Soliloqui Tengah Malam

 

Penulis : Tiklas Pileser Babua

————

Denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen menjadi satu-satunya bunyi yang membelah keheningan teras. Di luar, aspal jalanan ringkih berbaur dengan embus angin dingin yang turun dari punggung bukit. Jam dinding beralih angka, menandakan dunia infanteri siang telah berserah pada lelap. Namun, di sudut ini, kesunyian justru menjadi pemantik bagi sebuah riuh yang tak kasatmata.

Asap putih tipis membubung, meliuk lambat sebelum akhirnya pudar ditelan kegelapan. Di antara jemari yang menjepit gulungan tembakau, sebuah dialog bisu sedang berlangsung. Benda silinder itu membakar dirinya sendiri tanpa interupsi, menjadi saksi bisu bagi benak yang menolak beristirahat.

Tengah malam bukan sekadar pergantian tanggal. Bagi jiwa yang terjaga, ini adalah ruang sidang terbuka. Saat mata memandang pekatnya langit, memori justru memutar rekaman-rekaman yang terserak di siang hari. Ada bayang wajah petani dengan telapak kaki pecah-pecah merawat ladang, nelayan yang menembus ombak buta dengan perahu ringkih, hingga masyarakat adat yang mendadak asing di atas tanah moyangnya sendiri.
Pikiran itu terus mengusik, menggelinding membesar layaknya bola salju.
Bayang-Bayang di Riak Telaga Rano

Aroma kopi hitam yang pekat menguap, berbaur dengan dinginnya embun. Ingatan lalu terpaku pada satu titik koordinat, Telaga Rano. Sebuah hamparan air tenang yang bertindak bagai cermin raksasa pelindung rahasia purba. Bagi mata turis, itu adalah lanskap swafoto yang elok. Namun bagi urat nadi warga sekitar, telaga itu adalah episentrum kehidupan, ritus, dan warisan yang tak ternilai oleh lembaran obligasi negara.

BACA JUGA  Lagi, Banjir Terjang Desa Titigogoli Pulau Morotai

Logika mulai berkejaran dengan nurani ketika desas-desus menara geothermal mulai membayangi kawasan hijau tersebut. Sanggupkah suara-suara lirih dari gubuk bambu menahan laju deru mesin pelubang bumi atas nama proyek strategis? Bagaimana mengonversi rasa cinta tanah kelahiran ke dalam angka-angka investasi yang diminta para perencana di balik meja beton ibu kota?

Bara merah di ujung jemari kembali memercik saat nafas ditarik dalam-dalam. Di balik kepulan putih yang pekat, sebuah skenario alternatif mulai tergambar. Bukan dengan kepalan tangan kosong, melainkan lewat goresan pena anak muda, bidikan lensa kamera dokumenter, dan bait-bait panggung teater jalanan. Perubahan, bagaimanapun juga, selalu menetas dari bisikan-bisikan kecil di warung kopi terpencil, bukan dari ketukan palu sidang yang megah.
Berdamai dengan Retakan Hati

Namun, isi kepala tak melulu berisi manifesto gerilya atau pembelaan kaum papa. Ada kalanya laju kereta pikiran melambat, berbelok tajam menuju lorong paling sunyi dan personal, memori tentang kehilangan.

Pernah ada satu musim di mana seluruh pasokan energi kreatif mendadak padam. Ruang kerja berdebu, lembar kertas putih dibiarkan kosong berhari-hari, dan malam berganti menjadi bilik interogasi yang menyiksa. Ironisnya, kelumpuhan total itu tidak disebabkan oleh ancaman fisik atau tekanan ekonomi, melainkan oleh patahnya satu harapan romansa. Seseorang yang sempat dijadikan kompas masa depan, tiba-tiba berjalan ke arah yang berbeda.

BACA JUGA  Safari Ramadan 1447 H, PLN UP3 Sofifi dan YBM Santuni 50 Anak Yatim di Maluku Utara

Duduk terpaku memandangi sisa abu yang luruh, kesadaran baru justru perlahan terbit. Luka emosional yang awalnya menggerogoti, lambat laun bertransformasi menjadi katalis. Kehilangan tidak lagi dipandang sebagai akhir skenario, melainkan sebuah inisiasi kedewasaan.

Hati manusia ternyata memiliki elastisitas yang luar biasa, ia merenggang saat ditarik rasa sakit, namun tidak pernah benar-benar putus. Dari retakan itulah gairah berkarya kembali menyembur—kali ini dengan karakter yang lebih berani, liar, dan matang.
Menolak Padam

Secangkir kopi kini menyisakan ampas hitam di dasarnya. Gulungan tembakau pun telah memendek mendekati batas jemari. Berada di ambang fajar, ada sebuah kesimpulan yang mengkristal di sudut teras ini. Ide-ide revolusioner tidak membutuhkan ruangan berpendingin udara atau deretan gelar di depan nama. Mereka hanya butuh jiwa yang peduli dan mau terusik oleh ketidakberdayaan sekitar.

Menjadi manusia yang berpikir terlampau jauh memang melelahkan. Merisaukan nasib ekosistem dan manusia lain yang bahkan tak pernah bertukar sapa adalah beban yang sukarela dipikul. Namun, selama detak nadi masih sinkron dengan rasa empati, perjalanan pulang masih harus diteruskan.

Satu sulutan terakhir dilakukan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Biarlah kabut pagi menyapu sisa-sisa kegelisahan, karena di dalam setiap kepulan asap yang hilang, selalu ada harapan yang menolak mati. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah