Lantunan Barzanji terdengar pelan dari ujung kampung Desa Tuwokona, Kecamatan Bacan Selatan, Halmahera Selatan, Rabu (27/5/2026) pagi. Di antara gema takbir Idul Adha yang belum sepenuhnya reda, sekelompok warga mulai berjalan perlahan sambil mengiring seekor kambing menuju masjid desa.
Pukulan rebana bertalu-talu mengikuti langkah mereka. Anak-anak berjalan di barisan depan membawa umbul-umbul kecil. Sementara para ibu tetua kampung melantunkan syair-syair pujian bernuansa Islami yang akrab dikenal masyarakat setempat sebagai Barzanji.
Di Desa Tuwokona, hewan kurban tak langsung disembelih begitu saja.
Ada sebuah prosesi adat-religius yang lebih dulu dijalankan warga. Mereka menyebutnya “Saliara”, meski nama yang lebih dikenal dalam tradisi masyarakat adalah Hadrat.
Tradisi itu terus hidup dari tahun ke tahun, menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Adha di desa pesisir tersebut.
Sekitar sejam setelah Shalat Idul Adha selesai, warga mulai berkumpul di ujung perkampungan. Hewan kurban kemudian diarak bersama menuju masjid yang menjadi titik penyembelihan.
Tak ada jarak antar generasi dalam tradisi ini. Anak-anak, remaja, pemuda hingga para tetua kampung berjalan beriringan dalam satu rombongan.
Sebagian memainkan rebana. Sebagian lainnya melagukan Barzanji. Sisanya mengikuti arak-arakan sambil mengumandangkan takbir.
Di sepanjang jalan desa, warna-warni umbul-umbul bergerak mengikuti tarian kecil para peserta Hadrat. Sesekali warga yang menonton di depan rumah ikut berselawat pelan ketika rombongan melintas.
Bagi masyarakat Tuwokona, tradisi ini bukan sekadar seremoni budaya.
“Iya, tradisi ini bisa dibilang sudah lama di Desa Tuwokona, karena tradisi ini tak pernah terlewati setiap Hari Raya Kurban,” ujar Kepala Desa Tuwokona, Nursanti Awal, saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurut Nursanti, Hadrat merupakan pertemuan antara nilai adat dan ajaran agama yang selama ini dijaga masyarakat desa.
“Tradisi ini bernuansa adat dan agama. Karena para peserta membacakan kitab Barzanji sebagai nyanyian dan diikuti tabuhan rebana,” jelasnya.
Di balik lantunan syair dan irama rebana itu, tersimpan pesan tentang pengorbanan dan keikhlasan yang diwariskan lintas generasi.
“Tradisi ini sebagai pengingat bagi kita tentang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam yang tertulis dalam Al-Quran,” lanjut Nursanti.
Setelah seluruh rangkaian Hadrat selesai dilakukan, barulah hewan kurban disembelih. Takbir, tahmid, dan tahlil kembali menggema dari sekitar masjid, menyatu dengan keramaian warga yang sejak pagi mengikuti prosesi tersebut.
Di banyak tempat, Idul Adha mungkin hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban. Namun di Tuwokona, hari raya juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang tradisi, kebersamaan, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur.
Hadrat bukan hanya tentang arak-arakan kambing menuju masjid. Ia adalah cara masyarakat menjaga hubungan antara agama, adat, dan kehidupan kampung yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. (*)
Pewarta : Muhammad Rifdi Umasangadji
Editor : Arbi Achmad Yono

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!