Setelah mendapat restu dari sang raja, Labadi langsung cepat-cepat menuju Pulau Mangoli untuk menjemput Eta Wai Sangiwa yang ketika itu sedang mandi di muara kali Wai Sangiwa (Air Sangiwa). Konon, alat transportasi laut yang digunakan Labadi dari Banggai ke Mangoli bukan perahu ataupun kapal pada umumnya, melainkan seekor Hiu.
Tiba di tempat dimana Eta Wai Sangiwa mandi, Labadi kemudian menyapa gadis pujaannya itu sambil mengutarakan niatnya meminang sang gadis. Sayang, pinangannya ini lagi-lagi ditolak oleh Eta Wai Sangiwa. Tanpa berpikir panjang, Labadi pun menarik tangan Eta Wai Sangiwa yang kala itu sedang telanjang sambil memegang sebutir telur yang ia pakai untuk keramas dan naik ke punggung Hiu meninggalkan pulau tersebut.
Namun tetap saja Eta Wai Sangiwa bersikap keras, membentak dan berontak ingin kembali. Tapi karena tidak diindahkan oleh Labadi, Eta Wai Sangiwa lalu mencabut konde dari rambutnya dan menikam tepat di kepala Hiu. Karena kesakitan, Hiu berbalik arah menuju timur Pulau Mangoli, hingga akhirnya ikan itu melepaskan mereka di Batu Liwangka (Fat Liwangka).
Setelah menginjakan kaki di batu tersebut, telur yang dipegang Eta Wai Sangiwa lalu menetas dan menjadi seekor ayam jantan. Kemudian Eta Wai Sangiwa melekatkan diri di batu tersebut karena terlalu lama dalam keadaan telanjang. Tubuhnya perlahan-lahan menyatu dengan batu. Orang-orang menyebut batu ini Fat Fina Koa (Batu Gadis) yang berdiri berpaling ke arah laut sambil memegang seekor ayam jantan di atas batu tebing, di tepi pantai yang berdekatan Desa Waisakai. Batu tersebut tak ubahnya seperti monumen patung ikon sejarah buah tangan seorang arsitektur.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!