Pancasila dalam Tradisi Sibualamo

- Editor

Rabu, 8 Maret 2023 - 11:47 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salim Taib, Wakil Ketua BP Sibualamo Provinsi Maluku Utara

Salim Taib, Wakil Ketua BP Sibualamo Provinsi Maluku Utara

Oleh Yudi Latif, para pendiri bangsa dalam merumuskan ideologi Pancasila dibagi beberapa fase. Mulai dari fase persemaian, fase perumusan hingga fase terlahirlah pandangan hidup bangsa Indonesia yakni Pancasila yang dikemukakan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945. 

Sekali lagi, Sibualamo dengan tradisi yang oleh Dr. Kasman mengatakan bahwa Sibualamo tidak hanya meneguhkan tradisi melainkan sudah menjadi pandangan hidup masyarakat Tobelo-Galela yang dapat dieksplorasi menjadi satu strategi kebudayaan dalam bangunan peradaban besar. Pada konteks inilah, sebenarnya ada ketersambungan sejarah yang mungkin ada pembenarannya bahwa Bung Karno dalam menggali Pancasila tidak melepaskan bangunan tradisi, kebiasaan dari masyarakat yang mendiami bumi Nusantara termasuk di dalamnya Sibualamo.

BACA JUGA  Deretan Peristiwa Baru Tercipta di Pilkada Maluku Utara

Konstruksi tradisi dalam Sibualamo yang menjadi nilai dari saripati Pancasila yang digali oleh para pendiri bangsa secara eksplisit maupun implisit mengandung nilai-nilai Pancasila, di antaranya; o giki rimoi, o hayangi, o doraha, o balihara, o tiahi de o kokawaha. Sayangnya, nilai-nilai dari Sibualamo yang disebutkan di atas tidak dijelaskan oleh Dr. Kasman. Keterputusan penjelasan akan nilai-nilai yang dikandung dalam Sibualamo yang dikemukakan oleh Dr. Kasman membuat penulis harus mencari sumber untuk memberikan penjelasan agar dapat dinarasikan menjadi setitik pengetahuan. Dan titik temu keterputusan penjelasan itu didapatkan dari seorang tokoh perempuan yang terlahir dari klan Gura, yang bertempat tinggal di Gura bernama Sumardi Baba atau biasa disapa Dinda. Ia menjelaskan bahwa nilai dari Sibualamo tentang O Giki Moi Inahayangi  (bahwa Tuhan akan menyayangi kita semua), Ina dora de Ina Balihara, (Tuhan sayang dan lindungi semua), O Nadiahi Tuhan (selalu memberikan yang terbaik), dan Kokawaha, (selalu bermasyarakat).

Jika dicermati, penjelasan Sumarni Baba dapat ditafsir semua prinsip nilai dari Sibualamo tidak tercerabut dari dimensi Ilahiyah. Semua beralaskan ke-Tuhan-an. Tradisi Sibualamo berporos pada teosentrisme, itulah sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berita Terkait

Demokrasi Semu dan Demokrasi Rasional
Demokrasi Idiot, Peta Jalan Baru Demokrasi Rasional (CAT)
Bau Itu Bernama Politik Busuk 
Pangan Lokal dalam Cengkraman Industri Tambang
Dahsyatnya Sedekah Subuh
Ibu, Tokoh Sentral Dalam Keluarga
Bertahta di Pohon Khuldi
Perempuan Dalam Bayang-bayang Industri Pertambangan PT IWIP
Berita ini 332 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 10:10 WIT

Tunggak Jasa Medis Rp 1 Miliar, Ini Penjelasan Dirut RSUD Ir. Soekarno

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:32 WIT

Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!