Alfarabi Umaternate, adalah salah satu pemerhati seni dan budaya di Kepulauan Sula yang turut diundang dan terlibat langsung dalam pementasan Legenda Batu Gadia oleh Sanggar Gendang Gamalama Maluku Utara.
“Kebetulan dari awal diangkat cerita rakyat ini. Saya dilibatkan sebagai sumber cerita dan juga sebagai penerjemah bahasa Sula. Yang paling seru juga para talent atau peserta pentasnya bukan saja anak-anak muda yang ada di Ternate, dan sekitarnya namun ada juga anak-anak Sula yang sedang kuliah di Ternate juga ikut dilibatkan dalam sanggar ini,” katanya.
Alfarabi berharap, pemuda Sula yang terlibat dalam Sanggar ini setelah kembali dari studinya di kota Ternate bisa mengajari generasi berikutnya agar legenda dari Sula ini bisa terlestarikan.
“Ini juga bagian dari cara kita mempublikasikan atau memperkenalkan seni dan kebudayaan daerah Kepulauan Sula yang luar biasa menarik, juga legenda-legenda atau cerita rakyat Kepulauan Sula juga bisa menjadi contoh teladan yang baik untuk setiap langkah dan kehidupan kita,” pungkasnya.
Legenda Fatfina Koa (Batu Gadis), adalah salah satu cerita rakyat asal Kepulauan Sula.
Alkisah, di Keramat, Desa Waitina, Pulau Mangoli, hidup pasangan suami istri bernama Mata Mit dan Fina Bot (Lelaki berkulit hitam dan Wanita berkulit putih). Kedua pasangan suami istri ini mempunyai seorang anak gadis semata wayang bernama Eta Wai Sangiwa. Nama ini diambil dari kali yang berada persis di desa tersebut.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!