Proyek ini juga melibatkan Badan Pemeriksaan Keuangan Pemerintah Daerah (BPKP) untuk mereview Anggaran Satuan Barang (ASB) untuk anggaran tahun 2026.
“Kami sedang menyusun ASB untuk tahun depan, mengingat pola penganggaran dapat berubah. Misalnya, jika lima kilometer memerlukan biaya Rp 5 miliar, kami harus menyesuaikan angka tersebut,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program gubernur, proyek jalan Trans Kie Raha akan dimulai dari ruas Ekor menuju trans Kobe. Nasrudin mengungkapkan bahwa gubernur telah meninjau lokasi dan mempersiapkan langkah awal pembangunan. Untuk ruas yang direncanakan dari Kobe menuju Maba, kata dia, masih dipending sementara waktu. Kendati begitu, penghentian sementara ruas ini sudah dibicarakan antara Pemprov dan Pemkab Halmahera Timur (Haltim).
“Kami sudah menunjuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan bekerja sama dengan Universitas Khairun Ternate untuk perencanaannya. Proyek ini menggunakan pola swakelola tipe dua,” tambah Nasrudin.
Di samping penyusunan FS, pihaknya juga sedang membentuk peta jaringan jalan yang memerlukan anggaran dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Ia menekankan pentingnya kedua elemen tersebut karena saling terkait meskipun peta jaringan jalan hanya ada dalam bentuk dokumen.
Nasrudin juga mengaku pihaknya tengah menyusun rute alternatif yang akan digunakan. Untuk ruas Sofifi-Ekor terdapat dua alternatif, satu rute langsung dan satu lagi melalui Desa Tabadamai. Sedangkan untuk Ekor-Kobe, terdapat dua hingga tiga alternatif yang sedang terfokus.
“Berdasarkan evaluasi sebelumnya, beberapa revisi yang diperlukan terutama terkait kelandaian rute, agar terdapat kecepatan kendaraan dapat mencapai 60 kilometer per jam,” jelasnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!