Sementara, Ketua Umum Sylva Unkhair, Bahtiar S Malawat menyebutkan, proyeksi laju deforestasi hutan kedepannya akan lebih gila lagi. Hal tersebut karena ada proses penambangan dengan terus mengikuti luas garapan perusahaan penambang.
“Terutama penambang nikel ini karena mereka akan lebih dulu melakukan pembersihan area dengan membabat habis tegakan hutan sebelum mereka harus mengeruk tanahnya,” katanya.
Selain itu kata Bahtiar, bercokolnya perusahaan penambang nikel ini seiring juga dibangunnya pabrik pengolahannya seperti di Halmahera Tengah ada PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan di Obi, Halmahera Selatan ada kawasan industri nikel milik PT Harita Group. Pabrik nikel ini sepenuhnya menggunakan batu bara sebagai saluran listrik untuk menghidupkan operasi pabrik.
“Artinya, ada dampak yang tidak langsung yang ditimbulkan dari PLTU, selain dampak langsung dari PLTU yang terus menyemprot polusi ke udara,” ucapnya.
Untuk kasus deforestasi yang patut menjadi cermin adalah di semenanjung selatan kaki Pulau Halmahera yaitu Gane adalah fakta, dimana Hutan dan kebun-kebun rakyat yang sudah ditanami tanaman produktif terpaksa lenyap tergusur korporasi Sawit. Bahkan sungai-sungai yang dipakai sebagai sumber air minum juga tenggarai ditutup perusahaan sawit. (RUL-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!