Pancasila, Moderasi Beragama dan Harmoni ke-Indonesia-an

- Editor

Senin, 6 Maret 2023 - 14:27 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salim Taib

Salim Taib

Karena itu, kesadaran penganut agama-agama akan pengalaman memaknai ajaran agama, yang lebih manusiawi harus terus dilakukan untuk kehidupan yang lebih beradab. Maka tidak ada jalan yang lebih arif selain membaca ulang kitab suci masing-masing ummat beragama dengan menekankan pada prinsip persamaan ajaran agama.

Moderasi Prinsip Persamaan

Agama dengan kitabnya masing-masing, yang diturunkan oleh Tuhan pada ummatnya yang berbeda-beda, sudah pasti setiap penganut agama akan menafsir secara berbeda pula, karena itu tak jarang kita temukan titik persinggungan yang membahayakan, itu karena penganut agama mencoba mentafsir bahasa Tuhan mereka  sesuai dengan kemauannya sendiri dan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi yang melingkupinya, bisa jadi karena faktor kedengkian, faktor politik kekuasaan, sosio kultur.

Menafsir pesan agama untuk disampaikan kepada ummatnya masing-masing, pada konteks kekinian dalam upaya membangun kedamaian abadi antar ummat beragama, di tengah-tengah beragamnya kehidupan, ada beberapa hal yang harus dihindari dan terus dilakukan, agar agama menjadi (melting pot) perekat kehidupan damai.

Pertama, mewujudkan inklusivisme beragama. Keterbukaan dalam beragama tidak bisa diartikan hanya sekedar pengakuan kebenaran agama yang kita anut, akan tetapi dengan penuh kearifan mengakui kebenaran agama orang lain, kesadaran inilah oleh para pemimpin Gereja dalam Konsili Vatikan II pada tahun 1960-an menyepakati bahwa saatnya kita meninggalkan prinsip “Extra Eccleciam Nulla Salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan), diganti dengan pandangan yang lebih positif terhadap agama-agama lain dengan mengakui adanya keselamatan di luar Gereja, begitu pula sebaliknya ummat Islam pada saat yang sama harus mengakui di luar masjid ada keselamatan. Klaim kebenaran terhadap ajaran agama yang kita anut adalah sesuatu yang harus kita lakukan, namun pada saat yang sama kita juga harus mengakui kebenaran agama lain.

BACA JUGA  Santrani: “Malut Ideal Dibagi (jadi) Dua Provinsi”

Berita Terkait

Demokrasi Semu dan Demokrasi Rasional
Demokrasi Idiot, Peta Jalan Baru Demokrasi Rasional (CAT)
Bau Itu Bernama Politik Busuk 
Pangan Lokal dalam Cengkraman Industri Tambang
Dahsyatnya Sedekah Subuh
Ibu, Tokoh Sentral Dalam Keluarga
Bertahta di Pohon Khuldi
Perempuan Dalam Bayang-bayang Industri Pertambangan PT IWIP
Berita ini 247 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:52 WIT

Tauhid Soleman Kembalikan Formulir Pendaftaran Balon Walikota Ternate ke Gerindra

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Rabu, 17 April 2024 - 17:00 WIT

Saksi Akui Terdakwa Stevi Sering Minta Foto Selfie dengan AGK

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!