Kali ini, saya tidak sendirian, beberapa orang-orang mulai berdatangan untuk memancing. Kedatangan mereka adalah awal strike saya. Byurrr…seekor ikan berhasil naik ke permukaan dan jatuh dalam perahu. Pikirku, ini akan menjadi bahan perlawanan ketika diejek karena belum mendapatkan ikan, saya akan memperlihatkan ikan ini sebagai penutup ocehan mereka, hihihi!
Kedatangan mereka menambah jumlah menjadi enam orang di lokasi pancingan. Tiga orang perempuan tak lain adalah kakak-kakak saya, tiga lainnya lagi merupakan om dan juga adik saya di kampung. Di kampung, yang jelas semuanya adalah keluarga.
Om saya sempat marah ketika eceng gondok sesekali menghalau area pancingnya. Dari situ, saya membuka pembicaraan perihal tumbuhan yang mengapung ini.
Setahu om saya, penanganan tumbuhan eceng gondok ini sudah dilakukan sejak tahun 2019 oleh Satker Operasi dan pemeliharaan Sumber Daya Air (OPSDA). Proyek ini dianggarkan langsung dari APBN melalui kementerian pusat (PUPR) ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara.
Kurang lebih sudah lima tahun penanganan ini berlangsung, hanya saja pembersihan eceng gondok di danau Galela belum juga dapat diselesaikan hingga kini. “Padahal kalau dorang (mereka) serius, tara sampe (tidak sampai) satu tahun juga so (sudah) bersih ini danau,” gerutu om saya sambil memasang umpan di alat pancingnya.
Sebagai anak yang hidup di Galela, saya berpikir bahwa danau ini merupakan aset dan harga diri orang galela. Bagaimana tidak? danau ini mampu menghidupi sebagian besar warga yang tinggal disini selain dari hasil pertanian. Karena di danau ini, warga sering memancing, menjala, bahkan membudidayakan ikan. Budidaya ikan mujair sangat membantu kebutuhan ekonomi keluarga bahkan mencukupi biaya anak-anak mereka untuk bersekolah.
Jam menunjukkan pukul 11.30 Wit, mengingat ini adalah hari Jumat, kami semua memutuskan untuk pulang lebih awal. Ikan yang kami bawah pulang mungkin hanya saya yang paling sedikit, kurang lebih 15 ekor. Cukup untuk hidangan siang seusai turun Jumatan.
Sebagian perahu sudah melepas diri dari tap. Saya masih membereskan alat pancing bersiap-siap untuk naik ke daratan. Tali jangkar sudah dilepas dari perahu, saya mengayuh perahu yang sesekali di hadang oleh tumbuhan eceng gondok. Di kepala terpikir, kapan ancaman ini akan berakhir, sementara kehidupan orang-orang di desa masih terus berlanjut. ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!