Pancasila dalam Tradisi Sibualamo

Oleh : Salim Taib

Wakil Ketua BP Sibualamo Provinsi Maluku Utara

Judul tulisan ini terinspirasi dari percakapan di salah satu grup WhatsApp yang memperdebatkan tulisan opini saya dengan tajuk Pancasila; Moderasi Beragama untuk Harmoni Ke-Indonesia-an.

Saya tentu bersyukur atas masukan dan kritik terhadap tulisan saya, sambil menikmati perjalanan Sofifi-Tobelo dengan jarak tempuh kurang lebih 194 kilometer dengan terus memantau, membaca perdebatan dimaksud.

Terkadang saya berada pada situasi kegelisahan antara memberikan tanggapan atas narasi-narasi, di satu sisi frekuensi sinyal internet putus-sambung sesuai kecepatan mobil. Ini adalah perjalanan yang mengasyikkan karena disuguhkan perdebatan pengetahuan.

BACA JUGA  Soroti Kinerja Anggota DPRD Morotai, Akademisi : Wakil Rakyat atau Wakil Kepentingan?

Jarang terlihat tradisi perdebatan pengetahuan yang memanfaatkan ruang komunal yang terkanalisasi dalam sebuah grup WhatsApp. Oleh karena itu, saya berfikir akan sangat bermanfaat jika percakapan dan perdebatan itu dinarasikan kembali, sebagai bentuk mengkonsolidir pengetahuan yang berserak. Jika tidak dirangkai kata menjadi satu kesatuan, maka pengetahuan itu akan mengalami keterkoyakan dan berakhir pada kenikmatan pengetahuan yang sifatnya personal.

BACA JUGA  Polemik Teluk Weda, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Halteng Desak Copot Kepala DLH

Untuk menghindari semuanya, saya memulai menarasikan kembali sebagai upaya mencari ”titik sambung pengetahuan”.

Samsul Rizal memulai perdebatan dalam WAG mengatakan  bahwa yang terpenting baginya nilai-nilai Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa terutama dalam kehidupan sosial, politik dan demokrasi, karena kalau hanya sekedar dirawat dan dijaga, Pancasila akan mengalami “distorsi”.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah