Ternate, Haliyora.com
Insiden penganiayaan oleh oknum pendukung Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Ahmad Hidayat Mus-Rivai Umar (AHM-Rivai) terhadap pewarta foto harian Malut Post saat unjuk rasa di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku Utara ditanggapi kubu pasangan nomor urut 1 itu.
Melalui juru bicaranya, Sawaludin Damopoli pada Haliyora.com, Selasa (13/11/2018) siang, menyampaikan kubu AHM-Rivai menyatakan permohonan maaf kepada insan pers sekaligus menyalahkan KPU Malut sebagai “biang” dari munculnya kekerasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“KPU Maluku Utara juga ikut bertanggung jawab atas instabilitas demokrasi pasca Pemilihan Suara Ulang (PSU). KPU Malut telah ‘bermain api’ karena menolak rekomendasi Bawaslu untuk mendiskualifikasi AGK-YA karena melakukan sejumlah pelanggaran Pilkada sebagaimana diatur oleh Pasal 71 Undang Undang Nomor 10 Tahun 2016,” ucap Sawaludin.
Tim AHM-Rivai, tutur Sawal, akan terus meminta pertanggungjawaban kepada KPU Malut karena melakukan keputusan tidak sesuai ketentuan dan di luar fakta atau bukti administrasi negara. “Ada yang tidak beres. Dan kami menilai, Syahrani cs tidak amanah lagi,” tegas Sawal.
[artikel number=4, tag=”pers,psu,kpu” ]
Minta Maaf
Terkait dengan aksi penganiayaan yang diduga dilakukan oknum pendukung AHM-Rivai, Sawaludin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh insan pers di Maluku Utara, terutama harian Malut Post atas terjadinya aksi pemukulan terhadap fotografer atas nama Hizbullah.
Dilanjutkan Sawal yang juga pernah menggeluti dunia kewartawanan itu, tim AHM-Rivai menyadari pers adalah mitra strategis untuk menyuarakan aspirasi atau tuntutan masyarakat. “Atas nama tim AHM-Rivai, kami meminta maaf kepada insan pers terutama Harian Malut Post. Apapun yang terjadi, adalah diluar niat gerakan pendukung AHM-Rivai,” ungkap Sawal.
Selain menyayangkan insiden pemukulan, kubu AHM Rivai sepenuhnya menyerahkan urusan ini pada pihak yang berwajib untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Apapun alasannya, imbuhnya, AHM-Rivai tidak membenarkan segala bentuk kekerasan terhadap wartawan.
“Insiden ini jadi bahan interopeksi tim dan pendukung AHM-Rivai agar kedepan tidak lagi ada tindakan kekerasan kepada kuli tinta saat menggelar unjuk rasa,” tuntasnya. (rif)








