Dengan begitu, kata mereka, pun mengumpulkan uang untuk membayar biaya-biaya dimaksud. sehingga setiap mahasiswa di angkatan itu pun harus merogoh kocek pribadinya sebesar 8,5 juta rupiah.
“Rinciannya sebesar 750 ribu rupiah untuk uang magang, 1.750.000 rupiah untuk KBM, 750 ribu rupiah untuk proposal, 1.750.000 rupiah untuk skripsi dan 3.500.000 untuk wisuda,” ucapnya.
Nah, lanjut mereka, dari 8,5 juta rupiah itu jika dijumlahkan dengan jumlah mahasiswa angkatan ketiga tahun 2021, maka ditotalkan sebanyak 1,6 miliar rupiah lebih.
“Itu kalau Torang (kami) total dari jumlah 195 orang wisudawan. Coba bisa dibayangkan saja, uang sebesar itu tidak dikembalikan kepada kami. Ini ada apa sebenarnya,” tanya mereka sembari dengan nada yang keras.
Anehnya lagi, mereka menambahkan, untuk angkatan berikutnya yang wisuda pada tahun 2022 itu sudah dibayarkan semua.
“Sementara kami belum pernah dibayarkan dari sejak tanggal 7 April kami wisuda sampai 11 April 2023 ini. Ada apa begitu?” paparnya setengah bertanya.
Sambung mereka, bukan hanya belum ada pengembalian, sampai hari ini ijazah mereka pun belum bisa diambil dari tahun 2021 sampai 2023 ini.
“Jadi ijazah kami itu masih di kampus. Tidak bisa diambil karena mereka belum kembalikan uang kami,” ucapnya.
“Jadi hampir 50 persen yang belum ambil ijazah di angkatan kami,” akunya menyambung.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!