Kian hari, Eta Wai Sangiwa tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik jelita dan menjadi rebutan lelaki di kampung tersebut hingga seantero Pulau Mangoli. Puluhan hingga ratusan lelaki pernah meminangnya, namun ditolak oleh orang tua Eta Wai Sangiwa.
Kecantikan Eta Wai Sangiwa tersiar hingga ke negeri seberang dan memikat hati seorang Labadi, putra mahkota kerajaan Banggai di Sulawesi Tengah.
Dengan bermodal seorang putra raja, Labadi berlayar ke Mangoli dengan maksud bertemu Mata Mit dan Fina Bot untuk meminang Eta Wai Sangiwa, anak perempuan semata wayang mereka. Siapa sangka, pinangan Labadi justru ditolak mentah-mentah oleh Mata Mit, ayah Eta Wai Sangiwa. Padahal sebagai putra mahkota, Labadi sangat berharap memiliki gadis berparas eropa, pemilik rambut panjang, hitam dan sedikit kekuningan, wajahnya bulat, hidung mancung, alis tipis, bibir mungil dan pinggul yang ramping.
Pulang dengan tangan kosong, Labadi lalu melaporkan penolakan ini kepada ayahnya yakni Raja Banggai. Sang raja lalu memerintahkan Labadi balik ke Pulau Mangoli untuk menjemput gadis impiannya itu apapun resikonya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!