Pancasila dalam Tradisi Sibualamo

Oleh Yudi Latif, para pendiri bangsa dalam merumuskan ideologi Pancasila dibagi beberapa fase. Mulai dari fase persemaian, fase perumusan hingga fase terlahirlah pandangan hidup bangsa Indonesia yakni Pancasila yang dikemukakan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945. 

Sekali lagi, Sibualamo dengan tradisi yang oleh Dr. Kasman mengatakan bahwa Sibualamo tidak hanya meneguhkan tradisi melainkan sudah menjadi pandangan hidup masyarakat Tobelo-Galela yang dapat dieksplorasi menjadi satu strategi kebudayaan dalam bangunan peradaban besar. Pada konteks inilah, sebenarnya ada ketersambungan sejarah yang mungkin ada pembenarannya bahwa Bung Karno dalam menggali Pancasila tidak melepaskan bangunan tradisi, kebiasaan dari masyarakat yang mendiami bumi Nusantara termasuk di dalamnya Sibualamo.

BACA JUGA  Peringati Maulid Nabi, Pemuda Pancasila Malut Santuni Panti Asuhan

Konstruksi tradisi dalam Sibualamo yang menjadi nilai dari saripati Pancasila yang digali oleh para pendiri bangsa secara eksplisit maupun implisit mengandung nilai-nilai Pancasila, di antaranya; o giki rimoi, o hayangi, o doraha, o balihara, o tiahi de o kokawaha. Sayangnya, nilai-nilai dari Sibualamo yang disebutkan di atas tidak dijelaskan oleh Dr. Kasman. Keterputusan penjelasan akan nilai-nilai yang dikandung dalam Sibualamo yang dikemukakan oleh Dr. Kasman membuat penulis harus mencari sumber untuk memberikan penjelasan agar dapat dinarasikan menjadi setitik pengetahuan. Dan titik temu keterputusan penjelasan itu didapatkan dari seorang tokoh perempuan yang terlahir dari klan Gura, yang bertempat tinggal di Gura bernama Sumardi Baba atau biasa disapa Dinda. Ia menjelaskan bahwa nilai dari Sibualamo tentang O Giki Moi Inahayangi  (bahwa Tuhan akan menyayangi kita semua), Ina dora de Ina Balihara, (Tuhan sayang dan lindungi semua), O Nadiahi Tuhan (selalu memberikan yang terbaik), dan Kokawaha, (selalu bermasyarakat).

BACA JUGA  Membingkai Makna Fagogoru Dalam Refleksi 34 Tahun Kabupaten Halmahera Tengah

Jika dicermati, penjelasan Sumarni Baba dapat ditafsir semua prinsip nilai dari Sibualamo tidak tercerabut dari dimensi Ilahiyah. Semua beralaskan ke-Tuhan-an. Tradisi Sibualamo berporos pada teosentrisme, itulah sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah