Kalau terjadi pemisahan kata dari prinsip nilai menjadi living culture tradisi yang hidup dalam Sibualamo misalnya O Giki Moi tidak disambungkan menjadi satu kalimat utuh dengan inahayangi. Begitu pulah O giki moi tidak disambungkan dengan kalimat Ina dora de ina balihara, serta O giki moi tidak menjadi satu kalimat dengan O Nadiahi, maka O Giki Moi menjadi alas spiritualitas dari tradisi yang tumbuh dan berkembang di rumah besar Sibualamo.
Dari poros yang Maha Tunggal (O giki moi) melahirkan inahayangi (katong baku sayang) sifat dari o giki moi yang Maha Rahim termanifestasi di atas altar bumi Sibualamo, pada konteks relasi antar sesama manusia harus dengan menebarkan sifat sayang Tuhan pada sesama manusia tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, baik etnis, klan, agama.
Karena jika kita berbuat baik kepada sesama makhluk Tuhan, tak akan bertanya dari mana asal usul, dari mana etnismu, dari mana agamamu.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!