Perempuan, Tubuh, dan Kampus: Membaca Ulang Kartini dari Lorong-Lorong Hari Ini

Pagi di kampus selalu dimulai dengan langkah-langkah tergesa. Sepatu beradu dengan paving blok, suara motor berdesakan di parkiran, dan mahasiswa yang berlari mengejar jam kuliah pertama. Di antara keramaian itu, ada seorang perempuan berkacamata. Tatapannya tajam, caranya berjalan tenang, seolah ia tidak sedang mengejar waktu, melainkan sedang membaca dunia.

Ia bukan tokoh terkenal. Tidak memimpin organisasi besar. Tidak pula sering tampil di panggung seminar. Tetapi di ruang-ruang kecil kampus, ia dikenal sebagai orang yang sulit diam ketika melihat ketidakadilan.

Ia bertanya saat dosen melontarkan candaan seksis di kelas. Ia menyela ketika perempuan selalu diminta menjadi panitia konsumsi sementara laki-laki dianggap pantas memimpin acara. Ia mengangkat tangan saat diskusi organisasi hanya dipenuhi suara-suara maskulin yang saling menimpa.

“Kenapa tubuh perempuan selalu diatur, tapi pikirannya jarang didengar?” katanya suatu siang.

Pertanyaan itu menggantung di ruang kelas yang tiba-tiba sunyi.

Di kampus, tubuh perempuan sering kali hadir lebih dulu daripada gagasannya. Mahasiswi dinilai dari pakaian, cara duduk, nada bicara, hingga ekspresi wajah. Jika berpakaian rapi dan menarik, dianggap mencari perhatian. Jika terlalu sederhana, dianggap tidak merawat diri. Jika vokal, disebut galak. Jika diam, disebut tak punya kapasitas.

BACA JUGA  Fun Run Edukasi Geowisata Batu Angus

Tubuh perempuan di kampus bukan sekadar tubuh. Ia sering dijadikan papan pengumuman bagi penilaian orang lain.

Padahal kampus seharusnya menjadi tempat ide tumbuh, bukan ruang penghakiman. Tetapi sejarah panjang patriarki ternyata tidak berhenti di rumah, pasar, atau kantor pemerintahan. Ia ikut masuk ke ruang kuliah, menyelinap dalam birokrasi organisasi mahasiswa, bahkan bersembunyi di balik istilah “tradisi”.

Perempuan berkacamata itu memahami hal tersebut. Karena itu, ia tidak sekadar belajar teori di kelas. Ia membaca kenyataan. Ia tahu bahwa indeks prestasi tidak otomatis membuat kampus adil. Gelar akademik tidak selalu menandakan kesadaran sosial.

Ia pernah bercerita, bagaimana seorang temannya enggan maju sebagai ketua organisasi karena takut dicemooh: “Perempuan terlalu emosional untuk memimpin.” Ia juga pernah melihat korban pelecehan justru ditanya soal pakaian yang dikenakan malam itu. Kampus yang katanya rumah ilmu, kadang masih gagap membela korban dan terlalu cepat melindungi reputasi.

Di titik itu, Kartini terasa dekat.

Selama ini Kartini sering diperingati dengan kebaya, lomba busana, dan kutipan-kutipan yang dipajang setahun sekali. Padahal Kartini bukan sekadar simbol keanggunan. Ia adalah keberanian untuk berpikir di tengah tembok adat yang rapat. Ia adalah kegelisahan seorang perempuan yang menolak dibatasi hanya karena lahir sebagai perempuan.

Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia tidak hanya menulis surat dari kamar pingitan. Mungkin ia akan menulis utas panjang tentang kekerasan seksual di kampus, tentang upah kerja perempuan yang timpang, tentang standar kecantikan yang menekan, atau tentang bagaimana perempuan masih harus bekerja dua kali lebih keras untuk dianggap setara.

BACA JUGA  Tarif Angkutan Umum di Ternate Disepakati Naik 50 Persen, Mahasiswa jadi Rp 5.000

Dan mungkin, ia akan memakai kacamata.

Perempuan berkacamata itu tidak mengaku sedang meneruskan perjuangan siapa-siapa. Ia hanya ingin hidup normal: belajar tanpa diremehkan, berbicara tanpa dicibir, berjalan tanpa diganggu, memimpin tanpa dicurigai, dan menjadi dirinya sendiri tanpa harus meminta izin pada dunia.

Namun justru dari keinginan yang tampak sederhana itulah, perubahan sering dimulai.

Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada nostalgia. Ia harus menjadi cermin: sejauh mana kampus telah menjadi ruang aman bagi perempuan? Sejauh mana tubuh perempuan masih dijadikan objek komentar? Sejauh mana suara perempuan benar-benar didengar, bukan sekadar dipersilakan bicara lalu diabaikan?

Lorong-lorong kampus pagi itu kembali ramai. Mahasiswa lalu-lalang, jadwal kuliah berjalan, diskusi organisasi menunggu malam. Perempuan berkacamata itu melangkah seperti biasa, membawa buku di tangan kiri dan keberanian di kepala.

Kartini mungkin tidak hadir dalam potret berbingkai hari ini.

Tetapi ia hidup, diam-diam, di langkah perempuan-perempuan yang terus bertanya. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah