skuad Malut United untuk kembali meraih poin penuh di kandang Laskar Mataram.

“Saya dan rekan-rekan akan berjuang mengerahkan seluruh kemampuan pada pertandingan besok. Semoga kami bisa kembali meraih hasil terbaik,” kata Tri.

Pelatih kepala Malut United, Hendri Susilo, menilai kebangkitan timnya tidak lepas dari meningkatnya mental bertanding para pemain setelah melewati periode sulit dalam lima laga sebelumnya tanpa kemenangan.

“Hasil positif dari dua pertandingan terakhir sedikit banyak mengangkat mental dan kepercayaan diri pemain. Semoga kami bisa terus berada di jalur kemenangan hingga akhir musim,” ujar Hendri.

Meski demikian, Hendri menegaskan PSIM tetap tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi, laga kandang bisa menjadi momentum kebangkitan bagi Laskar Mataram yang tengah mengalami penurunan performa.

Dalam 14 pertandingan terakhir, PSIM hanya mampu meraih satu kemenangan. Bahkan, tim asuhan Jean-Paul van Gastel belum pernah menang dalam tujuh laga kandang terakhir dengan catatan empat imbang dan tiga kekalahan.

Saat ini PSIM berada di posisi ke-11 klasemen sementara dengan koleksi 39 poin hasil dari sembilan kemenangan, 12 hasil imbang, dan 10 kekalahan. “Kami tetap tidak boleh menganggap remeh PSIM. Saya tekankan kami akan tetap berjuang 100 persen dan fokus untuk mewaspadai kebangkitan lawan,” tutur Hendri.

Bagi Malut United, pertandingan ini memiliki arti penting dalam persaingan papan atas klasemen. Tim asal Maluku Utara itu kini berada di posisi kelima dengan raihan 52 poin.

Mereka hanya terpaut satu poin dari Dewa United di posisi keempat dan unggul satu angka atas Persebaya Surabaya di posisi keenam.

“Kami akan bertarung untuk memperebutkan posisi empat besar melawan sejumlah tim pesaing seperti Persebaya dan Dewa United. Semoga hal itu dapat terealisasi di akhir musim nanti,” pungkas Hendri. (RF/Red)

IPLM Maluku Utara dan Urgensi Kolaborasi

Peluncuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2025 oleh Perpustakaan Nasional RI pada Februari 2026 seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai rilis angka tahunan. Lebih dari itu, menandai pergeseran penting dalam cara negara memotret wajah literasi, dari sekadar kebijakan di atas kertas menuju realitas layanan di lapangan.

Perubahan pendekatan ini tidak berdiri sendiri. Tapi berkelindan dengan kerangka evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana diatur dalam Keputusan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2024 serta Kepmendagri Nomor 100.2.1.7-109 Tahun 2025 tentang indikator kinerja kunci. Di titik ini, IPLM tidak lagi menjadi domain eksklusif perpustakaan, melainkan bagian integral dari penilaian kinerja pemerintah daerah secara keseluruhan.

Regulasi tersebut kemudian menjadi pengungkit. Melalui pembahasan instrumen dan tata cara perhitungan—termasuk integrasi dengan TGM—pemerintah berupaya memastikan satu hal mendasar, yakni konsistensi antara target perencanaan dan capaian di lapangan. 

Upaya ini penting, mengingat selama ini kesenjangan antara dokumen perencanaan dan realisasi sering kali menjadi persoalan klasik birokrasi.

Kini, dengan komposisi penilaian di mana 70 persen bobot IPLM berada pada pemerintah daerah dan 30 persen pada perpustakaan atau pihak lain, tanggung jawab menjadi semakin tegas. Pemerintah daerah tidak bisa lagi berlindung di balik narasi kebijakan tanpa bukti implementasi. Fokus penilaian telah bergeser dari “apa yang direncanakan” menjadi “apa yang benar-benar tersedia dan dirasakan masyarakat”.

Perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak ringan. Nilai IPLM tidak lagi bersifat agregatif yang mudah dipoles, melainkan berbasis data riil yang diinput dan diverifikasi oleh daerah. Artinya, ruang manipulasi kian sempit. Data menjadi cermin: jujur, telanjang, dan kadang tidak nyaman untuk dilihat.

Di Maluku Utara (Malut), cermin itu menunjukkan refleksi yang perlu disikapi serius. Nilai IPLM provinsi ini masih berada pada angka 10,98, dengan rincian variabel yang relatif rendah: SDM (0,191), koleksi (0,068), pelayanan (0,152), penyuluhan (0,152), dimensi perpustakaan (0,13), dan dimensi lainnya (0,152).

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan potret akses, kualitas layanan, dan keberpihakan pada literasi di tingkat akar rumput.

Rendahnya capaian ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan metode penilaian dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun menjadikan metodologi sebagai kambing hitam jelas bukan jawaban. Justru di sinilah letak nilai penting IPLM terbaru, yakni memaksa pemerintah daerah untuk berhadapan dengan kenyataan yang selama ini mungkin tersamarkan.

Masalah yang lebih mendasar adalah inklusi sosial. Literasi belum sepenuhnya menjangkau semua lapisan masyarakat. Perpustakaan masih sering dipersepsikan sebagai ruang sunyi yang jauh dari kehidupan sehari-hari warga.

Padahal, di era disrupsi informasi, perpustakaan seharusnya menjadi simpul pengetahuan yang hidup, adaptif, dan inklusif.

Karena itu, jalan ke depan hampir pasti tidak bisa ditempuh secara sektoral. Kolaborasi menjadi keniscayaan, bukan pilihan. Dinas Perpustakaan tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus berkelindan dengan Dinas Pendidikan, bahkan dengan OPD lain yang selama ini mungkin dianggap tidak berkaitan langsung dengan literasi.

Di titik ini, peningkatan IPLM bukan lagi soal mengejar angka, melainkan membangun ekosistem. Ekosistem yang memungkinkan masyarakat tidak hanya bisa membaca, tetapi juga mengakses pengetahuan, mengolah informasi, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidupnya.

IPLM telah berubah menjadi alat ukur yang lebih jujur. Tantangannya kini sederhana, meski tidak mudah, apakah pemerintah daerah siap menerima kejujuran itu, dan bergerak darinya? Nampaknya era kepemimpinan Sherly-Sarbin sejalan dan satu nafas menginginkan kejujuran dan kualitas data lapangan yang terupdate setiap waktu. Karena itu kolaborasi antar instansi dan organisasi perangkat daerah menjadi kata kunci keberhasilan untuk mencapai target. (*)

Kasus Pelecehan Seksual di Tidore, Ibu Menyusui Diduga Diraba Saat Dini Hari 

Tidore, Maluku Utara – Dugaan pelecehan seksual terhadap seorang ibu rumah tangga yang sedang menyusui bayi terjadi di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Kamis dini hari, 7 Mei 2026. Korban melaporkan seorang pria yang diketahui merupakan tokoh pemuda di salah satu kelurahan di Kecamatan Tidore Selatan.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.30 WIT di rumah korban. Saat kejadian, korban, sebut saja Mawar, tengah menyusui bayi berusia tiga bulan di dalam kamar.

Menurut keterangan korban kepada wartawan, pelaku diduga masuk ke dalam rumah secara diam-diam sebelum menuju kamar tempat korban berada. Saat itu posisi korban membelakangi pintu sehingga tidak menyadari kedatangan pelaku.

“Saya duduk membelakangi pintu, payudara kiri saya diraba dan dalam posisi terbuka karena saya sedang menyusui  bayi saya yang berusia 3 bulan,” ungkap korban.

Korban disebut mengalami trauma berat setelah kejadian tersebut. Apalagi, saat peristiwa berlangsung suaminya sedang menjalankan tugas di luar daerah.

Seorang Pemuda di Halteng Tinggalkan Pesan untuk Kekasih Sebelum Gantung Diri

Weda, Maluku Utara – Seorang pemuda berinisial RHS (19), karyawan swasta asal Desa Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, ditemukan tewas gantung diri di area sekitar kosannya di Weda, Sabtu (9/5/2026) pagi.

Korban ditemukan oleh rekan satu kosnya, AH (27), sekitar pukul 07.50 WIT di sebuah pohon jambu dekat lingkungan kos.

Kapolres Halmahera Tengah AKBP Fiat Dedawanto melalui Juru Bicara Polres Halteng Ipda Amir Mahmud membenarkan peristiwa tersebut. “Iya benar, kejadian tadi pagi sekitar pukul 07.50 WIT,” kata Amir, Sabtu (9/5/2026).

Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpun polisi, sebelum ditemukan meninggal, korban diduga sempat terlibat pertengkaran dengan pacarnya berinisial AB (19), seorang pelajar/mahasiswa asal Ternate yang tinggal di kompleks kos yang sama.

Peristiwa itu bermula pada Jumat (8/5/2026) siang sekitar pukul 14.05 WIT saat korban menanyakan uang miliknya yang disebut hilang. Namun, pacarnya mengaku tidak mengetahui keberadaan uang tersebut.

Erupsi Gunung Dukono: Satu Pendaki Tewas, Dua WNA Singapura Masih Hilang

Tobelo, Maluku Utara – Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Sabtu, 9 Mei 2026. Operasi melibatkan personel TNI, Polri, Basarnas, serta warga setempat yang menyisir sejumlah titik di sekitar kawasan puncak gunung api aktif tersebut.

Berdasarkan perkembangan situasi hingga pukul 14.30 WIT, tim gabungan masih bergerak di area yang diduga menjadi lokasi terdampaknya para pendaki akibat erupsi Gunung Dukono.

Sekitar pukul 15.00 WIT, tim SAR menemukan satu korban atas nama Enjel, warga negara Indonesia, di area sekitar 50 meter dari bibir kawah Gunung Dukono. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengatakan proses evakuasi korban masih berlangsung menuju Pos Pemantauan Gunung Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela.

“Saat ini proses evakuasi korban sedang dilakukan oleh tim SAR untuk dibawa ke Pos Pemantauan Gunung Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela,” kata Erlichson.

Menurut dia, operasi pencarian masih difokuskan terhadap dua warga negara asing asal Singapura yang hingga kini belum ditemukan di lokasi erupsi. “Perkembangan akan dilaporkan kembali,” ujarnya.

Hingga Sabtu sore, tim SAR gabungan masih menyisir area lereng hingga sekitar kawah Gunung Dukono untuk memastikan keberadaan dua pendaki asing tersebut. Kondisi medan yang berat serta aktivitas vulkanik yang masih berlangsung menjadi tantangan dalam proses pencarian. (RR/Red)

Pilih Wilayah