Akselerasi Budaya Literasi Masyarakat Melalui Perpustakaan Desa

Diskursus budaya literasi akhir-akhir ini kurang menarik minat para pengambil kebijakan di Republik ini. Malahan instansi yang mengelola urusan perpustakaan yang bertanggung jawab terhadap urusan literasi dan budaya baca masyarakat dianggap sebagai tempat buangan para pejabat yang gagal mengelola institusi pemerintahan lain. 

Disisi lain urusan perpustakaan dianggap sebagai urusan yang tidak “seksi” karena mungkin kurang berdampak secara ekonomi bagi pemerintah maupun masyarakat. Akibatnya anggaran yang disediakan pun minimalis alias pas pasan dibanding dengan perangkat daerah yang lain. 

BACA JUGA  Skema Kredit KMP Kota Ternate Dinilai Menghambat Pertumbuhan Kopdes Merah Putih

Padahal urusan perpustakaan adalah urusan wajib pemerintah non pelayanan dasar. 

Hal ini juga berkaitan dengan kinerja institusi yang dianggap masih belum sesuai harapan dalam mewujudkan indikator pembangunan daerah di bidang perpustakaan antara lain peningkatan indeks literasi masyarakat. 

Terkait dengan itu maka sudah saatnya kita berkolaborasi baik pemerintah, pemerintah desa, sekolah maupun pegiat literasi di negeri ini untuk bersinergi sesuai tugas dan fungsi masing masing  sebagai upaya nyata  ikut berkontribusi dalam mencerdaskan warga masyarakat di negeri yang kita cintai.

Bila ditelusuri, maka kita akan mendapati akar masalah yang menjadi sebab kenapa urusan ini masih dianggap sebagai urusan ‘kesekian’. Pertama, persepsi kita terhadap perpustakaan adalah sebuah gedung tua dengan buku-buku di dalamnya alias urusannya pada penyediaan teks semata. Persepsi seperti ini membuat pengelola perpustakaan seolah berada di pojok yang gelap gulita. 

BACA JUGA  Begini Penampakan Sentra UMKM Dinkop Malut di Sofifi yang ‘Ogah’ Ditempati Pedagang

Kedua, pada konteks perpustakaan sekolah, persepsi kepala sekolah dan guru bahwa penyediaan buku melalui dana BOS berfokus pada buku guru dan buku siswa semata, maka perpustakaan sekolah menjadi tempat untuk menampung buku mata pelajaran. Padahal minat baca siswa terhadap bahan bacaan dimulai dari ketertarikannya pada bahan bacaan beragam dan penyediaan referensi yang sesuai dengan kebutuhan dan usia siswa. 

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah