Kopra Masih ‘jadi’ Komuditas Andalan Ekspor Malut

  • Whatsapp

Ternate, Haliyora.om

Kopra merupakan salah satu komoditas utama Maluku Utara. Bahkan pernah tercatat sebagai komoditas ekspor unggulan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data operasional Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, pada tahun 2014 Maluku Utara berhasil melakukan sembilan kali ekspor kopra langsung ke Philipina sebanyak 17.322.200 kg melalui Pelabuhan Laut Tobelo.

Sementara pada tahun 2015 terjadi penurunan ekspor kopra menjadi tujuh kali, namun volumenya sedikit meningkat yaitu total 18.213.097 kg.

Dan Pada tahun 2016 terjadi penurunan yang sangat drastis, sehingga Maluku Utara hanya mampu melakukan satu kali ekspor dengan volume 850.400 kg. Sejak itu, ekspor kopra Maluku Utara terhenti.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Karantina Tumbuhan Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, Khori Arianti, S.Si kepada Haliyora.com dalam keterangan tertulis via watsapp, Jum’at (10/07/2020).

Meski demikian, kata Khori, kopra Maluku Utara tetap menjadi komoditas ekspor, hanya saja tidak dilakukan langsung dari Maluku Utara. “Kopra dikirim dulu ke Surabaya dan Bitung, baru kemudian dari sana dilakukan ekspor,”ungkap Khori.

Lanjut Khori, data IQFast (Indonesia Quarantine Full Automation System) Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, kopra tetap menjadi komoditas terbesar yang dilalulintaskan keluar.

Pada tahun 2019 misalnya, tercatat kopra Maluku Utara yang dilalulintaskan keluar sebesar 54.470.489 kg. Jika diasumsikan harga kopra Rp. 4.000, di tingkat petani, maka potensi ekonomi dari kopra Maluku Utara pada tahun 2019 mencapai Rp 217 milyar.

Khori memprediksi pada tahun 2020 ini akan terjadi peningkatan, mengingat data lalu lintas kopra dari Januari hingga Juni 2020 sudah mencapai 34.858.897 kg, meningkat 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Potensi ini tentu akan meningkat lagi jika kopra bisa diekspor langsung dari Maluku Utara,”tandasnya.

Katanya, Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate mendukung akselerasi ekspor kopra Maluku Utara melalui pemenuhan ketentuan fitosanitari (SPS) sesuai persyaratan negara tujuan. “Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, terkait program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani,”ujarnya.

Hanya saja, kata Khori, permasalahan ekspor tidak sederhana. Pasar ekspor sangat memperhatikan kualitas dan penampilan atau kemasan. Petani kopra kita menurut Khori masih banyak yang melakukan pengeringan dengan cara diasap. Hal ini menyebabkan kopra yang dihasilkan berwarna cokelat kehitaman.

“Sistim pengeringan kopra di tingkat petani melalui pengasapan itu hasilnya kurang baik, dari segi penampilan maupun kualitas. Usia buah kelapa yang menjadi bahan baku kopra juga mesti diperhatikan. Jika terlalu muda, maka akan menghasilkan kopra yang lunak dan mudah rusak akibat aktivitas mikrobia terutama cendawan (jamur),”jelasnya.

Selain itu, permasalahan seputar investor dan biaya angkutan juga menjadi kendala ekspor langsung. “Namun jika semua bergerak sinergis, pasti bisa,”pungkas Khori. (Rico)

Pos terkait