Pancasila, Moderasi Beragama dan Harmoni ke-Indonesia-an

- Editor

Senin, 6 Maret 2023 - 14:27 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salim Taib

Salim Taib

Sudah saatnya agama-agama kini membaca kembali hakikat kehadiran agama agar menjadi agen-agen perdamaian dengan meminjam Roadmap Kementerian Agama Republik Indonesia tentang jalan membangun perdamaian, menjaga kerukunan, merawat toleransi dengan jalan Moderasi Beragama.

Moderasi Kehendak Damai

Murtadha Muthahhari dalam “bedah Tuntas Fitrah, Mengenal Jati Diri, Hakekat dan Potensi Kita, mengatakan bahwa manusia dari hari ke hari, dari saat ke saat, fase ke fase memiliki kehendak untuk terus berubah, kehendak untuk terus berubah inilah, oleh Murtadha dianggap sebagai bentuk dari nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia sebagai fitrah yang telah ada sejak kelahiran.

Hal ini bisa dilihat dalam rentang panjang sejarah, bahwa kehendak untuk berubah dalam damai adalah keniscayaan sejarah. Sejarah panjang kemanusiaan terus berubah dalam ruang dan waktu yang dinamis, dan ini menjadi kehendak fitrah yang tidak bisa di negasikan. Dalam perspektif sejarah agama-agama, tercatat bentangan panjang lorong kegelapan menuai agama-agama. Agama penuh dengan intrik serta konflik, pertumpahan darah menjadi sesuatu yang wajar dalam panggung umat beragama. Agama menampilkan wajah yang penuh anti kemanusiaan.

Penganut ummat beragama pun dalam fase berikutnya, menyadari bahwa keadaan kehidupan beragama seperti ini, tidak akan memberi kenyamanan dalam kehidupan. Oleh karena itu fase kegelapan, fase perang antar ummat beragama harus ditinggalkan. Jika tidak maka ummat manusia di zaman mendatang akan meninggalkan agama, karena agama hanya menjadi candu yang memabukkan bagi penganutnya, candu yang akan menegasikan eksistensi ummat lain yang berbeda agama, ataukah mungkin pada persepsi ini kita akan mengikuti apa yang dikemukakan oleh Dr. Khami’i yang mengemukakan beberapa pendapatnya tentang agama bahwa beragama merupakan kebodohan dan agama muncul dari faktor ketidakberdayaan manusia.

BACA JUGA  Pemuda Pancasila Prihatin Bayi Kelainan Jantung dan Gizi Buruk

Berita Terkait

Demokrasi Semu dan Demokrasi Rasional
Demokrasi Idiot, Peta Jalan Baru Demokrasi Rasional (CAT)
Bau Itu Bernama Politik Busuk 
Pangan Lokal dalam Cengkraman Industri Tambang
Dahsyatnya Sedekah Subuh
Ibu, Tokoh Sentral Dalam Keluarga
Bertahta di Pohon Khuldi
Perempuan Dalam Bayang-bayang Industri Pertambangan PT IWIP
Berita ini 247 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 10:10 WIT

Tunggak Jasa Medis Rp 1 Miliar, Ini Penjelasan Dirut RSUD Ir. Soekarno

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:32 WIT

Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!