Geotube hingga Stabilisasi Lereng, Akademisi Sebut Penanganan Sedimentasi PT FHT Efektif

Maba, Maluku Utara – Langkah cepat yang dilakukan PT Feni Haltim (FHT) dalam menangani insiden sedimentasi akibat curah hujan ekstrem mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Respons perusahaan dinilai telah mengacu pada prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang lazim diterapkan dalam kawasan industri modern.

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Aqshan Sadikhin, menilai tindakan awal yang dilakukan perusahaan menunjukkan keseriusan dalam menjalankan tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab sekaligus meminimalkan dampak lanjutan pascakejadian.

Menurut Aqshan, dalam setiap kejadian sedimentasi maupun limpasan material yang dipicu cuaca ekstrem, langkah paling mendesak adalah mengisolasi area terdampak dan menghentikan sumber pencemaran.

“Langkah awal yang krusial adalah isolasi area terdampak dan penghentian sumber pencemaran. Respons cepat ini menunjukkan tata kelola lingkungan yang proaktif dan kesigapan dalam memitigasi dampak lanjutan,” ujar Aqshan saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).

Ia menjelaskan, penghentian sementara aktivitas di area terdampak merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) tanggap darurat lingkungan yang umum diterapkan pada kawasan industri terintegrasi maupun proyek pembangunan berskala besar.

“Ini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas sekaligus memberikan ruang bagi pelaksanaan asesmen dampak lingkungan secara menyeluruh,” katanya.

Lebih lanjut, Aqshan menegaskan bahwa kecepatan intervensi yang dilakukan perusahaan setelah insiden terjadi menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemulihan lingkungan. “Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin kecil area persebaran sedimen dan semakin cepat pula proses pemulihan ekologis dapat berlangsung,” jelasnya.

BACA JUGA  Seorang Wanita di Halteng Bikin Jagat Maya Heboh, Curhat Soal Penyakit yang Dideritanya

Dari aspek teknis, Aqshan menilai penggunaan geotube sebagai sarana pengendalian sedimen merupakan metode yang efektif dan telah digunakan secara luas dalam berbagai proyek pengelolaan lingkungan.

“Geotube sangat efektif sebagai metode dewatering. Material permeabelnya mampu menahan partikel padat atau sedimen secara maksimal, sementara air yang telah terfiltrasi dapat mengalir keluar dengan lebih bersih,” terangnya.

Selain geotube, pemasangan geotekstil dan program stabilisasi lereng juga dinilai menjadi bagian penting dari strategi pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Menurutnya, geotekstil berfungsi melindungi permukaan tanah dari erosi sekaligus meningkatkan stabilitas lereng terhadap gerusan yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan tanggul sedimentasi, sistem drainase, serta infrastruktur pengendalian limpasan air merupakan praktik yang telah menjadi bagian dari Best Management Practices (BMP) dalam pengelolaan lingkungan industri modern.

“Kombinasi tanggul sedimentasi, drainase, dan geotube merupakan pendekatan berlapis yang diakui secara ilmiah sangat efektif dalam mengendalikan sedimen dalam jumlah besar,” ujarnya.

Dalam proses rehabilitasi lingkungan, Aqshan menyebut terdapat sejumlah tahapan yang harus dijalankan perusahaan, mulai dari asesmen kerusakan awal, pembersihan sedimen, stabilisasi area sumber erosi, restorasi vegetasi, hingga monitoring kualitas lingkungan secara berkala.

Menurutnya, pemantauan kualitas air menjadi salah satu indikator paling penting untuk memastikan kondisi perairan kembali memenuhi baku mutu lingkungan yang berlaku.

“Monitoring kualitas air secara berkala merupakan alat ukur objektif untuk memastikan parameter seperti tingkat kekeruhan dan Total Suspended Solids (TSS) kembali normal,” katanya.

BACA JUGA  Dukung Sail Tidore 2022, Basarnas Siap Amankan Jalur Laut dan Udara

Di sisi lain, Aqshan menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah sebagai regulator sekaligus verifikator independen dalam mengawasi proses pemulihan lingkungan. Pelibatan masyarakat lokal juga dinilai dapat memperkuat efektivitas rehabilitasi dan membangun kembali kepercayaan publik.

“Transparansi perusahaan kepada masyarakat merupakan fondasi penting dalam prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Keterbukaan informasi dapat mencegah misinformasi dan memperkuat kepercayaan publik bahwa perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap proses pemulihan,” ujarnya.

Terkait langkah-langkah yang telah dijalankan PT FHT, Aqshan menilai implementasi geotube, stabilisasi lereng, serta penghentian sementara aktivitas di area terdampak mencerminkan adanya komitmen perusahaan dalam memitigasi dampak lingkungan yang terjadi.

“Secara akademis, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab dalam menangani dampak yang terjadi,” tegasnya.

Meski demikian, ia berharap insiden tersebut menjadi pelajaran penting bagi perusahaan, mengingat kawasan industri tersebut masih berada pada tahap konstruksi sehingga sistem pengelolaan lingkungan ke depan dapat dirancang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan potensi cuaca ekstrem sebelum memasuki fase operasi penuh.

“Ke depan, perusahaan perlu terus melakukan monitoring independen, memperkuat infrastruktur retensi air yang berbasis ketahanan iklim, serta menjaga komunikasi yang transparan dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses rehabilitasi berjalan optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Riv/Red)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah