Petani asal Pulau Jawa ini menjelaskan, pengelolaan lahan jagung dilakukan secara gotong-royong antar petani. Dari satu petak lahan, petani dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp 2 juta jika panen berjalan dengan baik.
Penanaman jagung dilakukan secara bertahap. Satu petak lahan dipanen terlebih dahulu sebelum berpindah ke petak lainnya, guna menyesuaikan ketersediaan tenaga kerja dan sarana produksi.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri, terutama panas ekstrem dan keterbatasan pasokan air. Hingga saat ini, petani masih mengandalkan mesin alkon untuk penyiraman karena belum tersedianya sistem irigasi permanen. “Untuk penyiraman, petani masih mengandalkan alkon,” kata Takim.
Takim menambahkan, dirinya telah menekuni usaha tani jagung di Desa Wainin selama enam tahun terakhir. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam hal ketersediaan dan keterjangkauan harga pupuk bagi petani jagung di wilayah Kepulauan Sula. (RMT/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!