Nasib para petani tidak terlalu menjanjikan apalagi terjadi pembiaran Negara atas keberlangsungan nasib hidup mereka, inilah yang membuat petani berada pada posisi tidak setara dengan perlakuan yang tidak adil, seperti yang diurai sebelumnya persaingan pasar yang tak setara dengan kemampuan sumberdaya petani kita membuat keberadaan mereka semakin berada pada jurang kesengsaraan apalagi pemerintah, pasar, organisasi internasional dan banyak bentuk lembaga yang membuat status, posisi, kesejahteraan dan kekuatan petani melemah sepanjang waktu. Lalu untuk apa kita bersorak berfikir nasib para petani dan berteriak akan perbaikan nasib hidup mereka, sementara pada sisi yang lain ada pembiaran Negara seolah-olah biarlah hidup petani seperti itu terus menerus.
Kita juga merasakan, melihat dan menyaksikan nasib para petani di Provinsi Maluku Utara tidak ada kehendak bersama para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun pihak swasta untuk memandang petani menjadi tumpuan harapan hidup sejahtera, padahal 80-90% warga Maluku Utara pekerjaannya petani. Katakanlah hasil produksi petani perkebunan misalnya tanaman kelapa dalam (Kopra) harga jual di pasar berada pada titik nadir dan telah berlangsung cukup lama kurang lebih 5 tahun nasib petani perkebunan terutama pada komoditi Kelapa Dalam antara biaya produksi yang dikeluarkan dengan harga jual yang diterima hanya menghasilkan hutang piutang untuk panen berikutnya. sadis dan miriis. sudah begitu nasib mereka, tapi tidak ada upaya yang sungguh-sungguh oleh pemangku kepentingan mencari jalan keluar untuk menghadirkan pihak swasta berinvestasi pada komoditi pertanian. gonofu, tampurung, dibiarkan membusuk tidak seperti Negara india yang begitu maju dan sejahtera nasip petani terutama di komoditi kelapa dalam, karena mereka bisa memproduksi gonofu menjadi tali dan bahan empuk kasur.
Negeri para raja jazirahtul mulk dalam catatan sejarahnya hanya karena kekayaan hasil-hasil pertanian (rempa) memunculkan peristilahan Imperialisme dan kolonialisme hal ini dibuktikan dalam catatan Giles Milton judulnya “Pulau Run Magnet Rempah-Rempah Nusantara yang diTukar dengan Manhattan” pulau Run yang letaknya di timur hindia belanda atau timur Indonesia memberikan daya tarik para koloni baik Inggris maupun Belanda menuju meja perundingan, dan hasil perundingannya bangsa Inggris memberikan pulau Run yang ditumbuhi dengan rempah-rempah berupa pala dan cengkeh diserahkan kepada belanda dan belanda menyerahkan sebuah kota yang berada di sebelah selatan ujung sungai Hudson satu dari lima kota bagian yang membentuk kota New York, mahalnya rempah serta kuatnya posisioning para petani zaman lampau di Negara agraris Nusantara ini hingga memunculkan peperangan, saling rebutan untuk monopoli dagang antara bangsa-bangsa Eropa, Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga jepang. Gambaran masa lampau sejarah dengan kedigdayaan para petani yang berjuang mempertahankan komoditi mereka pala dan cengkeh memberi keberlanjutan hidup hingga kini.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!