Tobelo, Maluku Utara – Kabut abu masih menggantung tebal di lereng Gunung Dukono ketika Kei alias Kiril Tatambane (26) dan Tamin alias Rustamin Juanga (21), memutuskan terus naik menuju bibir kawah, Sabtu, 9 Mei 2026. Di tengah dentuman erupsi dan hujan batu vulkanik yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka, dua pemuda asal Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara itu menembus jalur berbahaya demi mencari para pendaki yang dilaporkan hilang.
Operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono memasuki hari kedua sejak sedikitnya 20 pendaki terjebak akibat letusan gunung berapi aktif tersebut pada Jumat, 8 Mei 2026. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, hingga warga sekitar gunung dikerahkan menyisir lereng hingga area dekat kawah.
Dari total 20 pendaki, 17 berhasil selamat. Tiga lainnya dinyatakan hilang, terdiri atas satu warga Indonesia dan dua warga Singapura.
Sabtu (9/5) sore, harapan itu berubah menjadi kabar duka.
Kei dan Tamin menjadi orang pertama yang menemukan salah satu pendaki asal Indonesia yang teridentifikasi bernama Angel. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sekitar kawah Gunung Dukono.
“Dari jarak sekitar 20 meter kami sudah lihat dari bawah. Kami sempat berdebat, entah itu batu atau apa, karena kelihatan putih sekali,” cerita Kei kepada wartawan.
Benda putih itu tampak mencolok di tengah hamparan abu vulkanik. Namun keduanya belum yakin apakah yang mereka lihat hanyalah bongkahan batu atau tubuh manusia yang tertimbun material erupsi.
Rasa penasaran sekaligus naluri penyelamatan membuat mereka tetap mendekat, meski suara letusan terus terdengar dari arah kawah. “Pas sudah sekitar lima meter saya lihat sepatu, kami semakin yakin kalau itu almarhumah Angel,” katanya.
Korban ditemukan sekitar 20 meter di bawah mulut kawah. Tubuhnya tertimbun material vulkanik. “Dia (korban) posisi sekitar 20 meter di bawah mulut kawah. Kepala tertindih batu, jadi yang terlihat hanya baju, kaki dan setengah badan,” ungkap Kei.
Di lokasi itu hanya ada mereka berdua. “Di situ hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain. Kami orang pertama,” katanya.
Situasi berubah mencekam ketika keduanya mencoba mendekati korban. Baru berjarak sekitar dua meter, Gunung Dukono kembali memuntahkan material erupsi.
“Jarak sekitar dua meter, erupsi meledak lagi. Kami langsung lari jauh sekali,” tutur Kei.
Dentuman letusan memaksa mereka mundur menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan itu, sebuah drone pemantau terlihat melintas di atas lokasi pencarian.
“Sekitar 15 meter kami lihat ada drone, jadi kami kasih kode supaya drone lebih mendekat. Tapi kami sudah yakin itu orang,” katanya.
Setelah memastikan keberadaan korban, Kei dan Tamin memanggil tim lain yang berada di bawah gunung untuk membantu evakuasi.
Namun proses evakuasi berlangsung dramatis. Batu vulkanik terus berjatuhan, sementara abu panas beterbangan menutupi pandangan.
“Evakuasi pertama yang kami lakukan saat material gunung beterbangan. Badannya juga sudah tertimbun batu dan abu vulkanik,” ujarnya.
Tak lama kemudian, anggota tim SAR gabungan tiba membawa kantong jenazah. Dalam cuaca ekstrem dan ancaman erupsi susulan, proses evakuasi dilakukan dengan serba terbatas.
“Tiba-tiba ada orang tua-tua (sebutan untuk orang yang berumur lebih tua) naik bersama dua anggota, tapi yang naik cuma satu. Jadi yang pertama masukkan jenazah ke kantong itu kami empat orang,” katanya.
Kei mengaku kondisi korban saat dievakuasi sangat mengenaskan.
“Saat dimasukkan ke kantong, tulang tengkoraknya sudah hancur,” ungkapnya.
Di tengah proses evakuasi itu, masih ada kecemasan lain yang belum terjawab. Kei menyebut terdapat satu tumpukan lain sekitar tiga meter di atas lokasi penemuan korban. Namun tim belum sempat memastikan apakah itu batu atau tubuh korban lain.
“Di atas korban sekitar tiga meter ada tumpukan, tapi kami belum bisa pastikan apakah itu batu atau jenazah. Karena kantong jenazah cuma dua, sementara cuaca ekstrem, batu dan hujan abu masih berterbangan di atas kami,” pungkas Kei.
Hingga Sabtu malam, dua pendaki berkewarganegaraan Singapura masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Minggu, 10 Mei 2026, dengan mempertimbangkan kondisi vulkanik Gunung Dukono yang masih sangat aktif. (*)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!