Daruba, Maluku Utara – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, mendapat sorotan dari masyarakat. Program yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik itu diduga belum tersalurkan secara merata kepada seluruh sekolah penerima manfaat.
Sejumlah warga menyebut masih terdapat sekolah yang hingga kini belum menerima makanan bergizi gratis, meski program tersebut telah berjalan dalam beberapa waktu terakhir.
Salah seorang warga Morotai Utara berinisial LM mengaku menerima berbagai keluhan terkait distribusi program tersebut. Menurut dia, sejumlah sekolah di wilayah tersebut belum pernah mendapatkan MBG.
“Masih banyak sekolah yang tidak menerima MBG, padahal programnya sudah berjalan,” kata LM kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).
Selain persoalan pemerataan distribusi, muncul pula dugaan bahwa sejumlah ompreng berisi makanan program MBG dibawa pulang oleh oknum petugas yang terlibat dalam penyaluran makanan.
LM mengatakan informasi tersebut sempat ramai diperbincangkan di media sosial setelah beredarnya foto yang memperlihatkan sejumlah ompreng makanan berada di depan salah satu rumah warga. Namun unggahan tersebut dikabarkan segera dihapus.
Menurut LM, oknum yang diduga membawa pulang makanan tersebut merupakan petugas pengantar MBG yang berdomisili di Desa Tanjung Saleh.
Ia menyayangkan tindakan tersebut apabila benar terjadi, mengingat masih terdapat sekolah lain yang belum menerima manfaat program. “Kalau sekolah yang terdata sedang libur, seharusnya makanan bisa dialihkan ke sekolah lain yang membutuhkan, bukan dibawa pulang,” ujarnya.
LM mengaku menerima informasi bahwa aktivitas membawa pulang ompreng makanan itu diduga bukan hanya terjadi sekali. Bahkan, laporan yang diterimanya menyebut praktik tersebut diduga berlangsung berulang kali.
Ia juga mengungkapkan bahwa kapasitas produksi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG di wilayah tersebut disebut mencapai lebih dari seribu ompreng setiap hari dan ditargetkan meningkat hingga sekitar 3.000 ompreng.
Namun, besarnya kapasitas produksi itu dinilai belum sejalan dengan realisasi distribusi di lapangan. Selain itu, warga juga menyoroti tidak adanya papan nama resmi pada bangunan SPPG yang beroperasi di wilayah tersebut.
Kondisi ini memunculkan kekecewaan dari sejumlah pihak karena program yang dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh sasaran penerima manfaat.
LM mengaku mulai menyuarakan persoalan tersebut setelah menerima keluhan dari pihak sekolah terkait belum meratanya distribusi makanan.
“Ada laporan yang kami terima dari pihak sekolah bahwa masih ada siswa yang belum mendapatkan manfaat program sebagaimana mestinya,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, pihak pengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Morotai Utara belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tidak meratanya distribusi maupun informasi mengenai dugaan ompreng makanan yang dibawa pulang oleh oknum petugas.
Wartawan masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak pengelola SPPG dan instansi terkait guna mendapatkan penjelasan serta memastikan kebenaran informasi yang berkembang di masyarakat. (RF/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!