Dari Cerita Ibu ke Ritual Leluhur: Adnan Husen dan Upaya Menghidupkan Gabalil Hai Sua di Tanah Sula

Ingatan tentang kampung halaman kadang tidak hadir lewat perjalanan jauh, melainkan dari suara paling dekat yakni ibu. Bagi Adnan Husen (57), kecintaan pada Kabupaten Kepulauan Sula tumbuh bukan dari pengalaman panjang tinggal di sana, melainkan dari cerita yang berulang-ulang, nyaris tanpa jeda, sejak ia kecil.

Cerita itu sederhana, tapi menetap.

Tentang desa-desa di Sula. Tentang adat istiadat. Tentang ritual yang dulu dijalani para leluhur sebelum meninggalkan kampung halaman. Semua mengalir dalam keseharian, bahkan di waktu-waktu paling sunyi.

“Umi saya itu, mau tidur cerita Sula, bangun juga cerita Sula,” kenang Adnan, Rabu (29/4/2026).

Bagi sang ibu, Sula bukan sekadar titik geografis. Ia adalah ingatan yang hidup, sekaligus kerinduan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kampung halaman bukan sesuatu yang ditinggalkan, melainkan sesuatu yang terus dibawa dalam cerita, dalam doa, dalam cara mengingat.

Di situlah Adnan tumbuh.

Pelan-pelan, ia memahami bahwa cerita yang terus diulang itu bukan sekadar nostalgia. Ada nilai yang diwariskan. Ada identitas yang dijaga. Ada panggilan yang, suatu saat, harus dijawab.

Jawaban itu datang dalam bentuk yang tidak biasa, menghidupkan kembali sebuah tradisi lama bernama Gabalil Hai Sua.

Ritual yang Pernah Hilang, Kini Dipanggil Pulang

Gabalil Hai Sua bukan sekadar kegiatan budaya. Ia adalah ritual sakral yang dahulu dijalani leluhur masyarakat Sula sebelum merantau sebuah perjalanan yang bukan hanya fisik, tetapi juga batin.

BACA JUGA  Warga Maliaro Keluhkan Pelayanan Air Bersih PDAM Ake Gaale

Tradisi ini sempat digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula pada 2019. Namun setelah itu, ia seperti menghilang, terhenti, tanpa kelanjutan, selama hampir enam tahun. Ia barulah hidup lagi pada 2026 ini. Tepatnya pada tanggal 2-6 Mei, kegiatan besar ini akan dilaksanakan.

Di tengah kekosongan itulah, Adnan mengambil peran.

Sebagai penasehat sekaligus promotor kegiatan, ia mencoba menghidupkan kembali apa yang nyaris terlupakan. Bukan karena ambisi besar, melainkan karena dorongan yang terasa personal, nyaris seperti panggilan.

“Ini seperti panggilan. Apa yang umi ceritakan, saya coba wujudkan dalam bentuk kegiatan nyata,” ujarnya.

Apa yang dulu hanya hidup dalam cerita, kini perlahan dihadirkan kembali dalam realitas.

Lebih dari Sekadar Perjalanan

Bagi Adnan, Gabalil Hai Sua tidak bisa dipahami sebagai aktivitas seremonial semata. Ia bukan sekadar berjalan mengelilingi Pulau Sulabesi, bukan pula sekadar agenda budaya tahunan.

Ada makna yang lebih dalam yang tidak selalu terlihat.

Tradisi ini, menurutnya, adalah cara untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ia menjadi ruang pertemuan antara ingatan leluhur dan kehidupan generasi sekarang.

Di sana, identitas tidak hanya dikenang, tetapi juga dijalankan.

Lebih jauh lagi, Gabalil Hai Sua menghadirkan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam narasi pembangunan: rasa pulang.

BACA JUGA  Kehadiran PT. TGM di Pulau Talaibu Berdampak Positif Bagi Masyarakat

Sua Wel Bihu, itu artinya Sula panggilan pulang. Bahkan ada keluarga saya yang sudah puluhan tahun tidak kembali ke Sula, tapi karena kegiatan ini, mereka ingin pulang,” tuturnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan lapisan makna yang dalam. Bahwa di balik sebuah tradisi, ada kekuatan untuk memanggil orang kembali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Warisan yang Tidak Boleh Putus

Apa yang dilakukan Adnan bisa dibaca sebagai upaya kecil di tengah arus besar modernisasi. Namun justru di situlah letak pentingnya.

Di banyak tempat, tradisi sering kali berhenti karena tidak ada yang melanjutkan. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak lagi dianggap relevan. Adnan memilih jalan sebaliknya.

Ia mempercayai bahwa cerita-cerita lama masih punya tempat di masa kini, asal ada yang mau merawatnya. Bahwa identitas tidak datang begitu saja, tetapi dibangun dari ingatan yang terus dijaga.

Dan dalam kasusnya, semua itu bermula dari seorang ibu yang tidak pernah lelah bercerita tentang kampung halamannya.

Dari sana, Gabalil Hai Sua tidak hanya hidup kembali sebagai tradisi. Ia juga menjadi pengingat bahwa cinta pada tanah kelahiran bisa diwariskan, bahkan dari hal yang paling sederhana, sebuah cerita sebelum tidur. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah