Pancasila, Moderasi Beragama dan Harmoni ke-Indonesia-an

- Editor

Senin, 6 Maret 2023 - 14:27 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salim Taib

Salim Taib

Sebelum menjelaskan isi dari ideologi Pancasila dari Indonesia Merdeka Bung Karno menelusuri lapisan-lapisan sejarah panjang Nusantara, menggali, mengkaji, dari buminya Indonesia berupa anasir-anasir yang telah menjadi tradisi kebiasaan, serta karakter  kehidupan rakyat Indonesia yakni bhineka tunggal Ika berbeda-beda tetap satu, serta kehidupan yang membanting tulang, peras tenaga, pikiran dan otak itulah kehidupan gotong royong yang telah menjadi kebiasaan sejak lama.

Oleh Bung Karno kemudian merumuskan anasir serta lapisan kehidupan masa lampau itu menjadi pembeda dari bangsa-bangsa Eropa dan Timur Tengah. beliau tegakkan Indonesia merdeka di atas fondasi dan idiologi Pancasila, oleh karena itu Pancasila adalah karya monumental, karya yang paling berharga sebuah karya yang isinya tidak tercerabut dari akar yang menjalar dari bumi dan rahim ibu pertiwi.

BACA JUGA  Ketua Ikaperik : Pemerintah Belum Serius Garap Potensi Kelautan di Malut

Sebuah tulisan Soekarno dimuat di suluh Indonesia (12 Agustus 1928) yang mengkritik tentang bangunan ideologi dari bangsa-bangsa Eropa, Bung Karno mengungkapkan bahwa nasionalisme kita adalah nasionalisme ketimuran dan sekali-kali bukanlah Nasionalisme kebaratan yang menurut perkataan C.R Das adalah suatu nasionalisme yang menyerang-nyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluannya sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalismenya kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi  “perkakasnya Tuhan” dan membuat kita hidup dalam roh.

Pembeda tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa Indonesia bukanlah bangsa yang sekuler, bangsa yang menegasikan nilai-nilai agama yang menjadi sublimasi atas ideologi Pancasila yang oleh As’ad Ali dalam Negara Pancasila menyebutkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebuah rumusan nilai yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan. Sejatinya nilai tersebut menjadi parameter dan sekaligus merupakan paradigma yang mampu menjadi pedoman sekaligus menjadi jawaban terhadap berbagai problem kehidupan bangsa Indonesia baik kehidupan demokrasi, politik, ekonomi dan budaya.

Berita Terkait

Demokrasi Semu dan Demokrasi Rasional
Demokrasi Idiot, Peta Jalan Baru Demokrasi Rasional (CAT)
Bau Itu Bernama Politik Busuk 
Pangan Lokal dalam Cengkraman Industri Tambang
Dahsyatnya Sedekah Subuh
Ibu, Tokoh Sentral Dalam Keluarga
Bertahta di Pohon Khuldi
Perempuan Dalam Bayang-bayang Industri Pertambangan PT IWIP
Berita ini 247 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 10:10 WIT

Tunggak Jasa Medis Rp 1 Miliar, Ini Penjelasan Dirut RSUD Ir. Soekarno

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:32 WIT

Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!