Aspal, Lampu Kota, dan Harapan yang Tertunda di Pasar Higienis Ternate

Malam turun tanpa banyak suara di Jalan Sultan M. Djabir Sjah. Cahaya lampu kendaraan memantul di permukaan aspal, membentuk kilau tipis yang bergerak seiring arus lalu lintas. Kota tetap hidup, berdenyut dalam ritme mesin dan klakson yang bersahutan. Namun di sela hiruk itu, ada kehidupan lain yang berjalan lebih pelan dan nyaris tak terdengar.

Di tepian Pasar Higienis Ternate, beberapa ibu pedagang masih bertahan. Mereka duduk di balik lapak sederhana, sebagian hanya beralas terpal tipis, sebagian lagi mengandalkan meja seadanya. Lampu kecil menggantung seadanya, menerangi sayur, ikan, dan bahan pokok yang tersisa dari siang hari.

Wajah-wajah itu tampak lelah, tapi tidak menyerah. Ada keteguhan yang sulit dijelaskan, sejenis daya tahan yang lahir dari kebutuhan, bukan pilihan.

Beberapa waktu lalu, ruang yang mereka tempati bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah titik bertahan hidup. Namun penertiban yang dilakukan pemerintah kota mengubah semuanya. Area parkir yang sebelumnya menjadi ruang ekonomi informal kini kembali dikosongkan.

BACA JUGA  Intip Harga Ikan di Pasar Higienis Ternate Pasca Lebaran

Para pedagang pun berpindah, bukan karena siap, tetapi karena terpaksa.

Yang tersisa kini bukan hanya lapak darurat, melainkan juga ketidakpastian. Janji relokasi yang sempat disampaikan belum juga menemukan bentuk. Tak ada kejelasan lokasi, tak ada kepastian waktu. Yang ada hanya jeda panjang, menggantung di antara harapan dan kenyataan.

“Tong cuma mo tempat yang jelas, (Kami hanya inginkan tempat yang jelas),” kata seorang ibu, pelan, hampir tenggelam oleh deru kendaraan. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung beban yang panjang bahwa kebutuhan akan kepastian, bukan sekadar janji.

Di tengah situasi itu, kehadiran wakil rakyat nyaris tak terasa. Aspirasi yang semestinya diperjuangkan bersama justru berjalan sendiri, dipikul oleh mereka yang bahkan untuk bertahan hidup pun harus berjuang setiap hari. Tak ada forum terbuka, tak ada pendampingan yang nyata.

BACA JUGA  PT. Antam Terancam Tinggalkan Halmahera Timur

Seolah-olah, suara mereka berhenti di trotoar.

Malam semakin larut. Sebagian pedagang mulai merapikan barang, sebagian lain masih berharap ada pembeli terakhir. Lampu-lampu kendaraan terus melintas tanpa henti, seperti waktu yang tak pernah memberi jeda.

Di kota yang terus bergerak, perjuangan kecil itu tetap ada. Diam, namun tak pernah benar-benar padam.

Di bawah cahaya lampu jalan, di atas aspal yang menyimpan panas siang, harapan itu masih bertahan. Menunggu, entah sampai kapan, untuk akhirnya menemukan tempat yang bisa disebut pasti. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah