Sofifi, Maluku Utara – Langit Pulau Batang Dua, Kota Ternate, belum sepenuhnya pulih dari trauma. Di antara puing rumah yang runtuh dan wajah-wajah lelah yang masih menyimpan cemas, harapan perlahan kembali tumbuh.
Sabtu (11/4/2026), Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, datang bukan sekadar membawa janji, tetapi juga mendengarkan.
Ia melangkah di antara reruntuhan, menyapa warga satu per satu, menunduk untuk berbicara dengan mereka yang kehilangan tempat berteduh.
Didampingi Wakil Gubernur Sarbin Sehe dan Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly, Sherly memilih berdiri dekat dengan warga, bukan di balik meja laporan.
Di hadapan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Musrifah Alhadar, ia menegaskan satu hal yang menjadi kunci pemulihan yakni data. “Perkim sudah mendata rumah yang rusak? Berapa jumlahnya?” tanyanya, langsung, tanpa basa-basi.
Bagi Sherly, angka bukan sekadar statistik. Di balik setiap rumah yang tercatat rusak, ada keluarga yang menunggu kepastian.
Gempa berkekuatan 7,6 magnitudo pada Kamis pagi (2/4), yang mengguncang wilayah itu telah mengubah banyak hal dalam hitungan detik. Namun, bagi pemerintah daerah, waktu tidak boleh terbuang lama untuk memulihkan.
Ia memastikan, koordinasi dengan pemerintah pusat telah dilakukan. Laporan sudah dikirim ke Kementerian Perumahan, membuka jalan agar bantuan segera turun.
Bagi rumah yang rusak ringan hingga sedang, pemerintah menyiapkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) senilai Rp 20 juta hingga Rp 35 juta per unit. Sementara itu, rumah yang mengalami kerusakan berat akan dibangun kembali sepenuhnya.
Namun, Sherly tidak menutup kenyataan bahwa proses tetap membutuhkan tahapan.
“Tidak bisa langsung. Butuh waktu,” ujarnya, jujur.
“Tapi saya upayakan secepat mungkin. Paling lambat dua minggu sudah mulai berjalan.”
Di tengah keterbatasan, kalimat itu menjadi pegangan. Pendataan masih terus berlangsung. Pemerintah provinsi memastikan setiap bantuan nantinya tepat sasaran, tidak sekadar cepat, tetapi juga adil.
Di Batang Dua, gempa memang meruntuhkan rumah. Tapi kunjungan itu menunjukkan, harapan belum ikut runtuh.
Dan bagi warga, kehadiran pemimpin yang datang, mendengar, dan berjanji untuk kembali membangun adalah awal dari pulihnya kehidupan. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!