Masjid Ar-Rahman bukan sekadar simbol bangunan semata. Ia adalah simbol ketekunan, simbol harapan yang tak putus asah, simbol yang lahir dari ketekunan doa dan keringat
Matahari berdiri tegak di langit Galela, seakan turut menyaksikan langkah-langkah perlahan warga Desa Togawa Besi menuju sebuah bangunan yang berdiri dari keringat, doa, dan kesabaran kurang lebih lima tahun lamanya.
Di tanah yang dikelilingi hamparan hijau dan desir angin telaga dari Danau Galela, Maluku Utara, hari itu bukan sekadar hari Jumat biasa. Tanggal 13 Februari 2026 menjadi saksi ketika Masjid Ar-Rahman pertama kali disujudkan.
Bangunan itu berdiri kokoh, dindingnya memantulkan cahaya siang, kubahnya menyentuh langit biru seperti tangan yang sedang memanjatkan rasa syukur. Anak-anak berlarian kecil di halaman, para ibu mengenakan mukena terbaiknya, dan para lelaki melangkah dengan baju koko yang rapi. Tidak ada karpet mahal atau pengeras suara canggih. Namun ada rasa yang tak bisa dibeli.
Lima tahun silam, tanah itu masih sebidang lahan dengan mimpi yang terdengar terlalu besar untuk ukuran desa kecil di Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara.
Di antara tumpukan tela dan semen yang pernah basah oleh hujan, ada cerita tentang warga yang kerap melawan ketidakpastian. Ada kisah tentang para warga yang mengusap lelah di antara tumpukan kelapa. Ada malam-malam panjang di mana rapat digelar di teras rumah, ditemani semangat dan harapan yang tak pernah putus.
Warga memulai pembangunan dengan patungan seadanya. Ada yang menyumbang dari hasil kebun kelapa, ada yang menyisihkan upah buruh, ada pula yang membantu tenaga selepas bekerja.
Musim hujan pernah menunda pengecoran. Harga bahan bangunan sempat melonjak. Proposal bantuan tak selalu mendapat jawaban cepat. Tetapi rapat-rapat kecil di teras rumah terus digelar. Di antara kopi panas dan lampu seadanya, nama “Ar-Rahman” dipilih. “Yang Maha Pengasih”, sebagai pengingat bahwa pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan latihan kesabaran. Ar-Rahman diadopsi dari nama masjid tua yang bangunannya lapuk dimakan usia dan kemudian dibongkar. Di atas bekas lahan bangunan tua ini didirikanlah bangunan baru yang kini telah berdiri kokoh.
Ketua Panitia Pembangunan, Iswan, berdiri dengan suara yang sempat bergetar saat menyampaikan sambutan setelah shalat Jum’at perdana. Ia memandang jamaah yang memenuhi shaf, wajah-wajah yang akrab saat pencarian anggaran.
“Terima kasih kepada masyarakat Desa Togawa Besi yang selalu semangat dalam melakukan pencarian anggaran, serta pihak-pihak yang turut membantu pembangunan Masjid Ar-Rahman,” ucapnya.
Adzan pertama yang berkumandang di dalam ruangan itu memantul di dinding yang masih baru, terasa berbeda. Merambat ke sudut-sudut dan keluar melalui pintu-pintu yang terbuka lebar menyentuh halaman, lalu menghilang di atas riak air danau. Ada yang menyebutnya biasa. Namun bagi warga Togawa Besi, gema itu terdengar seperti jawaban atas doa-doa panjang.
Wakil Bupati Halmahera Utara, Kasman Hi Ahmad, yang hari itu bertindak sebagai khatib, menyampaikan pesan yang tak kalah mendalam. Dalam khutbahnya, ia mengajak masyarakat untuk memakmurkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral, penguatan ukhuwah, dan ruang solusi sosial.
“Masjid harus menjadi tempat kita menyatukan hati, memperbaiki diri, dan merajut kebersamaan,” ujarnya.
Ia menyinggung program strategis Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Makmur Bersama Masjid bagi umat Muslim dan Makmur Bersama Gereja bagi umat Nasrani. Sebuah gagasan yang ingin menjadikan rumah ibadah sebagai pusat penguatan iman sekaligus pemberdayaan masyarakat. Di tanah yang dikenal dengan keberagaman dan persaudaraan lintas iman, pesan itu terasa relevan dan menggetarkan.

Bagi warga Togawa Besi, hari itu bukan hanya peresmian bangunan. Itu adalah peneguhan bahwa gotong royong masih hidup. Bahwa di tengah segala keterbatasan, mereka mampu membangun sesuatu yang akan berdiri lebih lama dari usia sebagian dari mereka.
Di shaf belakang, seorang lelaki tua menyeka air mata selepas salam terakhir. Ia termasuk yang ikut menggali fondasi pertama lima tahun lalu. Tangannya kini bergetar, tapi sorot matanya mantap. Ia menyaksikan sendiri bagaimana tumpukan material bangunan yang dulu berserakan kini menjelma menjadi ruang sujud yang utuh, saf-saf telah terisi, doa-doa telah terlantun, dan harapan-harapan baru telah ditanam.
Masjid Ar-Rahman bukan hanya tentang kubah dan menara. Ia adalah simbol ketekunan. Ia adalah saksi bahwa kebersamaan mampu melampaui segala kekurangan. Di setiap sujud pertama yang dilakukan hari itu, terselip doa agar desa kecil ini tetap rukun, tetap saling menjaga, dan tetap memelihara cahaya iman.
Sebagai ucap syukur, warga Desa Togawa Besi menggelar makan bersama setelah selesai ibadah. Dan ketika jamaah mulai meninggalkan masjid, langkah mereka terasa lebih ringan. Seakan ada keyakinan baru yang tumbuh di dada masing-masing, bahwa selama persaudaraan dijaga, selama doa tak pernah berhenti, maka harapan akan selalu menemukan jalannya. ***
Penulis : Risal Sadoki
Editor : Arbi Achmad Yono

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!