Azis menyebutkan, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya, antara lain Pertama; pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor padat modal (misalnya Industri Manufaktur dengan otomatisasi tinggi), mungkin tidak menyerap banyak tenaga kerja, sehingga meskipun ekonomi tumbuh, namun lapangan kerja yang tersedia tidak cukup untuk menyerap angkatan kerja yang tersedia, termasuk mereka yang baru memasuki pasar kerja.
Kedua; adanya kesenjangan antara keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan keterampilan yang dimiliki oleh angkatan kerja. “Artinya, jika sektor yang tumbuh membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus, namun tidak tersedia atau keterampilan tersebut tidak dimiliki oleh sebagian besar penduduk, maka pengangguran akan tetap tinggi,” ungkap Azis.
Berikutnya ketiga; pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi pengangguran tinggi juga disebabkan titik tumbuh hanya terkonsentrasi pada sektor atau wilayah tertentu, sehingga terjadi ketimpangan. “Artinya bahwa pada sektor atau wilayah lain tidak tumbuh secara signifikan, sehingga lapangan kerja tidak tercipta atau tersedia secara merata. Implikasi lanjutnya pengangguran tetap tinggi,” sambungnya.
Keempat: faktor lain yang menjadi penyebab ekonomi tumbuh tapi pengangguran tinggi adalah jika pertumbuhan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi, maka jumlah pencari kerja akan meningkat lebih cepat daripada lapangan kerja yang tersedia. Ini yang mengakibatkan meningkatkan angka pengangguran.
Selanjutnya kelima; struktur ekonomi yang belum siap atau kokoh untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang pesat tidak diimbangi dengan persiapan infrastruktur, kebijakan, dan sistem yang memadai untuk mendukung pertumbuhan.
“Kondisi ini terkadang menyebabkan in-efisiensi dan menghambat penciptaan lapangan kerja, meskipun ekonomi tumbuh,” tambahnya.
Ia melanjutkan, pada prinsipnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pengangguran yang tinggi memang sesuatu yang paradoks. Karenanya yang dibutuhkan adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif, bukan sekedar angka metrik yang tidak memberi implikasi yang signifikan.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!