Untuk tidak mengalami distorsi, menurut Dr. Kasman Hi. Ahmad, jika Pancasila diterima sebagai ideologi bangsa, maka positioning Pancasila sangat terbuka untuk ditafsir berdasarkan agama dan budaya masing-masing. Jika demikian, lanjut Dr. Kasman, maka semua agama dan ummatnya harus mampu menafsir sekaligus mengimplementasikan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari.
Keragaman budaya dan bahasa seharusnya juga menjadi kekuatan penyumbang terbesar atas tumbuh kembang Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Kekuatan budaya seperti Sibualamo sejak dahulu kala jika ditelusuri juga mengandung nilai-nilai budaya yang terurai dalam lima sila Pancasila.
Penelusuran sejarah sangat penting dilakukan untuk menemukan temali ketersambungan nilai-nilai Pancasila dalam setiap raga dan jiwa serta rasa yang didirikan oleh para leluhur dalam pola dan bentuk yang berbeda berdasarkan identitas etnis.
Sibualamo pada konteks tersebut, memiliki semangat nilai yang menjadi bagian terdalam dari praktek kehidupan dalam rumah besar (Sibualamo).
Pengecualian ini menurut Samsul Rizal, kalau Pancasila lahir saat Indonesia merdeka dalam perspektif nilai, Sibualamo sebagai peradaban tertua di Maluku Utara, jauh sebelum adanya kesultanan. Sibualamo sudah memiliki tatanan sosial dan demokrasi secara kultural yang walaupun saat itu belum terlembagakan seperti saat ini.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!