Tiklas Babua, pemuda lainnya, mengungkapkan sikap itu dengan lebih tegas. “Menanam untuk melawan adalah spirit kami. Jagung manis adalah pilihan kami,” ujarnya.
Baginya, bertani bukan lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bentuk perlawanan. Cara menjaga ruang hidup dari kemungkinan yang dianggap mengancam.
Di titik ini, pertanyaan tentang pembangunan menjadi semakin kompleks.

Halmahera Barat memang membutuhkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam logika kebijakan, investasi seperti geothermal kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun masyarakat Sahu menawarkan perspektif berbeda, bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu harus dibangun dari eksploitasi besar-besaran.
Pertanian, perkebunan, dan peternakan yang sering dipandang sebagai sektor “tradisional” justru menyimpan potensi besar jika dikelola secara terintegrasi. Melalui BUMDes, dukungan teknologi, dan pemasaran digital, sektor ini bisa menjadi sumber ekonomi yang stabil sekaligus berkelanjutan.
Lebih dari itu, pendekatan ini tidak menuntut pengorbanan terhadap hutan, adat, dan identitas.
Di tengah arus modernisasi dan tekanan investasi, Suku Sahu menunjukkan bahwa ada jalan lain yang bisa ditempuh, jalan yang mungkin lebih lambat, tetapi lebih berakar.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata soal memilih antara pertanian atau geothermal.
Ini adalah soal arah pembangunan, apakah ia akan berdiri di atas fondasi kehidupan masyarakat, atau justru mengabaikannya.
“Kita tidak menolak pembangunan,” kata seorang warga. “Kita hanya menegaskan bahwa pembangunan harus menghormati kehidupan.”
Di Sahu, suara tifa dan gong itu masih terus berbunyi. Ia mungkin terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pesan yang jauh lebih besar, tentang tanah, tentang hidup, dan tentang pilihan masa depan yang belum sepenuhnya diputuskan. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!