Meski demikian, komunitas tetap berkomitmen melanjutkan inisiatif ini secara mandiri. Mereka kini menggalang dana dari hasil penjualan produk-produk lokal seperti saloi, tikar, dan tolu yang dihasilkan dari aktivitas kreatif sanggar.
“Kami putuskan untuk mandiri, menjual produk lokal untuk mengumpulkan dana pembangunan. Memang memakan waktu, tapi target kami tahun ini proses pembangunan sudah bisa dimulai,” pungkasnya. (Mg02/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!