Sanana, Maluku Utara – Petani jagung di Desa Wainin, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan usaha pertanian jagung. Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah tingginya harga pupuk, meskipun masa tanam hingga panen tergolong singkat dan hasil panen cukup menjanjikan.
Takin, seorang petani jagung setempat mengatakan tanaman jagung di wilayah tersebut dapat dipanen dalam waktu sekitar dua bulan sepuluh hari sejak penanaman. Benih jagung umumnya diperoleh petani dengan membeli langsung di pasar lokal.
Dalam proses budidaya, petani menggunakan pupuk mutiara dan pupuk urea. Namun, harga pupuk yang relatif mahal menjadi kendala serius. Saat ini, pupuk mutiara dijual dengan harga sekitar Rp 1 juta per karung berisi 50 kilogram, sementara pupuk urea mencapai Rp 650 ribu per karung. “Kendala pertama itu dipupuk, harganya mahal,” ujar Takim saat ditemui di kebunnya, Kamis (01/01/2026).
Selain pupuk, petani juga memanfaatkan alat pengolahan lahan seperti generator (gendator) yang sebagian besar merupakan bantuan dari pemerintah daerah. Namun, bantuan tersebut umumnya hanya diterima satu kali dalam setahun sehingga belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan petani di lapangan.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!