Ia juga mengungkapkan bahwa keterlambatan penanganan limbah ini dipicu oleh persoalan internal di Dinkes, khususnya terkait pembayaran gaji petugas pengangkut limbah. “IPAL ini rusak total, perbaikannya harus dengan teknisi dari luar. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, padahal sudah beberapa kali kami sampaikan ke Pemkot Ternate,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski volume limbah cair tidak terlalu besar karena minimnya jumlah pasien, namun tetap berisiko jika terus dibiarkan. “Produksi limbah bisa mencapai beberapa liter setiap bulan. Kalau dibiarkan terus, ini bisa berdampak pada kesehatan dan lingkungan,” tegasnya.
Selain IPAL, Labkesda juga mengalami kekurangan reagen, zat kimia yang dibutuhkan dalam pemeriksaan laboratorium. Akibatnya, sejumlah layanan terpaksa dihentikan.
“Kadang dua bulan tidak ada pasien. Kalaupun ada, kami tolak karena reagen tidak tersedia. Bahkan pemeriksaan dari pihak perusahaan juga tidak bisa kami layani,” tambahnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!