“Tarian Yunduh milik Suku Kadai di Kepulauan Sula resmi masuk sidang penetapan Warisan Budaya Takbenda 2026. Simak sejarah, makna, dan daya tarik budaya yang menjadi identitas masyarakat Sula”
Haliyora.id, Maluku Utara – Di pesisir Pulau Mangoli, Kabupaten Kepulauan Sula, hidup sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Suku Kadai. Tradisi itu bernama Yunduh, sebuah tarian yang tidak sekadar menampilkan gerak tubuh, tetapi juga merekam perjalanan sejarah, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakat setempat.
Kini, Tarian Yunduh berada selangkah lebih dekat menuju pengakuan nasional. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memasukkan Yunduh ke dalam tahapan sidang penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Tahun 2026.
Bersama Yunduh, Kabupaten Kepulauan Sula juga mengusulkan tiga warisan budaya lainnya, yakni Kuliner Ora (umbi-umbian tali), Lapis Sanana, dan Poa Do Hoi, tradisi yang mencerminkan nilai kekeluargaan masyarakat Sula.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sula, Ismail Soamole, mengatakan seluruh usulan tersebut telah melewati proses verifikasi dan kini tinggal menunggu hasil sidang penetapan.
“Masuknya Yunduh dalam tahapan sidang WBTb menunjukkan bahwa tarian ini merupakan warisan budaya masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula. Daerah lain tidak dapat mengklaimnya lagi karena sudah diusulkan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Bagi masyarakat Sula, Yunduh bukan sekadar kesenian pertunjukan. Tarian ini merupakan bagian dari memori kolektif yang telah hidup selama berabad-abad di tengah komunitas Suku Kadai yang tersebar di sejumlah wilayah Pulau Mangoli seperti Desa Auponhia, Wailoba, Waisakai, Wainanas, hingga Pancoran Kum.
Dari Ritual Penyembuhan Menjadi Simbol Kehormatan
Sejarah Yunduh memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi mampu beradaptasi mengikuti perubahan zaman.
Menurut maestro budaya Suku Kadai, Arifin Kaunar, sebelum agama berkembang di tengah masyarakat, tarian ini dikenal dengan istilah Kito Kono Boya Pangarame, yang berarti “kita berdiri bermain Yunduh” atau “kita berdiri menari untuk ritual pengobatan”.
Pada masa itu, tarian dilakukan sebagai bagian dari ritual penyembuhan ketika ada anggota keluarga yang sakit. Masyarakat percaya bahwa melalui ritual yang dijalankan oleh kerabat dan komunitas, orang yang sakit dapat memperoleh kesembuhan.
Perjalanan waktu kemudian mengubah bentuk dan fungsi tradisi tersebut. Istilah Kito Kono Boya Pangarame berkembang menjadi Wonger, sebuah bentuk tradisi yang masih dipengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan alam, pohon besar, dan batu-batu tertentu.
Ketika agama mulai berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tradisi itu kembali bertransformasi menjadi Yusa, lalu berkembang menjadi Yunduh yang dikenal hingga sekarang.
Fungsi Yunduh pun berubah menjadi tarian adat yang ditampilkan dalam berbagai momentum penting, mulai dari penyambutan raja, pernikahan adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga kegiatan keagamaan.
Tarian Tanpa Musik, Sarat Pesan Kehidupan
Salah satu keunikan Yunduh terletak pada iringannya. Berbeda dengan banyak tarian tradisional Nusantara yang menggunakan alat musik, Yunduh justru mengandalkan nyanyian dan syair berbahasa Kadai sebagai pengiring utama.
Lantunan syair tersebut berisi pesan-pesan kehidupan, harapan masyarakat, doa, serta ungkapan penghormatan kepada pemimpin dan tamu yang disambut.
Kekuatan utama Yunduh bukan terletak pada kemegahan instrumen musik, melainkan pada kekayaan bahasa dan pesan budaya yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Dalam pertunjukannya, para penari menggunakan perlengkapan sederhana berupa karung goni, kain merah, dan daun kelapa. Kesederhanaan itu justru menjadi simbol kedekatan masyarakat Kadai dengan alam yang menjadi ruang hidup mereka selama berabad-abad.
Menjaga Identitas Budaya Kepulauan Sula
Masuknya Yunduh ke tahapan sidang penetapan WBTb menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Status Warisan Budaya Takbenda tidak hanya memberikan pengakuan negara, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi promosi budaya dan pariwisata daerah.
Bagi Kepulauan Sula, Yunduh adalah lebih dari sekadar tarian. Ia merupakan identitas, penanda sejarah, sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar kebudayaan leluhur mereka.
Jika nantinya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Yunduh akan menjadi salah satu duta budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Suku Kadai kepada publik nasional bahkan dunia.
Di tengah hamparan laut biru dan gugusan pulau yang menjadi ciri khas Kepulauan Sula, Yunduh terus menari. Menjaga ingatan, merawat tradisi, dan mengisahkan perjalanan panjang sebuah masyarakat yang tak pernah lepas dari akar budayanya. (*)
Pewarta : Mhd. Rismit Teapon | Editor : Arbi Achmad Yono

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!