Sofifi, Maluku Utara – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan sejumlah strategi pengendalian inflasi dan penguatan ekonomi daerah dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Provinsi Maluku Utara, Jumat (8/5/2026).
Pertemuan yang digelar di Gamalama Ballroom, Bela Hotel, Ternate itu turut dihadiri Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Bank Indonesia Maluku Utara, Forkopimda, OJK, Bulog, Pertamina, serta para kepala daerah kabupaten/kota.
Dalam sambutannya, Sherly mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga yang berhasil menurunkan inflasi daerah secara signifikan.
“Per Mei 2026, inflasi year on year (y-on-y) kita berada di angka 2,03% dan year on tame (y-on-t) di angka 2,59 persen. Angka ini sudah berada di bawah standar nasional. Ini adalah hasil kerja keras seluruh stakeholder dalam menjaga stabilitas harga di Maluku Utara,” ujar Sherly.
Meski inflasi terkendali, ia menyoroti ketergantungan tinggi Maluku Utara terhadap pasokan pangan luar daerah. Sekitar 80 persen beras masih didatangkan dari luar wilayah, sementara komoditas ayam potong dan telur belum diproduksi secara mandiri.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah daerah tengah menyiapkan kerjasama investasi pengembangan lahan peternakan seluas 5–10 hektar. Targetnya, pada 2026 Maluku Utara sudah memiliki produksi ayam petelur sendiri guna menekan disparitas harga yang saat ini mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan Jawa dan Sulawesi.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!