Haliyora.id – Di tengah arus mobilitas global yang kian cair, cerita tentang anak daerah yang menembus batas geografis selalu menemukan relevansinya. Kali ini datang dari Aphandic Duvadilan atau akrab disapa Dylan yang resmi dilantik sebagai Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia periode 2025–2026.
Pelantikan yang berlangsung pada 11 April 2026 itu bukan sekadar seremoni organisasi mahasiswa. Ia menjadi penanda bagaimana identitas lokal, profesionalisme, dan jejaring global dapat bertemu dalam satu simpul kepemimpinan.
Di kampus Universiti Sains Malaysia, salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Malaysia, Dylan kini memegang peran strategis: memimpin komunitas mahasiswa Indonesia yang tak hanya berfungsi sebagai ruang solidaritas, tetapi juga sebagai kanal diplomasi sosial-budaya.
Prosesi pelantikan dipimpin oleh perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Penang, Safaat Ghofur, dan turut disaksikan oleh jajaran pimpinan kampus, termasuk Abdul Rais Abdul Latif. Kehadiran mereka menegaskan bahwa organisasi pelajar bukan entitas pinggiran, melainkan bagian dari ekosistem relasi antarnegara.
Di Antara Dua Dunia: ASN dan Akademisi
Di balik perannya sebagai ketua organisasi pelajar, Dylan membawa identitas lain yang tak kalah penting: aparatur sipil negara (ASN). Ia bertugas sebagai pejabat fungsional di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, mengelola pengadaan barang dan jasa, sebuah bidang yang menuntut presisi, akuntabilitas, dan integritas tinggi.
Menjalankan peran birokrasi sekaligus menempuh pendidikan di luar negeri bukan perkara sederhana. Namun, bagi Dylan, keduanya justru saling menguatkan.
Latar belakangnya sebagai arsitek profesional memberi fondasi berpikir yang sistematis dan solutif. Sementara pengalaman sebagai ASN membentuk kepekaan terhadap tata kelola dan pelayanan publik. Kombinasi ini menjadi modal penting dalam memimpin organisasi yang beranggotakan mahasiswa dari beragam latar belakang.
Representasi Daerah di Ruang Global
Lebih dari sekadar capaian personal, kepemimpinan Dylan juga memuat dimensi representasi. Ia membawa nama Maluku Utara ke ruang yang lebih luas melampaui batas administratif menuju jejaring internasional.
Dalam sambutannya, Safaat Ghofur menyoroti pentingnya peran mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai duta informal bangsa. Mereka bukan hanya belajar, tetapi juga membangun citra Indonesia melalui interaksi sehari-hari.
Hal serupa disampaikan pihak kampus USM yang melihat komunitas mahasiswa Indonesia sebagai salah satu yang paling aktif dan kontributif dalam dinamika kampus.
Membangun Ruang Inklusif
Sebagai Ketua Umum, Dylan mengusung visi menjadikan PPI USM sebagai ruang yang inklusif dan progresif. Ia ingin organisasi ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah pengembangan kapasitas dan kolaborasi lintas disiplin.
“Ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang bagaimana kita bersama membawa nama Indonesia, khususnya Maluku Utara, ke ruang yang lebih luas,” ujarnya kepada Haliyora.id, Minggu (12/4/2026).
Pernyataan itu mencerminkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap organisasi: dari sekadar struktural menjadi fungsional dari simbolik menjadi berdampak.
Melampaui Batas Geografis
Kisah Dylan adalah pengingat bahwa batas geografis tak lagi menjadi penghalang utama. Dengan akses pendidikan dan jejaring global, anak-anak daerah memiliki peluang yang sama untuk tampil di panggung internasional.
Namun, lebih dari itu, yang membuat kisah ini relevan adalah bagaimana ia tetap terhubung dengan akar: sebagai ASN, sebagai representasi daerah, dan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan Indonesia.
Pelantikan ini, pada akhirnya, bukan sekadar awal masa jabatan. Ia adalah penanda bahwa narasi tentang daerah tidak lagi berhenti di pinggiran, melainkan mulai ditulis ulang dari pusat-pusat pengetahuan dunia. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!