Galela, Maluku Utara – Kondisi Danau Galela kian memprihatinkan. Memasuki pekan ketiga sejak rencana penanganan diumumkan, belum terlihat langkah konkret dari Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Utara untuk mengatasi persoalan sampah yang terus menumpuk di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Kepala DLH Halmahera Utara, Yudhihart Noya, pada 2 April 2026 menyatakan komitmennya untuk menggerakkan aksi pembersihan rutin melalui koordinasi lintas sektor. Program tersebut dirancang melibatkan pemerintah desa, kecamatan, serta aparat TNI-Polri dalam kegiatan gotong royong setiap hari Jumat, dengan fokus pada titik-titik rawan sampah, termasuk kawasan danau.
Namun hingga Senin (20/4/2026), rencana itu belum terealisasi secara nyata di lapangan.
Alih-alih membaik, kondisi lingkungan di sekitar danau justru menunjukkan tren memburuk. Di sejumlah titik, terutama di kaki Gunung Tarakani, Desa Seki, Kecamatan Galela Selatan, sampah rumah tangga tampak menumpuk di tepian danau. Jenisnya beragam, mulai dari botol plastik, kemasan makanan, hingga limbah domestik seperti popok bayi.
Situasi ini memperlihatkan belum adanya sistem pengelolaan sampah yang berjalan efektif, sekaligus menandakan lemahnya pengawasan terhadap perilaku pembuangan sampah oleh masyarakat.
Sekretaris Desa Seki, Utba, mengonfirmasi bahwa hingga kini pihaknya belum menerima koordinasi lanjutan dari DLH. “Belum ada konfirmasi,” ujarnya singkat.
Ketiadaan langkah konkret dari pemerintah daerah memicu kekhawatiran warga. Selain dampak estetika dan lingkungan, masyarakat mulai menyoroti potensi ancaman kesehatan yang lebih serius.
Desakan pun menguat agar pemerintah daerah segera bertindak, tidak hanya melalui kegiatan pembersihan, tetapi juga dengan menghadirkan regulasi tegas. Warga menilai perlu adanya sanksi bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan, disertai penyediaan fasilitas pendukung seperti tempat sampah dan papan larangan di area sekitar danau.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!