Rencananya, rumah adat Bangsaha tidak hanya akan menjadi simbol identitas budaya masyarakat Galela, namun juga difungsikan sebagai pusat studi dan perpustakaan literatur lokal. Hingga kini, komunitas sudah mengumpulkan sedikitnya 20 buku yang membahas sejarah dan budaya masyarakat Galela untuk mengisi perpustakaan tersebut.
“Saya telah menyiapkan sekitar 20 buku tentang masyarakat Galela. Kalau rumah Bangsaha ini berdiri, kami akan jadikan itu sebagai pusat literasi dan edukasi, terutama untuk siswa SD, SMP, SMA, dan para pemuda,” tambah Yadi.
Dukungan masyarakat setempat terhadap pembangunan rumah adat ini cukup kuat. Bahkan, warga Desa Mamuya telah menawarkan lahan untuk lokasi pembangunan. Sayangnya, keterbatasan dana membuat prosesnya masih tertunda.
“Masyarakat sudah sangat mendukung, dan lokasi pembangunan pun telah disiapkan. Tapi karena keterbatasan anggaran, kami belum bisa mulai membangun,” jelasnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!