Kota Ternate pada Selasa (12/5/2026) pagi, tampak teduh, jauh dari kebisingan ketika iring-iringan kendaraan memasuki kota membawa pulang satu nama yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan warganya. Adalah Burhan Abdurahman (alm).
Di sepanjang jalan, warga berdiri menunggu. Sebagian menundukkan kepala saat ambulans melintas, sebagian lain mengangkat telepon genggam untuk merekam momen yang bagi mereka bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan kepulangan seorang pemimpin yang pernah tumbuh bersama kota ini.
Burhan Abdurahman atau yang lebih akrab dipanggil Haji Bur, memimpin Ternate selama dua periode, 2010–2015 dan 2016–2021. Ia meninggal dunia pada 4 Juli 2021 di Makassar dan dimakamkan di sana. Lima tahun kemudian, jenazahnya dipulangkan ke kampung halaman untuk dimakamkan kembali di Pekuburan Islam, di Kota Ternate, Maluku Utara.
Namun, bukan hanya prosesi pemulangannya yang membuat masyarakat diliputi haru. Kondisi jenazah almarhum yang disebut masih utuh saat proses pemindahan berlangsung menjadi perbincangan luas di tengah warga.
Bagi sebagian masyarakat Ternate, itu bukan sekadar peristiwa biasa. Banyak yang melihatnya sebagai jejak kebaikan seseorang yang semasa hidup dikenal dekat dengan rakyat dan tekun bekerja membangun kota.
Adalah Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman. Ia memilih menanggapi hal itu dengan nada reflektif.
“Itulah yang menjadi kekuasaan Allah. Saya kira menjadi ibrah bagi kita semua untuk selalu menanamkan kebaikan sehingga husnul khatimah ketika dipanggil kembali ke hadirat Sang Pencipta,” kata Tauhid.
Kalimat itu diucapkan tanpa gegap gempita. Tetapi di tengah suasana duka dan penghormatan terakhir, pernyataan tersebut seperti menjadi penegas bagaimana sosok Haji Bur dikenang, bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai figur yang meninggalkan kesan personal bagi banyak orang.
Tauhid termasuk salah satunya.
Sebelum menjadi Wali Kota Ternate, ia pernah berada dalam lingkar kerja pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Haji Bur. Saat itu, Tauhid dipercaya mengisi sejumlah jabatan strategis, mulai dari kepala keuangan hingga Sekretaris Daerah Kota Ternate.
Dari sana, ia mengaku banyak belajar tentang cara mengelola pemerintahan terutama soal disiplin fiskal dan tata kelola keuangan daerah.
“Almarhum ini seorang pekerja, terutama keahlian di bidang keuangan dan pendapatan. Saya banyak belajar hal-hal yang terkait pengelolaan keuangan maupun pendapatan semasa beliau menjadi wali kota,” ujar Tauhid.
Bagi Tauhid, Haji Bur bukan sekadar atasan birokrasi. Ia adalah mentor yang memahami detail pemerintahan hingga hal-hal teknis yang sering luput diperhatikan pemimpin daerah.
“Saya sebagai salah satu pejabat di Kota Ternate, dalam hal ini kepala keuangan, dan terakhir sebagai Sekretaris Daerah Kota Ternate, jadi banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Terutama beliau sangat andal dalam pengelolaan keuangan,” katanya.
Ingatan tentang Haji Bur memang tidak semata hadir lewat proyek pembangunan atau kebijakan pemerintahan. Di mata banyak ASN dan warga, ia dikenang sebagai pemimpin dengan etos kerja kuat, teliti, dan terbiasa turun langsung menyelesaikan persoalan.
Di kantor pemerintahan, ia dikenal disiplin membaca laporan keuangan. Di tengah masyarakat, ia diingat sebagai wali kota yang mudah ditemui warga tanpa sekat protokoler yang berlebihan.
Karena itu, kepulangan jenazahnya ke Ternate terasa seperti menutup satu lingkar perjalanan panjang: seorang pemimpin yang kembali ke tanah yang pernah ia bangun.
Siang itu, ketika prosesi pemakaman berlangsung, ribuan warga mengantar hingga tempat peristirahatan terakhirnya. Jalanan penuh, doa-doa dilantunkan, dan suasana kota seakan bergerak lebih pelan dari biasanya.
Lima tahun setelah wafat, Haji Bur akhirnya pulang. Tetapi bagi sebagian warga Ternate, namanya tampaknya tak pernah benar-benar pergi. (*)
Arfandi Atim
Redaksi Haliyora