Sanana, Maluku Utara – Di tengah derasnya arus budaya populer yang datang silih berganti, tidak semua jejak para pelaku seni berhasil tersimpan dengan baik. Banyak nama besar yang pernah mengisi ruang ingatan masyarakat perlahan memudar karena minimnya dokumentasi. Salah satu di antaranya adalah Loela Drakel, penyanyi legendaris asal Kepulauan Sula yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari perkembangan musik di Maluku Utara dan Indonesia Timur.
Kini, upaya untuk menjaga jejak perjalanan hidupnya tengah dilakukan melalui sebuah film dokumenter berjudul Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan. Film tersebut saat ini memasuki tahap produksi dan mulai menjalani proses syuting. Rencananya fil dokumenter ini akan ditayangkan pada Agustus 2026.
Proyek ini merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Tahun 2025 yang direalisasikan pada 2026.
Bagi Moh. Idra Faudu, inisiator sekaligus asisten sutradara film tersebut, gagasan mengangkat Loela Drakel ke layar dokumenter berangkat dari sebuah kegelisahan saat melakukan riset tentang tokoh-tokoh maestro budaya Indonesia.
Ia menemukan satu fakta yang menurutnya cukup mengejutkan, yakni sosok sebesar Loela Drakel ternyata belum pernah didokumentasikan secara khusus dalam bentuk film.
“Saat melakukan riset Dana Indonesiana dengan tema dokumentasi legenda atau maestro kebudayaan, saya menemukan bahwa Loela Drakel merupakan salah satu tokoh besar yang belum pernah dibuatkan film dokumenter. Dari situ saya menghubungi teman saya, Uje, yang bergerak di bidang perfilman dokumenter, dan kami menyusun proposal pengajuan,” ujar Idra kepada Haliyora.id, Kamis (11/6/2026).
Proposal yang mereka susun kemudian bersaing dengan ratusan proposal lain dari berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya, tim tersebut berhasil lolos dan memperoleh dukungan untuk merealisasikan film dokumenter tentang perjalanan hidup Loela Drakel.
“Alhamdulillah, kami lolos untuk memproduksi film dokumenter Loela Drakel yang berjudul Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan,” katanya.
Film ini akan membawa penonton menelusuri perjalanan panjang seorang anak dari Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, yang kemudian menapaki jalan hidup sebagai musisi hingga dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia Timur.

Kisah yang diangkat tidak hanya berhenti pada panggung-panggung pertunjukan atau karya-karya musik yang pernah dilahirkan. Film tersebut juga akan merekam perjalanan manusia bernama Loela Drakel: masa kecilnya di Sanana, proses merantau, hingga perjalanan karirnya yang membawanya ke Ternate, Jakarta, Manado, Papua, dan berbagai daerah lainnya.
Sebagian besar proses syuting akan berlangsung di Sanana dan Ternate. Di Sanana, tim produksi akan merekam berbagai memori yang berkaitan dengan masa muda Loela Drakel, lingkungan tempat ia tumbuh, serta ruang-ruang yang menjadi saksi awal perjalanan hidupnya.
Sementara di Ternate, kamera akan mengikuti berbagai jejak karier, nostalgia, dan kisah-kisah penting yang pernah membentuk perjalanan hidup sang penyanyi, termasuk cerita yang terhubung dengan Jakarta, Manado, Nabire, dan sejumlah kota lain yang pernah menjadi bagian dari pengembaraannya.
Bagi Idra, Loela Drakel bukan sekadar penyanyi yang memiliki banyak lagu populer. Loela adalah figur penting yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan musik di Kepulauan Sula, Maluku Utara, bahkan Indonesia Timur.
“Beliau adalah panutan bagi banyak musisi lokal. Pada masanya, Loela Drakel merupakan salah satu penyanyi besar yang dikenal luas. Jika kisah dan karya-karyanya tidak didokumentasikan, maka itu akan menjadi kerugian besar bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Pengaruh tersebut tidak hanya terlihat dari karya-karya yang Loela tinggalkan, tetapi juga dari banyaknya musisi yang tumbuh dan berkembang berkat inspirasi, pembinaan, serta teladan yang diberikan Loela Drakel selama bertahun-tahun berkesenian.
Meski hingga kini jumlah pasti lagu dan album yang pernah diproduksinya belum diketahui secara detail, hasil riset penulis Asgar Saleh mencatat bahwa karya-karya Loela Drakel mencapai lebih dari 200 lagu.
Angka itu menjadi penanda betapa panjang dan produktif perjalanan seorang musisi yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia musik.
“Loela Drakel sangat berjasa bagi perkembangan musik di Kepulauan Sula, Maluku Utara, bahkan Indonesia Timur. Beliau memiliki perjalanan hidup yang panjang dan mewakili kehidupan seorang musisi sejati,” kata Idra.
Di mata banyak pendengarnya, nama Loela Drakel mungkin paling mudah dikenang melalui lagu-lagu populer bertema cinta seperti Anggur Merah dan Kapan Kau Kembali. Namun warisan yang ditinggalkannya jauh melampaui lagu-lagu romantis tersebut.
Selama bertahun-tahun, Loela Drakel juga menciptakan berbagai lagu yang mengangkat kekayaan budaya, keindahan alam, dan potensi wisata daerah, baik di Maluku Utara maupun Sulawesi Utara.
Yang lebih penting lagi, karya-karyanya telah berfungsi sebagai ruang penyimpanan ingatan kolektif masyarakat melalui bahasa.
Dalam banyak lagu yang ia ciptakan, Loela Drakel menggunakan bahasa Sula, Ternate, Halmahera, Tidore, hingga sejumlah bahasa daerah di Sulawesi Utara. Di saat banyak bahasa daerah menghadapi ancaman kehilangan penutur, lagu-lagu tersebut menjadi medium yang menjaga bunyi, makna, dan identitas budaya agar tetap hidup.
“Jauh sebelum promosi wisata menjadi tren seperti sekarang, Loela Drakel sudah memperkenalkan berbagai destinasi wisata melalui lagu-lagunya. Beliau bukan hanya seorang penyanyi, tetapi juga pengarsip budaya, bahasa daerah, dan promotor wisata lewat karya musik,” pungkasnya.
Film Menjaga Bunyi, Merawat Ingatan diproduseri Teguh Barakati dan disutradarai Aim. Tim produksi juga melibatkan Moh. Idra Faudu sebagai inisiator sekaligus asisten sutradara, Uje sebagai inisiator kedua, Tomas sebagai kameramen, Muszaya Karie sebagai kameramen II, serta Rivandi Pauwah sebagai roadman.
Ketika film ini rampung nantinya, yang tersimpan bukan hanya kisah seorang penyanyi. Ia juga akan menjadi upaya merawat ingatan kolektif tentang bagaimana musik dapat menjadi penanda zaman, penjaga bahasa, sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi yang akan datang. (RMT/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!