Pasang surut pendapatan UMKM juga dialami salah satu pemilik kios di kawasan depan kantor DPRD Malut. Uti namanya. Dia mengaku semasa Gubernur AGK, pendapatan yang diraup mereka di momen-momen tertentu bisa mencapai Rp 2 juta, sementara pada hari biasa berkisar di angka 300 hingga Rp 600 ribu.
“Di masa AGK pendapatan sangat bergantung pada momen besar yang diselenggarakan oleh Pemprov, mencapai Rp 2 juta lebih, sementara pada hari biasa hanya berkisar 300 hingga Rp 600 ribu, tergantung tanggal gajian pegawai,” ungkap Uti.
Di masa Gubernur Sherly Tjoanda saat ini, lanjutnya, meski belum ada kegiatan-kegiatan besar yang dilaksanakan di Sofifi, namun untung yang didapatkan mereka per hari tergolong fantastis. Itu karena rata-rata pengunjung adalah ASN dan kurangnya pesaing lain di lokasi ini. Praktisnya, situasi ini turut mendompleng omzet harian mereka. “Saya biasa buka dari jam 4 sore tutup jam 4 subuh, pendapatan mencapai Rp 1 juta lebih, itu di hari biasa,” ujarnya.
Kendati diperhadapkan dengan pasang surut dan berbagai tantangan, Ci Umi maupun para pelaku usaha UMKM di lokasi ini berharap ada perubahan signifikan terutama di kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda. Sebab, gairah UMKM tergantung kebijakan Gubernur Sherly memposisikan Kota Sofifi sebagai jantung ibukota Provinsi Maluku Utara. Dengan demikian maka geliat UMKM di Sofifi sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia. (RFJ//Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!