400 Warga Halbar Nobar Film Pesta Babi, Suarakan Penolakan Proyek Geothermal di Telaga Rano

Jailolo, Maluku Utara – Sekitar 400 warga Kabupaten Halmahera Barat menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dan diskusi geothermal bertajuk “Barang Panas di Telaga Rano” di kawasan Telaga Rano, Desa Sasur, Kecamatan Sahu Timur, Minggu malam (10/5).

Kegiatan itu diikuti masyarakat adat suku Wayoli dan suku Sahu, pemuda, mahasiswa, aktivis lingkungan, jurnalis, sosiolog, komunitas pecinta kopi D’pata, hingga warga dari sejumlah desa di sekitar Telaga Rano. Selain pemutaran film, agenda tersebut juga diisi dengan diskusi terbuka mengenai rencana pengembangan panas bumi di kawasan hutan adat.

BACA JUGA  Jelang Pilkada 2024, Tapal Batas 6 Desa di Maluku Utara Kembali Memanas

Koordinator kegiatan, Tiklas Pileser Babua, mengatakan acara tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus konsolidasi masyarakat adat untuk mempertahankan wilayah hidup mereka dari ancaman investasi panas bumi.

Menurut Tiklas, melalui diskusi dan pemutaran film dokumenter karya Dandhy Laksono, itu masyarakat adat Suku Wayoli di Desa Sasur diharapkan tetap menjaga konsistensi perjuangan menolak aktivitas PT Ormat Geothermal Indonesia di kawasan Telaga Rano.

“Lewat diskusi dan nobar ini kami berharap masyarakat adat tetap menanamkan konsistensi perlawanan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi soal ruang hidup masyarakat adat,” kata Tiklas, kepada redaksi Haliyora.id, Senin (11/5/2026).

BACA JUGA  Tanah Leluhur Bukan Komoditas, Suku Wayoli Tolak Geothermal: Kritik Pernyataan Bupati Halbar

Ia menjelaskan, film dokumenter Pesta Babi menampilkan ketimpangan kepentingan negara terhadap kawasan hutan dan tanah adat di Papua Selatan, yang dinilainya memiliki kemiripan dengan situasi masyarakat adat Wayoli dan Sahu di Halmahera Barat.

Menurut dia, perjuangan masyarakat adat di Papua memiliki garis yang serupa dengan perjuangan masyarakat adat di kawasan Telaga Rano.

“Di Papua Selatan digambarkan bagaimana perlawanan masyarakat adat melalui simbol sasi salib dan unsur leluhur. Itu memiliki kemiripan dengan garis perjuangan masyarakat adat di wilayah Suku Wayoli dan Sahu,” ujarnya.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah