“Saya sebelumnya tidak menyangka bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi dan penuhi kebutuhan sehari-hari. Memang semuanya itu karena ada tambang ini, tapi sekarang kami kesusahan karena tambang sudah tutup. Bukan hanya uang semester, tapi kebutuhan anak di kos-kosan juga setengah mati”
Ikbal (46) mengatakan itu dengan raut wajah sedih ketika disambangi wartawan Haliyora.id di kediamannya pada Minggu, 17 Agustus 2025.
Tanah dan jalanan cukup basah, sewaktu wartawan media ini menghampiri tiga orang warga yang duduk berdekatan di serambi rumah sambil bercerita.
Di depan mereka, terlihat sejumlah peralatan yang dipakai untuk menambang emas. Peralatan itu kini sudah karatakan karena hampir 5 bulan tak dipakai.
Sudah bertahun-tahun lamanya mereka bekerja sebagai penambang emas di Desa Kasubibi, tepatnya di Kecamatan Bacan Barat, Halmahera Selatan. Tambang itu kini diberi garis polisi. Pada Mei 2025 lalu, aktivitas tambang Kasubibi dicekal Polda Maluku Utara. Tambang Kasubibi dilabeli ilegal lantaran tak punya izin resmi.
Penutupan tambang tersebut tentu memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat di sekitar Kasubibi dan beberapa desa tetangga yaitu, Desa Indari, Nondang, Nang, Kokotu, Loleo Jaya, dan Desa Bala Bala, juga bergantung hidup di tambang tersebut. Meski ada pekerjaan lain, tetapi menurut mereka, itu tak menjanjikan seperti halnya menambang emas.
Ikbal alias Iki, Hasan alias Ata, dan Hariyati alias Aty. Ketiganya adalah pahlawan keluarga di tengah paceklik ekonomi yang yang memaksakan mereka harus berjibaku dengan lumpur dan palu demi sesuap nasi dan tabungan untuk pendidikan anak-anak.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!