Ternate, Maluku Utara – Ketersediaan LPG di Kota Ternate, Maluku Utara, kian mengkhawatirkan. Dalam dua bulan terakhir, pasokan tersendat dan harga melonjak tajam, memicu sorotan keras dari DPRD setempat terhadap skema distribusi yang dijalankan Pertamina Patra Niaga.
Ketua Komisi II DPRD Kota Ternate, Farijal S. Teng, menegaskan persoalan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan dampak dari perubahan jalur distribusi yang dinilai tidak efisien dan membebani masyarakat.
“Ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Ternate melalui DPRD. Di sisi lain, Pertamina juga sedang mendorong program konversi dari minyak tanah ke LPG secara maksimal. Karena itu, ketersediaan gas harus tetap terjaga,” ujar Farijal usai rapat dengar pendapat di kantor DPRD Ternate, Selasa (5/5/2026).
Selama ini, suplai LPG untuk wilayah Ternate bergantung pada pengiriman dari Surabaya melalui skema Tol Laut. Namun, dalam kondisi terkini, jalur tersebut tidak lagi mampu menjamin pasokan ke Maluku Utara.
Sebagai langkah darurat, Pertamina Patra Niaga mengalihkan distribusi dari Ambon. Kebijakan ini justru memunculkan persoalan baru yakni biaya logistik meningkat karena pengiriman tidak lagi melalui Tol Laut.
“Perubahan jalur distribusi ini yang kemudian menyebabkan kenaikan harga LPG hingga dua kali, yakni pada April dan Mei,” kata Farijal.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!