——————–
Matahari pagi terbit seperti biasa di atas pegunungan Halmahera, namun ada yang berbeda di udara yang dihirup warga kota Ternate. Ada rasa gelisah yang samar, seperti awan tipis yang menghalangi cahaya penuh mentari. Di sebuah warung kecil di sudut Kota Ternate, Pak Muhlis membuka koranya dengan dahi berkerut. “Undang-undang itu akhirnya disahkan juga,” ucapnya sambil menyeruput kopi hitam yang masih mengepul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bagaimana menurutmu tentang undang-undang baru itu pak?” tanya seorang mahasiswa yang duduk disebelahnya, dengan laptop terbuka dan mata masih menyala dengan idealisme muda.
Pak Muhlis, seorang pensiunan dosen sejarah, menghela nafas panjang sebelum menjawab. “Anak muda, aku sudah hidup cukup lama untuk melihat bagaimana sejarah bisa berputar seperti roda. Terkadang maju, terkadang mundur, dan terkadang yang paling berbahaya, berputar ditempat sambil berpura-pura maju,” katanya kepada mahasiswa yang bertanya.
Diluar warung, sebuah konvoi kendaraan militer melintas dengan perlahan. Bukan pemandangan aneh, tapi mengapa lebih mencolok di hari Kamis ini. Para pengunjung warung kopi tanpa sadar menghentikan percakapan mereka sejenak dan sejumlah pasang bola mata mengikuti deretan kendaraan yang lewat.
“Dulu di masa reformasi, kita semua berharap bahwa kekuasaan militer akan tetap berada dalam koridornya, menjaga negara dari ancaman luar, bukan mengatur kehidupan sipil,” lanjut pak muhlis.
“Undang-undang ini….. telah membuka kembali pintu yang seharusnya tertutup,” ucap pak Muhlis dengan nada melemah
Mahasiswa itu mengangguk, jarinya dengan cepat mengetik di laptopnya. Ia adalah bagian dari generasi yang tidak merasakan langsung zaman ketika seragam dan senjata adalah penentu arah bangsa, tapi dari buku-buku dan cerita para senior, ia tahu betapa sulitnya melepaskan diri dari bayang-bayang seragam itu.
“Tapi bukankah undang-undang itu disahkan oleh wakil rakyat kita sendiri, pak? Bukankah itu berarti rakyat menyetujuinya?” tanyanya dengan nada yang lebih penasaran dibandingkan menentang.
Pak Muhlis tersenyum tipis. “Ah, demokrasi dan perwakilanya. Terkadang, jarak antara wakil dan yang diwakili bisa selebar samudra pasifik. Pernahkah kau melihat bagaimana pasal-pasal itu dibahas? Berapa banyak suara publik yang didengar? Ingat ini anak muda, ketika undang-undang yang menyangkut kekuasaan besar disahkan dengan terlalu cepat dengan terlalu sedikit pertanyaan, maka KITA PERLU WASPADA!” sahutnya.
Disudut lain warung kopi, seorang pria berseragam tentara sedang menikmati sarapannya. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan itu, wajahnya tidak menunjukan emosi apapun, tapi matanya sesekali melirik ke arah dua orang tersebut.
Dengan nada suara sedikit merendah, mahasiswa itu bertanya, “Lalu apa yang bisa kita lakukan?.”
“Tetap bicara. Tetap bertanya. Tetap menulis.” Jawab pak muhlis sambil menatap ke jalanan diluar. “Kekuatan terbesar dari undang-undang ini adalah ketika kita berhenti mempersoalkannya, ketika kita menerimanya sebagai hal yang wajar. Saat itulah kita benar-benar kalah.”
Sore itu, pada situasi dan tempat yang lain. Ketika matahari mulai condong ke barat, berita-berita di televisi dan media-media online dipenuhi dengan pembahasan undang-undang baru tersebut. Para pendukung menyebutnya sebagai penguatan sistem keamanan negara, sementara para kritikus menyebutnya sebagai langkah mundur demokrasi. Di tengah perdebatan itu, seorang jurnalis muda mengetik artikelnya dengan gigih, mencoba menjelaskan implikasi dari setiap pasal-pasal kontroversial kepada publik.
Dikantornya yang sederhana, dengan lampu meja seadanya sebagai penerang, ia tahu bahwa kata-katanya mungkin tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Namun ia percaya, selama masih ada yang menulis, selama masih ada yang bertanya, pintu demokrasi mungkin mengecil tapi tidak akan sepenuhnya tertutup.
Sementara itu di sebuah rumah di pinggiran kota, seorang veteran reformasi menatap foto-foto lama yang mengingatkannya pada perjuangan dahulu kala. ”Tidak mudah membangun demokrasi,” bergumam pada dirinya sendiri. “lebih sulit lagi mempertahankanya,” sambungnya.
Malam itu, Halmahera dan Ternate tertidur dengan gelisah, dibawah langit yang sama, namun dengan realitas yang perlahan berubah. Undang-undang baru itu seperti bayangan panjang di sore hari, telah membentang di atas kota, menunggu pagi untuk memperlihatkan wujud aslinya. ***
Penulis : Julfandi G (Sekretaris KATAM Malut)
Editor : A. Achmad Yono