Ketika Pulau Sulabesi Menjadi Jalan Pulang bagi Para Leluhur

Langit Sanana belum sepenuhnya tinggi ketika lantunan adzan dan shalawat pecah bersahut-sahutan dari kawasan Benteng De Verwachting, 2 Mei 2026. Di antara batu-batu tua peninggalan sejarah kolonial itu, ribuan warga berdiri rapat, seolah tak ingin satu momen pun terlewat.

Saat para peserta Gabalil Hai Sua mulai melangkah, suasana berubah menjadi ruang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tangis jatuh tanpa aba-aba. Pelukan terjadi tanpa banyak bicara. Seakan-akan yang dilepas bukan sekadar rombongan pejalan kaki, melainkan ingatan panjang tentang asal-usul itu sendiri.

Tagline “Sua Wel” atau “Bihu Sula Panggil Pulang” bukan sekadar slogan. Ia menjelma semacam panggilan yang menyentuh lapisan paling dalam dari ingatan kolektif masyarakat Sula.

Tradisi yang Kembali: Ketika Cerita Orang Tua Menjadi Perjalanan Nyata

Bagi banyak warga, Gabalil Hai Sua bukan hal baru. Namun lama ia hidup hanya sebagai cerita, dituturkan pelan oleh para orang tua di sela malam, di antara kenangan yang nyaris pudar.

Kini, cerita itu kembali berjalan di atas tanahnya sendiri.

Dan yang membuatnya berbeda. Ia tidak hanya disaksikan, tetapi dihidupi.

Di setiap desa yang dilalui, masyarakat tidak berdiri sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Air minum diletakkan di depan rumah. Makanan disiapkan tanpa diminta. Semua dilakukan dengan kesadaran sederhana yakni para pejalan itu sedang membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar langkah kaki.

Keramahtamahan yang Diam-Diam Menjadi Ritual Baru

Ada cara-cara kecil yang justru paling membekas.

BACA JUGA  Duo Telaga Moro di Morotai akan Dikembangkan

Warga tidak menunggu peserta datang mengetuk pintu. Mereka justru menunggu di tepi jalan, membawa apa yang bisa mereka berikan seperti sebotol air, sepiring makanan, atau sekadar senyum yang tidak dibuat-buat.

Di beberapa titik persinggahan, suasana bahkan berubah menjadi haru yang lain. Ada warga yang kecewa bukan karena kekurangan, tetapi karena rumahnya tidak sempat disinggahi para peserta untuk bermalam.

Sebab dalam tradisi ini, menerima peserta Gabalil Hai Sua di rumah bukan sekadar keramahan melainkan kehormatan.

Ketika Tradisi Menghidupkan Ekonomi Desa

Di balik denting emosi dan doa, ada denyut lain yang ikut bergerak. Itu tak lain adalah ekonomi desa.

Sejumlah pelaku UMKM merasakan langsung dampaknya. Di Desa Nahi, pelaku usaha Daharu menyebut pendapatan mereka meningkat hingga jutaan rupiah selama kegiatan berlangsung. Makanan, minuman, hingga kebutuhan perjalanan menjadi komoditas yang bergerak cepat di tengah arus peserta dan pengunjung.

Gabalil Hai Sua, tanpa banyak jargon pembangunan, perlahan menjadi ruang ekonomi yang tumbuh dari akar budaya.

Jejak Leluhur, Ziarah, dan Perjalanan yang Lebih Sunyi

Tidak semua langkah hanya tentang jarak. Di sela perjalanan, sejumlah peserta menyempatkan diri berziarah ke makam leluhur dan tokoh-tokoh penting Sula. Doa dipanjatkan dalam diam yang khusyu, seolah perjalanan ini juga membuka pintu lain. Pintu untuk kembali mengenali siapa yang pernah membentuk tanah ini.

Di beberapa titik, perjalanan juga berhenti sejenak untuk sholat. Sebab bagi sebagian peserta, langkah kaki ini tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Sebab mereka tau, sebuah upaya menyambung ulang hubungan antara tubuh, tanah, dan bait-bait doa yaitu sholat.

BACA JUGA  Gegara Ini, 2 Kapal Penumpang Gagal Berlabuh di Pelabuhan Sanana 

Jalan-Jalan yang Penuh Air Mata

Saat rombongan memasuki Kota Sanana, suasana kembali pecah dalam gelombang haru yang lain. Ribuan warga turun ke jalan. Anak-anak berdiri di bahu jalan, orang tua menatap dari kejauhan, pemuda berjejer tanpa banyak suara.

Tidak ada yang benar-benar menjadi penonton. Semua seperti sedang menunggu sesuatu yang mereka kenal, tetapi lama tidak kembali.

Di Desa Waipa, tim asal desa disambut bak keluarga yang kembali dari perjalanan panjang. Mereka dijemput, dipeluk, lalu diantar menuju garis akhir, seperti mengantar pulang sesuatu yang berharga.

Di Desa Fatcey, suasana berbeda namun sama dalam makna. Penyambutan Tim Sibolang berlangsung khidmat. Azan dikumandangkan, hadrat ditabuh, lalu para peserta melangkah di atas kain putih, simbol kesucian sekaligus penghormatan atas perjalanan 135 kilometer yang telah mereka tempuh.

Bukan Sekadar Perjalanan, Melainkan Ruang Ingatan

Pada akhirnya, Gabalil Hai Sua 2026 tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai perjalanan mengelilingi Pulau Sulabesi. Ia bukan sekadar perjalanan melainkan ruang ingatan.

Ia berubah menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Antara ekonomi dan budaya, antara tubuh yang berjalan dan ingatan yang pulang.

Di tanah Sula, langkah kaki itu bukan hanya mengukur jarak. Ia sedang merawat sesuatu yang jauh lebih rapuh yakni ingatan tentang leluhur, dan keyakinan bahwa mereka tidak pernah benar-benar pergi. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah