Penulis : Dr. Mohtar Umasugi, S.Ag, M.Pd.I (Akademisi)
Ada satu hal yang sering kita lupakan dalam membaca sejarah kebudayaan bahwa ia tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi justru dari ruang-ruang kecil yang paling sunyi dari cerita seorang ibu kepada anaknya.
Apa yang dialami oleh Adnan Husen dalam upayanya menghidupkan kembali Gabalil Hai Sua adalah contoh paling jujur bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu untuk dipanggil pulang.
Berita yang ditayangkan Haliyora.id memperlihatkan bagaimana Gabalil Hai Sua bukan sekadar agenda budaya, melainkan sebuah ritual sakral yang pernah hidup, lalu hilang, dan kini berusaha dihidupkan kembali.
Tradisi ini dahulu menjadi bagian dari perjalanan batin masyarakat Sula sebelum merantau sebuah ritus yang mengandung makna spiritual, identitas, dan keterikatan emosional dengan tanah asal. (Haliyora.id)
Namun, yang menarik bukan hanya soal kebangkitan tradisi itu sendiri, melainkan narasi di baliknya: sebuah ingatan yang diwariskan melalui cerita seorang ibu. Di titik ini, kita melihat bahwa Gabalil Hai Sua tidak lahir dari program pemerintah atau desain kebijakan, tetapi dari memori kultural yang hidup dan diwariskan secara personal.
Di sinilah letak persoalan kritisnya. Ketika sebuah tradisi dihidupkan kembali dari ruang cerita menuju ruang realitas, ia akan berhadapan dengan tantangan yang jauh lebih kompleks. Cerita selalu romantis—ia menyederhanakan masa lalu, memuliakan nilai, dan mengabaikan konflik. Sementara realitas menuntut struktur, konsistensi, bahkan keberlanjutan.
Gabalil Hai Sua, sebagaimana disebutkan, sempat digelar pada 2019 lalu terhenti hampir enam tahun sebelum kembali dihidupkan pada 2026. (Haliyora.id) Fakta ini memberi pesan penting: bahwa problem utama tradisi di daerah bukan pada ketiadaan nilai, tetapi pada lemahnya sistem keberlanjutan. (Haliyora.id)
Artinya, kita tidak kekurangan cerita tetapi kita kekurangan komitmen.
Jika Gabalil Hai Sua hanya berhenti sebagai event tahunan, maka ia akan kembali jatuh pada siklus yang sama hidup sesaat, lalu mati perlahan. Tetapi jika ia diletakkan sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan terhubung dengan pendidikan, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis kearifan lokal maka ia akan menjadi kekuatan peradaban.
Makna paling dalam dari Gabalil Hai Sua sebenarnya terletak pada filosofi “Sua Wel Bihu” Sula sebagai panggilan pulang. Ini bukan sekadar ajakan fisik untuk kembali ke kampung halaman, tetapi juga panggilan eksistensial untuk kembali pada identitas.
Dalam konteks masyarakat modern, terutama diaspora Sula, makna “pulang” sering kali tereduksi menjadi nostalgia. Padahal, sebagaimana tergambar dalam fenomena ini, tradisi memiliki kekuatan untuk memanggil kembali kesadaran kolektif bahkan bagi mereka yang telah lama terpisah dari tanah asalnya. (Haliyora.id)
Di sinilah Gabalil Hai Sua menemukan relevansinya: sebagai jembatan antara generasi lama dan generasi baru, antara masa lalu dan masa depan, antara cerita dan realitas.
Sebagai sebuah refleksi kritis, saya melihat bahwa upaya yang dilakukan oleh Adnan Husen patut diapresiasi sebagai langkah awal, tetapi tidak boleh berhenti pada romantisme kultural semata. Ia harus ditransformasikan menjadi gerakan kebudayaan yang terstruktur.
Ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian: Pertama: institusionalisasi tradisi. Gabalil Hai Sua harus memiliki basis kelembagaan yang jelas, bukan sekadar bergantung pada figur atau momentum.
Kedua; integrasi dengan pembangunan daerah. Tradisi ini perlu dikaitkan dengan sektor ekonomi, pendidikan, dan pariwisata agar memiliki nilai strategis, bukan hanya simbolik. Ketiga; regenerasi nilai. Generasi muda harus dilibatkan bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pewaris dan penggerak.
Tanpa itu semua, Gabalil Hai Sua akan tetap berada di antara cerita dan realita, hidup dalam narasi, tetapi rapuh dalam praktik.
Pada akhirnya, Gabalil Hai Sua mengajarkan kita satu hal penting bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan untuk dikenang, tetapi amanah untuk dijaga. Cerita seorang ibu bisa menjadi awal, tetapi masa depan tradisi ditentukan oleh sejauh mana kita mampu merawatnya secara kolektif.
Jika tidak, maka apa yang hari ini kita rayakan sebagai kebangkitan, bisa saja esok kembali menjadi kehilangan. Dan kita akan kembali mengulang cerita yang sama tentang sesuatu yang pernah ada, tetapi tidak pernah benar-benar kita jaga. (*)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!